jelas sudah, nurani jernih dan suri tauladan perilaku hidup sederhana sangat langka di negeri ini.
kesederhanaan memang sangat simple, lurus dan membosankan. justru karena itukah yang tidak menarik untuk dilakukan ? Sungguh saya prihatin. Ivan --- In [email protected], "widyawati" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rasanya saya marah sekali mendengar berita dan membaca komentar dari > berbagai ruang komentar di beberapa media. Saya melihat banyak orang > orang Indonesia yang sedang sakit dan selalu menggunakan justifikasi > agama! > Yang lebih mengagetkan lagi mayoritas komentar dari para lelaki dan > selalu mengacu ke berbagai literatur dan dasar dari agama islam > bahkan komentar yang masuk saya yakin mereka cukup mempnuyai > intelektual tinggi. Dengan komentar dari orang mempunyai kedudukan > tinggi dan berpengetahuan agama tinggi ini bisa menjadi dasar bagi > pihak lain melakukan hal yang sama. > > Omong kosong bahwa secara psikologis dan biologis anak yang notabene > dibawah umur (secara undang-undang di negara RI ataupun ketentuan di > negara manapun dilindungi) bisa menghadapi situasi dan kondisi > perkawinan yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang kuat. > Bahkan anda sendiri dapat melihat orang dewasa yang cukup matangpun > tidak bisa mengatasi masalah-masalah yang timbul dari pewrkawinan. > Kita sudah susah payah membuat perlindungan hak anak, eeh malah > segelintir orang yang berkedok agama berbuat hal yang mencoreng agama > itu sendiri. Omong kosong pula bagi anak usia dibawah umur bisa > melakukan haknya untuk hal seperti itu kecuali dituntun oleh orang > dewasa yang mengarahkan mereka kearah yang buruk ataupun baik. > Mana komentar dan tindakan kaum aktivis hak anak dan perempuan??? > Saya hanya melihat keberpihakan KOMNAS ANAK saja yang lain tidak.???? > > Anda bayangkan sendiri bila anda mempunyai anak dibawah umur kemudian > dinikahkan tanpa dia tahu apa yang dia lakukan sepertihalnya orang > dewasa melakukan hal itu, kemudian mengabaikan hak anak untuk > mengenyam pendidikan, bermain ataupun bersenanng-senang dengan teman > sebayanya bahkan dia harus menanggung beban psikis dan fisik yang > belum waktunya dia tanggung!!!!!!!!! Lalu hak apa yang anak ini > miliki kalau sudah dinikahi selain memenuhi hak orang yanag > menikahinya??? > > Alangkah nistanya kita...dengana membahayakan anak-anak generasi > penerus yang mungkin cemerlang kemudian ditutup hak lainya hanya > untuk kepuasan orang dewasa...Apa tidak ada lagi wanita-wanita yang > cukup dewasa untuk dinikahi, padahal secara statstik jumlah kaum > wanita dewasa sangat besar. > > Terus terang sebagai wanita untuk mewakili anak-anakku yang masih > dibawah umur saya miris melihat kondisi ini semua...dan sakit hati > saya melihat betapa besarnya "hak laki-laki untuk menguasai" yang > sebenarnya tidak harus menguasai hal yang tidak layak sebagai bagian > dari haknya!!!
