jika agama hanya di pakai sebagai alasan, begitulah kejadianya. bila agama di 
pakai sebagai spirit ?
berangkatlah dari spirit baru realita. bukan realita di larikan ke spirit. 
kalau kebalik jadinya pembenaran.


--- Pada Jum, 24/10/08, Radityo <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: Radityo <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: RE: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kiai Nikahi Bocah 12 Tahun
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 24 Oktober, 2008, 10:33 AM











            kita semua pasti mempunyai dasar pemikiran dalam bertindak. saya 
tidak

menyalahkan siapa-siapa karena masing-masing punya jalan dalam pemikiran

sendiri. begitu juga si kyai yang menikahi si gadis, begitu pun si gadis

yang mau untuk dinikahi.



ada baiknya kita melihat bagaimana pernikahan dalam Islam terjadi. sang

wanita harus setuju untuk dinikahi (menerima lamaran) dan dalam Islam pun

terdapat wali. apabila salah satu dari kedua pihak tersebut tidak setuju

maka pernikahan tersebut tidak dapat terjadi. oleh karena pernikahan itu

telah terjadi, maka kedua pihak (si gadis dan wali) pastilah telah setuju.

mengenai bagaimana hak-nya si gadis setelah pernikahan kita tidak dapat

membahasnya karena jujur saja kita tidak tahu benar bagaimana masalahnya

selain dari yang diceritakan. mungkin saja si gadis sudah siap dibanding

beberapa dari kita yang sudah bekerja, punya mobil, rumah, namun belum

sanggup memikul beban pernikahan.



Karena pernikahan adalah kegiatan dua arah atau dengan kata "saling", maka

coba kita cukup berkata dalam hati bila judul topik nya adalah " bocah 12

tahun menikahi seorang kyai ". apakah image kita masih sama seperti yang

kita bayangkan selama ini? mungkinkah justru sang bocah yang ingin dinikahi

oleh si kyai?





Wassalam,



Radityo Agung P.

Kirim email ke