Kalo pegawai diwajibkan masuk jam 6.30, jangan2 Bung Eric akan berdiri di baris pertama di antara para pendemo yang menentang kebijakan ini karena terusik jam tidurnya....;)
riyanto Sent from my BlackBerry� powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> Date: Tue, 25 Nov 2008 19:42:30 To: <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kalau PNS masuk jam 06.30 wib Ketua DPRD DKI mengusulkan gimana kalo PNS saja yang duisuruh masuk pagian sedang anak sekolah masuk siangan? Ternyata jumlah PNS di DKI nyaris sama banyak dengan jumlah anak sekolah. Kalo jumlah ini ditambah dengan karyawan swasta, maka niscaya jumlah karyawan/pekerja di DKI ini lebih besar daripada jumlah anak sekolah. � Kenapa tidak kaum kantoran ini saja yang disuruh masuk jam 6.30? Kalo soalnya adalah kemacetan lalu-lintas, maka semestinya mereka ini adalah faktor penyebab kemacetan yang lebih besar daripada siswa sekolah? � Kenapa anak sekolah yang disuruh masuk pagian? Tau nggak Anda jawabnya? Mau dihubungkan dengan kemacetan? Bukankah di atas kertas mestinya jumlah pekerja lebih banyak? Apa mereka ini berangkat kerja jalan kaki semua hingga tak bikin macet, gitu? Nah, cukup "smart" nggak kamu mengolah situasi ini untuk memahami di mana letak persoalannya? � Yang ngomong 3-in-1 bisa menyelesaikan kemacetan juga siapa? Saya? Anda lho yang usung-usung 3-in-1 di sini, not me. Jadi Anda saja yang jawab pertanyaan Anda sendiri. Saya sih nggak percaya sama 3-in-1. Oke? � Yang bikin saya marah (atau lebih tepatnya sedih) dengan kelompok manusia seperi Anda ini, Eric, adalah sikap egoisme yang dipamerkan secara telanjang. Kelompok orang seperti Anda ini yang bikin bangsa ini sulit bangkit dari kerusakan moralnya. Mengapa? Karena orang-orang seperti Anda adalah orang yang tak segan (bahkan bersorak-sorai) mendukung kebijakan yang menguntungkan diri dan kelompok Anda, tanpa peduli bahwa ada orang lain yang jadi korban kebijakan itu, dan mereka ini layak untuk dilindungi dari eksperimentasi pengausa degan peraturan yang tak pernah efektif dan tak kunjung habis. � Kalian ini sangat terobsesi dengan kepentingan diri sendiri, hingga bahkan empati pada kesulitan orang lain pun tak punya. Ini juga sebabnya kenapa bangsa ini butuh waktu sampai 30 tahun lebih untuk mengganti rejim yang nyata-nyata korup dan otoriter, sebab selalu ada kelompok orang seperti Anda ini yang bisa mengeduk keuntungan dari situ, meski korban di pihak-pihak lain yang tak sekaum dengan Anda sangat besar. � Dalam kebijakan, tidak ada yang namanya "kebetulan", seperti yang Anda tuliskan dalam posting Anda di bawah ini. Semuanya dibuat penuh kalkulasi untung-rugi (tentu dengan standar untung-rugi penguasa dan kroni-kroninya). Tentu saja dalam kalkulasi final, kelompok paling lemah dan rentan, tak bisa demo ke Balai Kota ata teriak-teriak di Senayan, atau bahkan di milis-milis, adalah ANAK-ANAK--sebuah sasaran empuk, bukan? � Dan Anda, bukannya terusik hati kecilnya, malah berpihak pada kebijakan yang tak berperi kemanusiaan ini sambil menuduh para orang tua yang prihatin dengan tudingan yang sangat tidak layak dan kejam. Memakai otak untuk berpikir itu baik, Bung. Tapi asahlah juga daya empati Anda pada kesulitan orang lain supaya otak Anda tidak berubah menjadi tuan yang memperbudak diri Anda. � manneke
