Jangan pernah mengira kalo semua PNS DKI tinggal di DKI, krn banyak dari mereka
yang tinggal jauh di luar wilayah DKI, sehingga ada guyonan mereka itu termasuk
'angkatan 45', berangkat jam empat, pulangnya jam lima. Kalo dimundurkan
rasanya lebih masuk akal, toh pada kenyataannya mereka baru bekerja setelah jam
8 .. :))
Jam masuk sekolah di DKI dimajukan 30 menit saya kira langkah yang cukup
arif. Bahkan saya sangat setuju apabila aturan ini diberlakukan secara nasional.
Selama ini anak2 yang beragama Islam (yang tentunya mayoritas), setelah
sholat subuh dan sarapan pagi, masih menunggu cukup lama. Bahkan tidak jarang
setelah sholat mereka nyempetin tidur lagi sebelum sarapan dan berangkat ke
sekolah.
salam,
joko
ps. pada masa saya sekolah dulu, beberapa bulan menjelang ujian, guru
menambah jam pelajaran ektra selama 30 menit sebelum jam masuk sekolah.
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ketua DPRD DKI mengusulkan gimana kalo PNS saja yang duisuruh masuk
pagian sedang anak sekolah masuk siangan? Ternyata jumlah PNS di DKI nyaris
sama banyak dengan jumlah anak sekolah. Kalo jumlah ini ditambah dengan
karyawan swasta, maka niscaya jumlah karyawan/pekerja di DKI ini lebih besar
daripada jumlah anak sekolah.
Kenapa tidak kaum kantoran ini saja yang disuruh masuk jam 6.30? Kalo soalnya
adalah kemacetan lalu-lintas, maka semestinya mereka ini adalah faktor penyebab
kemacetan yang lebih besar daripada siswa sekolah?
Kenapa anak sekolah yang disuruh masuk pagian? Tau nggak Anda jawabnya? Mau
dihubungkan dengan kemacetan? Bukankah di atas kertas mestinya jumlah pekerja
lebih banyak? Apa mereka ini berangkat kerja jalan kaki semua hingga tak bikin
macet, gitu? Nah, cukup "smart" nggak kamu mengolah situasi ini untuk memahami
di mana letak persoalannya?
Yang ngomong 3-in-1 bisa menyelesaikan kemacetan juga siapa? Saya? Anda lho
yang usung-usung 3-in-1 di sini, not me. Jadi Anda saja yang jawab pertanyaan
Anda sendiri. Saya sih nggak percaya sama 3-in-1. Oke?
Yang bikin saya marah (atau lebih tepatnya sedih) dengan kelompok manusia
seperi Anda ini, Eric, adalah sikap egoisme yang dipamerkan secara telanjang.
Kelompok orang seperti Anda ini yang bikin bangsa ini sulit bangkit dari
kerusakan moralnya. Mengapa? Karena orang-orang seperti Anda adalah orang yang
tak segan (bahkan bersorak-sorai) mendukung kebijakan yang menguntungkan diri
dan kelompok Anda, tanpa peduli bahwa ada orang lain yang jadi korban kebijakan
itu, dan mereka ini layak untuk dilindungi dari eksperimentasi pengausa degan
peraturan yang tak pernah efektif dan tak kunjung habis.
Kalian ini sangat terobsesi dengan kepentingan diri sendiri, hingga bahkan
empati pada kesulitan orang lain pun tak punya. Ini juga sebabnya kenapa bangsa
ini butuh waktu sampai 30 tahun lebih untuk mengganti rejim yang nyata-nyata
korup dan otoriter, sebab selalu ada kelompok orang seperti Anda ini yang bisa
mengeduk keuntungan dari situ, meski korban di pihak-pihak lain yang tak sekaum
dengan Anda sangat besar.
Dalam kebijakan, tidak ada yang namanya "kebetulan", seperti yang Anda tuliskan
dalam posting Anda di bawah ini. Semuanya dibuat penuh kalkulasi untung-rugi
(tentu dengan standar untung-rugi penguasa dan kroni-kroninya). Tentu saja
dalam kalkulasi final, kelompok paling lemah dan rentan, tak bisa demo ke Balai
Kota ata teriak-teriak di Senayan, atau bahkan di milis-milis, adalah
ANAK-ANAK--sebuah sasaran empuk, bukan?
Dan Anda, bukannya terusik hati kecilnya, malah berpihak pada kebijakan yang
tak berperi kemanusiaan ini sambil menuduh para orang tua yang prihatin dengan
tudingan yang sangat tidak layak dan kejam. Memakai otak untuk berpikir itu
baik, Bung. Tapi asahlah juga daya empati Anda pada kesulitan orang lain supaya
otak Anda tidak berubah menjadi tuan yang memperbudak diri Anda.
manneke