Memang yang penting
dalam suatu rencana adalah implementasinya. Kegagalan implementasi itu bisa
karena berbagai hal, antara lain factor dari luar dokumen rencana (misalnya
uang) atau masalah dalam rencana itu sendiri. Banyak rencana yang akhirnya
tidak aplikatif karena mengabaikan factor yang sangat penting, yaitu faktor
sosial.
Elemen utama suatu kota adalah manusia. Untuk itu rencana kota harus bertujuan
menciptakan
kota yang manusiawi.
�
Dari sini kita bisa
kembali kepada focus diskusi kita: kenapa DKI harus mengatasi masalah kemacetan
dengan solusi yang paling sederhana: mengorbankan anak sekolah? Betul, bhw
dalam suatu pembangunan pasti ada yang harus dikorbankan. Tapi tetap harus
dipikirkan
bagaimana agar efek yg timbul seminimal mungkin. Itulah gunanya pemerintah
harus berpikir keras, tidak hanya mengorbankan pihak yang lemah, yg relatif
tidak punya posisi tawar.
�
Jika kita berpikir
jika melaksanakan suatu langkah A maka hasilnya pasti B, itulah yg dinamakan
pola pikir linier. Meskipun untuk sampai pada keputusan menjalankan langkah A
itu telah menggunakan multiple agent modeling misalnya. Karena itu pembuatan
rencana tidak cukup hanya dng menggunakan analisis kuantitatif saja (meskipun
itu sudah merupakan multiple variant analysis). Yang lebih penting adalah
dengan memadukannya dengan analisis kualitatif. Inilah kelemahan pendidikan
ahli perencanaan tata ruang kita, tidak mengajarkan analisis kualitatif secara
mendalam. Dan di sinilah juga pentingnya intuisi dan kepekaan para pembuat
rencana, sehingga pada akhirnya mereka tidak bisa mendewakan teori.
�
Saya tidak menafikan
bahwa DKI tlh menerapkan bbrp langkah mencoba mengatasi kemacetan. Tapi saya
sudah pernah membahas 1 lagi kelemahan rencana adalah tidak bisa mengantisipasi
perkembangan. Rencana selalu kalah cepat dari perkembangannya riilnya. Misalnya,
apakah anda pikir kebijakan 3 in 1 memberikan hasil seperti yang diharapkan?
Kenyataannya
yang bertambah banyak adalah joki-joki yg keberadaannya juga turut memberikan
andil dlm kemacetan menjelang jalan protokol (meskipun saya pribadi berpikir
ada baiknya juga 3 in 1 yg memberikan lapangan pekerjaan bagi rakyat tdk
mampu).
�
Rayonisasi sekolah
memang sebaiknya dilakukan. Tapi sebelum itu harus ada standar pendidikan yg
merata dulu. Secara teori memang bisa dihitung, utk 1 kecamatan minimal ada 1
sekolah, misalnya. Tapi tetap saja ada yg harus dipertimbangkan, misalnya apakah
orang tua setuju di situ setuju dng kurikulum di sekolah di rayonnya? Atau
apakah
orang tua mampu membayar uang pangkal yg diminta sekolah itu? Atau apakah anak
mampu melampaui passing grade minimal untuk dapat diterima di sekolah itu? Atau
apakah anak yg lebih pintar dari anak lainnya harus bergabung dng mereka yang
berkemampuan rata-rata? FYI, ini salah 1 contoh berpikir non-linear.
�
Btw, saya menulis
panjang lebar ini hanya untuk menanggapi posting harya, tp saya lebih senang
kalau kita bisa kembali ke diskusi awal kita.
�
-rini-
�
Posted by:
"Harya Setyaka"�
[email protected]����
kokomarokosetyoko
Thu Dec 18, 2008 2:21
pm (PST)
Mba Rini,,
�
Pola transportasi
makro dibuat berdasarkan rencana tata ruang.
�
lagi-2 dua-duanya
adalah dokumen rencana, tidak menjamin implementasi. sy
pun kecewa dengan
keadaan ini.
�
Jadi Mba, kalau mau
selamat dari kemacetan, ya harus berangkat/mulai
aktifitas lebih awal.
Coba saja sbb:
Misal, rumah di Lebak
Bulus, kantor di Thamrin;
iterasi pertama
Berangkat dari rumah
dari jam 6, catat waktu tiba di kantor/tempat
beraktifitas rutin:
iterasi kedua
Berangkat jam 5.30,
catat waktu tiba di kantor.
bandingkan waktu
tempuh. (jarak sama)
tarik kesimpulannya
sendiri.
�
itu baru berpikir
secara linier.
�
secara non-linier;
melibatkan multi-agen (muliple agent modeling); strategi
optimal single-agen
ditentukan oleh strategi yg diambil oleh seluruh agen
secara kolektif.
�
Jadi, ketika semua
orang berangkat dari rumah jam 6 pagi sehingga jalan
mulai macet pada jam
7 pagi, mereka yg mau terbebas dari macet, ya berangkat
sebelum jam 6 pagi.
atur sendiri waktu bangun pagi nya.
kalau anda tidak mau
mengorbankan waktu bangun pagi anda, ya anda akan
terkena macet..
karena anda tidak
�
Pembatasan penggunaan
kendaraan sudah dilakukan dengan 3in1, dan akan
ditingkatkan dengan
congestion charging/ERP, dan tarif parkir progresif.
kewenangan pembatasan
produksi otomotif& penjualan kendaraan tidak dimiliki
gubernur.
kebijakan pembatasan
kendaraan pribadi sebenarnya tidak menunjukkan empati
bagi mereka yg
bersikeras menggunakan mobil/motor nya... tapi sy akui memang
sy lebih berempati
bagi mereka yg tidak mampu beli mobil/motor dan bagi
mereka yg mampu tapi
tetap mau naik angkutan umum.
membatasi produski
& penjualan otomotif tentunya berdampak pada mereka yg
bekerja di sektor
tsb.
�
Penataan angkutan
umum, sudah dimulai dengan busway.
memang tidak mudah
menata angkutan umum, karena pekerja di sektor itu pun
ternyata membutuhkan
solusi..
kalau ada ide
konkret, monggo lo...
�
Solusi paling efektif
utk menyelamatkan pelajar dari kemacetan (selain
home-schooling)
adalah menyekolahkan anak ke sekolah terdekat. Setahu saya
tiap kecamatan di
Jakarta sudah ada sekolah.
�
Secara pribadi, sy
lebih suka kalau pemprov DKI memperbaiki kualitas seluruh
sekolah sehingga
kualitasnya tinggi-merata.
Sehingga bukan hanya
menyelamatkan pelajar dari kemacetan..
Salam,
-K-
[Non-text portions of this message have been removed]