Seperti yang dikatakan oleh Mas Manneke, topik penelitian mhs itu tergantung 
bidang studinya.

Kebetulan saya tahu seorang professor di salah satu universitas top di Amerika, 
menurut beliau tidak ada keharusan bahwa mahasiswa asing harus melakukan 
penelitian ttg negaranya.

Berdasarkan pengalaman saya, yang sedang studi di bidang ilmu sosial, 
kebanyakan teman-teman asal Indonesia, tidak mempunyai "modal" untuk meneliti 
negara lain. Tentu saja, yang saya maksud dengan modal ini bukan masalah 
finansial atau bahwa mahasiswa Indonesia itu kurang pintar. Beberapa contoh 
dari teman saya orang Amerika mungkin bisa menerangkan lebih jelas apa yang 
saya maksudkan.

Ada seorang teman yang meneliti pendidikan di pesantren di Indonesia. Orang ini 
sudah mempersiapkan diri dengan belajar bahasa arab dan bahasa Indonesia.  
Teman lainnya yang hendak meneliti sejarah Tiongkok ternyata menguasai bahasa 
Mandarin. Dengan mengusaia bahasa-bahasa setempat, tentu akan mudah bagi mereka 
untuk melakukan penelitian di negara-negara yang mereka tuju.

Berbeda dengan mahasiswa Indonesia di sini (Amerika). Memang mereka menguasai 
bahasa Inggris, tetapi tidak banyak yang menguasai bahasa asing lainnya, 
sehingga tentu mereka akan mengalami kesulitan jika mereka meneliti di 
negara-negara lain. Seorang teman lulusan program studi S3 sejarah di satu 
universitas negeri terkemuka di Jawa menulis tentang Sejarah Tiongkok pada masa 
revolusi budaya (1966 - 1976), tetapi teman tersebut sama sekali tidka bisa 
berbahasa mandarin, sedangkan daftar pustaka yang dia baca hampir semuanya 
secondary sources semua. Tidak ada dalam bibliografinya itu dokumen-dokumen 
yang berbahasa Tionghoa. PAdahal bidangnya adalah sejarah Tiongkok. Hal ini 
sulit terjadi jika teman tersebut studi di Amerika. Minim dia harus bisa bahasa 
Mandarin secara pasif jika dia ingin meneliti Tiongkok.

Bisa saja mahasiswa Indonesia itu melakukan penelitian tentang Amerika, tapi 
ini lebih sulit daripada meneliti Indonesia.

Andreas.

--- In [email protected], "c_lusiani" <c_lusi...@...> wrote:
>
> Beberapa teman yang kuliah di Luar negeri memang kesulitan ketika akan 
> meneliti topik dengan fokus dan lokus di luar negeri, kemudian pilihan akhir 
> lebih banyak yang menulis tentang "dalam negeri" sendiri.
> Namun harus diingat, kesulitan ini berkaitan dengan apa? apakah memang sulit 
> mendapatkan data, sulit mengurus ijinnya, keterbatasan waktu atau hanya 
> kemalasan peneliti saja.
> Karena memang lebih mudah menulis tentang kondisi "dalam negeri" yang memang 
> sudah dialami, daripada harus pusing-pusing menulis yang memang tidak 
> diketahui.
> salam.
>
>
> > --- On Sat, 6/13/09, Priatna Dimas <priatnadimas@> wrote:
> >
> > From: Priatna Dimas <priatnadimas@>
> > Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Deplu Minta Waspadai Intelijen 
> > Pendidikan
> > To: [email protected]
> > Date: Saturday, June 13, 2009, 10:25 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >       Saya sering membaca buku tentang organisasi intelijen dan 
> > kegiatannya, mereka dalam merekrut seorang calon mata-mata sering 
> > memanfaatkan program belajar dengan iming-iming beasiswa dan tentunya yang 
> > diberikan �kepada mahasiswa yang berprestasi. ketika mereka para 
> > mahasiswa tersebut sudah �belajar di negara tujuan, para agen intelijen 
> > mulai melakukan aksinya dengan mendekati mahasiswa tersebut dengan 
> > iming-iming berbagai macam �fasilitas. setelah mahasiswa �menempuh 
> > study dan akan menulis disertasinya, mereka diarahkan untuk membuat 
> > penelitian di negara asal mahasiswa �tersebut.�Kalau deplu memberi 
> > peringataan sekarang, sebenarnya sudah terlambat karena kalau tidak salah 
> > saya juga pernah dengar dari teman saya bahwa setiap mahasiswa yang menulis 
> > disertasinya harus melakukan peneltian di negaranya sendiri dan ini 
> > dilakukan oleh PT di Austarlia. Kita sendiri sudah tahu bagaimana Australia 
> > memandang negara kita.�Kalau kita mau cermati banyak
> >  mahasiswa
> >
> >  lulusan dari luar negeri yang sudah menjadi antek atau mendukung kegiatan 
> > pencarian informasi tentang situasi dan politik negara kita. Saya hanya 
> > mengingatkan hati-hati dengan intervensi asing melalui politik, ekonomi, 
> > sosial, budaya dengan bantuan orang-orang kita yang ingin menjual negara 
> > ini demi satu dollar dengan menjadi agen mata-mata.� Wassalm�Priatna�


Kirim email ke