Soal integritas dan kebersihan moral...........
Dalam bahasa agama, keduanya adalah bagian dari yang disebut IMAN.
Nah, menurut saya, iman seseorang tidaklah stabil setiap waktu. Ada saja 
waktunya
turun dan naik. Dan, lebih susah mempertahankan "tingkatan" yang telah dicapai 
dari pada mencapai "tingkatan" tsb.
 
Misalkan ada seseorang yang terkenal korup dan akhirnya ia bertobat. Tentunya  
pasca pertobatan
tersebut IMANnya baik (baca integritas dan moralnya baik). Inilah yang mungkin 
tertangkap oleh tes
psikologi, sehingga ybs lulus. Siapa yang tahu kalau seseorang sudah bertobat? 
Dirinya sendiri khan..Bukan orang lain
 
Sebaliknya ada orang yang terkenal berintegritas baik, namun setelah 
mendapatkan cobaan,  integritas ybs
bisa menurun.  Misalnya karena kesal dengan kondisi kerja yang ada tanpa ada 
kompensasi yang sesuai.
 
Orang-orang yang dapat menjaga stabilitas IMAN-nya inilah yang sepatutnya 
dicari untuk KPPN-P.
Dan untuk itu, asesment secara psikologi harus dilakukan secara kontinyu, tidak 
hanya pada suatu titik tertentu.
 
 

________________________________

From: [email protected] on behalf of lafolweis
Sent: Sen 24/09/2007 9:39
To: [email protected]
Subject: [Forum Prima] Re: " karena nila setitik rusak susu sebelanga"



Buat mas Lukman Firdaus juga teman2 lain yang nggak lulus nggak usah
emosi. Saya bisa memahami bagaimana jengkelnya Anda, karena saya juga
sempat merasa seperti itu (tepatnya malu) setelah tahu suami saya
tidak lulus test prima ke-1. Tapi lama kelamaan kami mulai dengan
bermuhasabah bersama2. Apapun itu adalah takdir yang terbaik untuk
kami. Masalah kebersihan moral bisa diukur dengan test yang kemarin?
Terus terang saya benar2 tidak percaya. Contoh nyata ada seorang
pegawai yang lulus test padahal di kantor sudah terkenal suka minta2
bahkan beberapa teman seksi lain sampai merasa risih karena banyaknya
keluhan dari bendahara satker (dengar2 KK pernah dpt telpon Kabu
kanwil karena ulah si X sampai akhirnya X dipindah ke seksi lain)dan
satunya lagi menolak uang juga baru saja karena dipindah ke kantor
kami yang terpencil sehingga dia merasa kapok menerima uang panas (dia
cerita sendiri kalau sewaktu di kantor lama mau2 saja terma uang
begituan).
terus terang kami berdua (saya&suami) sjak awal bekerja insya Allah
tidak menerima uang begituan bahkan lembur fiktif yang menurut
beberapa pejabat adalah salah satu kebijakan dari kantor pusat untuk
menambah kesejahteraan pegawaipun tidak pernah kami terima. So, tidak
usah bersedih, mari kita ambil hikmahnya. Okey.



 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke