Beberapa waktu yang lalu di Detik.com, P Dirjen Pernah melontarkan ide mengenai Penyuluh Perbendaharaan dan Akuntansi (lihat berita di Detik Finance : ratusan pegawai depkeu jadi guru). Salah satu asumsi berdirinya KPPN-P adalah satker-satker yang juga prima. Pengalaman menunjukkan banyak satker yang masih "bingung" dalam mengajukan SPM maupun saat rekonsiliasi data. "Kebingungan" ini, memberikan kesempatan bagi suburnya budaya "uang terima Kasih". Pelayanan, konsultasi yang diberikan, tidak tulus, ada pamrihnya. Banyak satker yang mengeluh dengan sistem KPPN-P. Mengapa? Karena kebanyakan SPM mereka lebih sering ditolak dibandingkan dahulu dengan pola lama. Mungkin juga karena mereka tak dapat lagi "menjual" nama KPPN. Untuk mewujudkan satker prima sekaligus membersihkan citra KPPN-P, penyuluhan sangat mendesak untuk dilaksanakan..... Mungkin ini adalah salah satu solusi pekerjaan bagi teman-teman yang "tergusur" oleh sistem KPPN-P. Setuju dengan komentar terdahulu, teman-teman tsb tergusur bukan hanya karena tidak lulus tes, namun lebih karena ybs sudah tua dan tidak berkesempatan mengikuti tes peg KPPN-P tingkat pelaksana. Banyak diantara mereka yang mempunyai pengetahuan yang baik di bidang perbendaharaan maupun akuntasi. Bukankah dahulu mereka juga "guru" dari para lulusan D1 / D3 / S1 yang masih "hijau". Mengapa tidak dimanfaatkan? Kita tunggu realisasi dari ide ini.
[Non-text portions of this message have been removed]
