Dear NS, Ambar & temans,
Alhamdulillah, selama ini saya ngga pernah mengalami kejutan budaya, justru malah sempat "kaget" waktu pertama kali liburan sekeluarga di Bali, kebetulan kami ingin menghabiskan akhir tahun 1999 di sana. Dan sayangnya karena mengalami kejadiaan yang kurang menyenangkan dari pihak hotel (saya dan kakak2 serta ibu saya diperlakukan lain dengan bule2 di sana termasuk dengan keluarga kakak yg suaminya bule) dan dicurangi oleh karyawan money changer. Kami langsung pindah ke Yogya, karena kota ini serasa rumah ke2 kami dan org2nya sgt rendah hati dan welcome ke semua org sekalipun turis domestik. Sejak saat itu saya memutuskan tidak akan menginjakkan kaki ke Bali lagi, cuma ternyata setelah peristiwa Bali Bombing I, pelaku pariwisata Bali mulai berubah ramah pula ke turis domestik, akhirnya sumpah saya di thn 2001 saya cabut. Sedikit tentang Paris atau pun kota yg dijadikan obyek / destinasi wisata, apa pun keindahan yang dibeberkan di brosur, kota tetaplah kota, dengan segala hiruk pikuk kesibukan dan permasalahannya. Kebetulan saya pernah stay beberapa waktu di PAris, tepatnya sih di pinggiran Paris, di tempat kakak. 3 hari cukup merayakan indahnya hidup sbg turis, ttp stlh itu saya bisa melihat kehidupan "asli" seperti warga paris lainnya, yg disebut "les Parisiens". Mereka sesungguhnya sangat jengah dengan pelabelan Paris sebagai kota romantis, kota cinta dll, entah itu di Novel, film atau lagu. Les Parisiens mempunyai moto / siklus hidup :"metro-boulot-dodo" yang artinya : pagi2 berangkat mengejar Metro ke kantor, boulot = kerja, dodo= sampai rumah makan malam dan tidur untuk menyiapkan hari esok (tdk ada keriaan menunggu macet di kafe2 spt warga JKT :-) Kalau mereka cuek saat anda bertanya dalam bahasa Inggris, itu bukan karena faktor sombong saja, ttp krn mereka benar2 tidak bisa bhs Inggris. tetapi pada intinya sih, menurut pendapat saya pribadi, entah mau ke tempat manapun kita, jangan terlalu berharap, & seperti kata pepatah, di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung (eh benar ngga ya?), toh selama ini saat saya butuh bantuan, selalu saja ada orang asing yang berbaik hati mau menolong saya, dan selalu percaya instinct, membedakan orang yg benar2 baik dan yg punya niat lain (saya pernah "polos" menanggapi "pimp" di red light district, ditraktir makan 2 x di daerah damrak, dan nonton film, ttp saat saya mulai merasakan gelagat aneh, saya memutuskan untuk cepat2 memisahkan diri dari org ini, dan terpaksa hrs memutar di belakang magna plaza ke jl spuistraat hanya untuk sampai ke penginapan di Jl NZ voorburgwaal). Untuk perempuan Indonesia, hati2 kalau ada cowok eropa ganteng yg tiba2 baik, jangan2 dia kaki tangan "woman trafficking" di sana (coba deh lihat film Taken). Salam, Sh Voir la vie en rose http://oceanebleue.multipy.com http://www.facebook.com/sarihmusdar > To: [email protected]; [email protected] > From: [email protected] > Date: Wed, 3 Feb 2010 23:31:24 +0000 > Subject: Re: [indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya? > > Saya punya pengalaman demikian, tetapi bukan dalam rangka jalan-jalan atau > berwisata. > > Saya dan seorang teman ketika tamat SMA berencana melanjutkan kuliah di > Jakarta. > > Di Jakarta ini kami berdua ditipu oleh sopir bajaj, dicuekin oleh orang yg > kami tanyai mengenai bus yg harus ditumpangi, ditipu oleh kondektur > metromini/kopaja mengenai jurusan yg kami naiki, bus yang kami tumpangi > tiba-tiba berhenti di tengah jalan dan memindahkan penumpang seenaknya. > > Ini semua terjadi dalam satu hari ketika kami bermaksud pulang ke daerah > Cengkareng ke Sunter (yg kali nya membuat kami mabok). > > Dari situ saya langsung membuat keputusan untuk membatalkan kuliah di Jakarta > dan memilih Bandung sebagai gantinya. > > Dan memang ketika di Bandung temanku terkesan sekali dengan keramahan > penduduknya. Turun dari angkutan umum membawa koper besar, dia dibantu > penduduk setempat yang membawakan barangnya ketika menanyakan alamat. > > Nah.. Waktu itu saya mengalami gegar budaya di Jakarta sehingga di kepala > saya terbersit tidak ingin kuliah bahkan bekerja di Jakarta. Saya bahkan > bertekad tidak akan mau naik bajaj lagi. Hehehe..! > > Ketika suatu hari saya memutuskan berhenti kerja di Bandung dan mencari > pekerjaan di Jakarta, orang tua saya sangat heran. Tetapi saya bilang saya > sudah siap mental. > > Dan setelah 7 tahun tinggal di Jakarta ternyata tidak seburuk anggapan saya > dolo. Mungkin memang karena ekspektasi saya dulu itu penduduk Jakarta sama > ramahnya dengan di daerah dan ternyata mereka cukup sibuk untuk itu. > > > > -nirwana- > > > > Sent from my Blueberry Cheeze® smartphone _________________________________________________________________ Votre messagerie et bien plus où que vous soyez. Passez à Windows Live Hotmail, c'est gratuit ! https://signup.live.com/signup.aspx?id=60969 [Non-text portions of this message have been removed]
