---------- Forwarded message ----------
From: <[email protected]>
Date: 2010/2/3
Subject: Re: [indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya?



Pengalaman buruk saya justru waktu travelling ke pulau samosir. Mulai dari
menunggu kapal udah dapet petugas yang acuh tak acuh, tapi ketika tiba di
samosir, ternyata semua orang yang ada disitu modelnya juga begitu.

Petugas hotel tempat saya menginap. Juga petugas hotel sebelah hotel saya
(sempat terpikir utk pindah hotel), ternyata juga sama tidak ramahnya. Trus,
waktu makan di cafe pinggir jalan. Belum lagi air danau yang joroknya
amit-amit. Mau berenang pun (biarpun di pinggir) jadi serem sendiri. Bahkan
bule tetangga kamar saya pun serem juga. Jalanan yang ga bersih, penduduk yg
ga ramah, air danau yg mengerikan, fasilitas yg harus bayar bintang empat,
tp ternyata kelasnya cm bintang satu membuat saya dan beberapa teman (juga
bule2 tetangga kamar) menjadi kecewa. Meski pemandangan perbukitan itu indah
banget, tp kalau udah nunduk liat airnya, hiiiii.....

Belum lagi, waktu pesan makanan. Selama 2 hari itu, saya makan siang dan
makan malam di 4 tempat berbeda. Dan satupun ga ada yg melayani dan
menyediakan makanan yang sesuai dgn harganya. Untuk memesan mie goreng, saya
harus menunggu 1 jam lebih. Hanya utk melihat ketika mie gorengnya keluar,
itu adalah satu bungkus indomie yg dimasak lagi. Harganya 28 ribu pula! Eneg
buanget!

Makan malam saya, kari ayam (karena pengen makan nasi). Kali itu, saya harus
menunggu hampir 2 jam! Hasilnya? Sepotong dada ayam yang dikari (ala medan),
dan harganya 42 ribu! Ggrrrr.... Waktu menunggu itu saya sdh mau ninggalin
resto. Tp ga enak n kasihan juga kalo ternyata udah dimasak. Ga ada org yg
bisa ditanyain krn yg jualan itu ternyata juga yg masak. Haiihh....

Belum lagi, para calo2 angkot di dermaga menuju samosir itu suka colek2.
Kalau cuma teriak2 nawarin angkotnya aja sih gapapa. Colek2nya itu yg
ngeselin.

Mungkin faktor2 yg saya alami itulah juga yg membuat samosir kini menjadi
sepi. Org2 kebanyakan hanya berkunjung pulang hari saja.

Lebih malu lagi, ketika bule tetangga kamar ngikut pulang bareng saya dan
teman2. Akhirnya carter mobil kijang menuju medan (tp berhenti di siantar
dulu), cara nyetirnya nggak manusiawi. Dan sepanjang jalan, org2 bule itu
ngoceh2 soal betapa sayangnya fasilitas di samosir. Kalau dikelola baik
tentu lebih menyenangkan. Saya dan teman2 hanya bisa iya-iya saja, hehehe...
Abis emang bener sih. Pelancong domestik saja kecewa :p

Saran saya kalau mau ke samosir (berdasarkan pengalaman):
- siap2 habis uang 'agak lebih' untuk makanan. Lebih baik bawa makanan
sendiri deh.
- siap2 mabok di jalanan.
- tidak dianjurkan untuk berenang di pinggir danau. Selain dasarnya tidak
terlihat (padahal ternyata pinggir danaunya nggak terlalu dlm), banyak
rumput laut yg berpotensi melilit kaki.

Liz

Powered by Telkomsel BlackBerry®
------------------------------
*From: * Ambar Briastuti <[email protected]>
*Date: *Wed, 3 Feb 2010 10:57:54 -0800
*To: *Indobackpacker Groups [email protected]<
[email protected]>
*Subject: *[indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya?



Dear kawan-kawan IBP,

Alkisah sindrom ini terjadi pada turis Jepang yang melancong ke
Paris, Perancis. Ini adalah gejala psikologis ketika si turis merasa
kejutan budaya terlalu besar untuk diterima. Ia akan merasa tersisih,
agitasi dan terkadang mengalami gejala fisik seperti pusing,
berkeringat dingin dan capek secara ekstrem. Sindrom ini menjadi
terkenal sebagai contoh ketidakmampuan traveller menghadapi
ekspektasi yang terlalu tinggi pada destinasi. Tempat yang akan kita
datangi digambarkan sempurna, penuh keindahan dan kebaikan. Tetapi
kemudian menghadapi kenyataan: penduduk Paris yang tidak bersahabat,
tidak mau berbahasa inggris, perbedaan kultur yang terlalu besar,
ataupun terlalu capek untuk menhisap aura sebuah kota. Membuat
pengunjung Jepang harus dipulangkan sebelum saatnya, karena tidak
tahan dengan kondisi ini.

Well, walau belum pernah kejadian begini saya tertarik untuk mencari
tahu ketika seorang kawan bercerita sehabis mengunjungi sebuah kota
yang membuatnya kecewa berat. Kotor, jijik, makanan ngga enak etc
membuat saya tertarik pengen mendengar pengalaman teman-teman.
Pernahkah mengunjungi tempat dan merasakan sindrom ini? Tidak musti
Paris, London, Singapura. Tetapi bisa jadi Jakarta, Surabaya,
Jayapura ataupun tempat yang kita tidak familiar.

Benarkah ekspektasi yang terlalu besar membuat kita tidak nyaman?
apakah ini menghentikan kita untuk 'menjelajahi' kota? apakah
'culture shock' atau kejut budaya adalah sumbernya?

Pendapat dan sharing ditunggu.

More about
Paris Syndrome: http://en.wikipedia.org/wiki/Paris_syndrome
Culture Shock: http://en.wikipedia.org/wiki/Culture_shock

Salam,
ambar


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke