ikutan komentar ah.....
setuju, tiap tempat ada kelebihan dan kekurangan masing2....
aku jg suka mengunjungi tempat2 baru, dan kalaupun tempat itu dibilang jorok, 
miskin, dll atau bahkan bagus, bersih atau apalah....pokoke semua merupakan 
eksperience tersendiri. yang penting memang harus tau dulu kira2 spt 
apa....kalau si a bilang bagus, itu kan pendapat si a, tapi gunakan kacamata 
kita sendiri menilai suatu tempat.
jadi kalau kita kasih info ke orang lainpun kita bisa bilang...menurut saya sih 
begini, tapi ada yg berpendapat gitu, semua bebas berpendapat kok.....tapi 
bagaimana bisa menilai kalau gak mengalaminya sendiri.

mungkin benar gak usah pasang ekspetasi terlalu tinggi....yg penting enjoy aja 
lah.
kalau pas lagi bosan, ya mungkin kebetulan aja moodnya gak nemu.
tempat yg biasa2 aja jg bisa jadi menarik kalau memang diisi kegiatan yg 
menarik atau mungkin sama teman jalan yg asik, so kenapa tidak dicoba?

Lily




________________________________
From: ade <[email protected]>
To: "Indobackpacker Groups [email protected]" 
<[email protected]>; Ambar Briastuti <[email protected]>
Sent: Thu, February 4, 2010 10:16:58 AM
Subject: Bls: [indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya?

 
Dear Mbak Ambar and all,

Ikut sharing juga ya. Kalau saya sendiri, alhamdulillah belum pernah mengalami 
yang segawat itu. Bukan berarti semua perjalanan saya lancar, mulus tanpa cela 
ya, tapi.... sejauh ini masih sangat bisa di atasi. Mungkin juga karena saya 
tergolong orang yang tidak menaruh harapan terlalu tinggi terhadap sesuatu, 
tidak menetapkan target2 tertentu ketika mengunjungi suatu tempat dan juga 
berusaha memulai perjalanan dengan mood yang baik. Kata anak saya, "memulai 
perjalanan dengan riang gembira" hehehe...
 
Nah, saya pengen cerita tentang beberapa keluhan teman saya yang mungkin 
mewakili sindrom itu.

Suatu ketika seorang teman datang dengan muka ditekuk, "Dek, bohong lu. apa 
bagusnya Larantuka! Di sana pantainya biasa aja, penginapan jorok dan sewa boat 
juga mahalnya amit2. trus yang paling menyedihkan itu, orangnya kasar... bla. 
..bla...bla. ...". Dia kesal sekali karena sebulan sebelumnya dengan menggebu2 
saya menceritakan betapa cantiknya Larantuka. Pantainya indah, penginapan murah 
dan di sana saya juga bertemu dengan penduduk yang ramah. Saya tidak bohong 
ketika menceritakan itu, karena memang itu yang saya rasakan. sebaliknya, kawan 
saya juga barangkali benar, karena begitulah yang ia rasakan.

Kirim email ke