Dear Mbak Ambar and all, Ikut sharing juga ya. Kalau saya sendiri, alhamdulillah belum pernah mengalami yang segawat itu. Bukan berarti semua perjalanan saya lancar, mulus tanpa cela ya, tapi.... sejauh ini masih sangat bisa di atasi. Mungkin juga karena saya tergolong orang yang tidak menaruh harapan terlalu tinggi terhadap sesuatu, tidak menetapkan target2 tertentu ketika mengunjungi suatu tempat dan juga berusaha memulai perjalanan dengan mood yang baik. Kata anak saya, "memulai perjalanan dengan riang gembira" hehehe... � Nah, saya pengen cerita tentang beberapa keluhan teman saya yang mungkin mewakili sindrom itu.
Suatu ketika seorang teman datang dengan muka ditekuk, "Dek, bohong lu. apa bagusnya Larantuka! Di sana pantainya biasa aja, penginapan jorok dan sewa boat juga mahalnya amit2. trus yang paling menyedihkan itu, orangnya kasar...�bla...bla...bla....". Dia kesal sekali karena sebulan sebelumnya dengan menggebu2 saya menceritakan betapa cantiknya Larantuka. Pantainya indah, penginapan murah dan di sana saya juga bertemu dengan penduduk yang ramah. Saya tidak bohong ketika menceritakan itu, karena memang itu yang saya rasakan. sebaliknya, kawan saya juga barangkali benar, karena begitulah yang ia rasakan. Teman yang lain juga pernah terheran-heran melihat saya yang berbinar2 melihat hamparan laut biru dalam perjalanan panjang 18 jam, dari Manado ke Melonguane (Kepulauan Talaud). Teman saya bilang, "Dek.... sudah hampir sepuluh jam kita terdampar di laut. Aku sudah mau mati karena bosan, kamu kok masih saja menatap takjub ke laut begitu. Kamu lihat apa sih?". Hehehe, saya juga tidak tahu mengapa. Teman saya bisa saja bosan melihat laut...laut..laut, tapi saya kegirangan melihat gugusan pulau2 kecil yang timbul tenggelam. Kadang hanya tampak berupa titik-titik...kemudian saya menunggu dengan sabar sampai pulau-pulau itu mendekat, semakin besar, semakin jelas sampai akhirnya berpapasan dan akhirnya jauh tertinggal di belakang. Fantastik. � Saya juga ingat reaksi teman saya yang baru pulang dari Hanoi. kebetulan ia ke sana juga salah satunya karena "kompor" dari saya. "Yang bagus cuma Halong Bay! Hanoi berdebu dan semrawut, apalagi motornya iiiih.... Trus wayang air yang kata kamu bagus. Boring, aku sampe ketiduran, tau..." Suatu ketika saya dan seorang teman sama-sama menceritakan pengalaman kena tipu sopir tuktuk di Bangkok. Teman saya bilang, "Yang paling nyebelin di Bangkok itu sopir tuk tuknya. Bikin kapok! Gila... masa kita dipaksa masuk ke toko permata, butik sutra dll, padahal penampilan kita gembel begini. Yang ada kita malah jadi tontonan." Nah saya bilang begini, "Iya, hahaha.... lucu deh Na. Kalau aku, ya.... sampai 4 kali masuk ke toko permata, celingak celinguk, pura-pura lihat, nanya-nanya ke mbaknya, terus nggeloyor keluar lagi. Emang ngeselin sih tuktuk... tapi kalo dipikir2 untung juga lho Na, kita bisa muterin bangkok dengan hanya 50 Baht."� � Teman saya cemberut, "Kok malah ketawa sih, apanya yang lucu?" Hmmm, sudut pandang seseorang dalam menyikapi sesuatu memang tidak sama. � Bukan sekali dua kali teman saya menjerit ketika tau saya akan mengunjungi suatu tempat. "Hah, Sri Lanka? Mau lihat apaaaa?? Laos?? astaga... itu kan negara miskin dek. Masih bagusan juga negeri sendiri bla..bla...bla...". Yup, Saya mengerti, beberapa teman mungkin punya harapan tinggi ketika ingin mengunjungi tempat baru. Masa iya sih sudah keluar ongkos kok melihat yang lebih jelek dari negerinya sendiri. Paling tidak, tempat itu harus lebih indah, punya banyak tempat menarik yang lebih banyak, lebih maju, masyarakatnya ramah dan helpful, penginapan bersih dan murah, makanan enak dan juga murah dan hal-hal baik lainnya.� Tapi, masa iya harus seperti itu? Memangnya ada tempat sempurna seperti itu? Bukankah di setiap tempat selalu ada dua kutup itu? Ada yang ramah, ada yang jutek (mungkin juga pas kita nanya dia lagi kesusahan atau lagi banyak kerjaan hehe..), ada yang bagus ada yang biasa aja, sekali waktu dapat warung yang enak dan murah, kali lain dapat yang --sudah mahal nggak enak pula....� Jamak bukan? � Saya kadang mungkin juga tergolong rada ekstrim. Karena prinsip saya, semua tempat baru pasti menarik. Pasti ada sesuatu yang berbeda untuk diamati. Itu sebabnya, mengunjungi tempat baru di manapun (baik di dalam negeri maupun di luar) selalu dengan derajat ketakjuban yang sama. Ketika kunjungan kedua atau ketiga, derajat itu mulai berkurang. � � Eeeh, kok jadi panjang... Intinya, ketika berniat melakukan perjalanan, sebaiknya memang tak perlu mematok harapan terlalu tinggi. Yang ada nanti malah kecewa, kesal, dan sisa perjalanan menjadi menyebalkan. Sayang kan..... Jadi tips saya (padahal mbak ambar nggak minta hehe), kalau kita mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, jangan pikirkan berlarut-larut, anggap itu adalah bagian yang "seru" dalam perjalanan. Sejak semula musti disadari bahwa ketika mengunjungi tempat baru pasti ada perbedaan, entah cuaca, bahasa, budaya, modus kriminalitas dll, jadi mental harus betul2 disiapkan. Terkejut pasti ada, tapi reaksi kita terhadap kejutan budaya itu mestinya bisa diantisipasi.� Membaca bukunya Agustinus Wibowo, kita akan belajar banyaaaaak sekali tentang bagaimana "menikmati" perjalanan, sepahit apapun.... Saya juga banyak bekajar dari teman-teman milis melalui catpernya yang seru-seru.... Salam... (asli, panjang bener ini hehe...) ade www.adesiti.multiply.com www.traveldrift.blogspot.com --- Pada Rab, 3/2/10, Ambar Briastuti <[email protected]> menulis: Dari: Ambar Briastuti <[email protected]> Judul: [indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya? Kepada: "Indobackpacker Groups [email protected]" <[email protected]> Tanggal: Rabu, 3 Februari, 2010, 10:57 AM Benarkah ekspektasi yang terlalu besar membuat kita tidak nyaman? apakah ini menghentikan kita untuk 'menjelajahi' kota? apakah 'culture shock' atau kejut budaya adalah sumbernya? Pendapat dan sharing ditunggu. More about Paris Syndrome: http://en.wikipedia .org/wiki/ Paris_syndrome Culture Shock: http://en.wikipedia .org/wiki/ Culture_shock Salam, ambar
