Mau share sedikit. Saya belum pernah sih ngalamin ampe halusinasi,
keringat dingin, merasa sebagai tertuduh dlsb ketika lagi jalan-jalan
ke daerah baru. Menurut saya Paris Syndrome itu tidak bisa dilihat
terjadi karena faktor jalan-jalannya saja, Paris Syndrome dapat dialami
bila seseorang sudah punya pre-existing condition (seperti tingkat
ketahanan stress yang berbeda, tingkat kemampuan adpatasi yang berbeda,
tempat/kondisi/makanan yang baru/asing mengingatkan dengan pengalaman
traumatis yang terdahulu dlsb) dan/atau tergantung pada  kondisi
psikologis sso pada saat berjalan-jalan (misalnya: baru aja kecopetan
di tempat asing, terus kehilangan peta, desak-desakan di kereta dan
ketinggalan kereta terakhir dan akhirnya stress semakin menumpuk dan
akhirnya makin bete). Kita semua kan tahu, bahwa stres bisa terjadi di
mana aja, kapan aja dan ke siapa aja.



Saran saya sih, untuk para indobackpackers, harapan boleh saja tinggi,
tapi perlu diimbangi juga dengan kesiapan kita menghadapi stres. Kita
masing-masing pasti punya kiat khusus untuk memanajemeni stress, dan
kalo lagi jalan-jalan kiat-kiat itu pun tetap perlu dibawa dan
diadaptasi dengan kondisi sewaktu jalan2. Mungkin ada orang yang suka
menurunkan tingkat stress dengan baca buku/komik (oyah, kalo lagi
jalan2 saya merasa sangat berguna sekali bawa buku doraemon yg
berbahasa Indonesia, minimal untuk take a break dari penggunaan bahasa
asing terus menerus), bikin sketsa/gambar2 dari tempat-tempat yang
dikunjungi, denger musik, makan es krim, nguber suvenir dlsb.



Atau kalo udah merasa kewalahan dengan stres pada saat jalan-jalan,
ambil waktu sebentar sekitar 10-20 menit untuk relaksasi ringan. Kalo
penginapan memungkinkan untuk meditasi, silakan dijalani. Atau ada
orang yang suka dengan visualisasi tempat indah dan nyaman. Ber-taichi,
yoga juga bisa membantu meredakan ketegangan.



Yang penting adalah untuk temen-temen juga mengenali diri sendiri,
mengenali gejala-gejala kebeteannya sehingga tahu batas ketahanan dari
diri kita sendiri. Ga usah terlalu ngoyo harus lihat ini itu padahal
sebetulnya di dalem udah stress. Kan sayang aja duit udah dipake buat
jalan-jalan, tapi pas ngejalaninnya ga fun dan pulang dengan membawa
kesan ga enak.



Be a smart traveler dan semoga jalan-jalannya tetap menyenangkan dan tidak 
menjadi pengalaman yang traumatis dan bikin kapok.



best regards,

venus

--- On Thu, 2/4/10, ade <[email protected]> wrote:

From: ade <[email protected]>
Subject: Bls: [indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya?
To: "Indobackpacker Groups [email protected]" 
<[email protected]>, "Ambar Briastuti" <[email protected]>
Date: Thursday, February 4, 2010, 11:16 AM







 









      Dear Mbak Ambar and all,



Ikut sharing juga ya. Kalau saya sendiri, alhamdulillah belum pernah mengalami 
yang segawat itu. Bukan berarti semua perjalanan saya lancar, mulus tanpa cela 
ya, tapi.... sejauh ini masih sangat bisa di atasi. Mungkin juga karena saya 
tergolong orang yang tidak menaruh harapan terlalu tinggi terhadap sesuatu, 
tidak menetapkan target2 tertentu ketika mengunjungi suatu tempat dan juga 
berusaha memulai perjalanan dengan mood yang baik. Kata anak saya, "memulai 
perjalanan dengan riang gembira" hehehe...

 

Nah, saya pengen cerita tentang beberapa keluhan teman saya yang mungkin 
mewakili sindrom itu.



Suatu ketika seorang teman datang dengan muka ditekuk, "Dek, bohong lu. apa 
bagusnya Larantuka! Di sana pantainya biasa aja, penginapan jorok dan sewa boat 
juga mahalnya amit2. trus yang paling menyedihkan itu, orangnya kasar... bla. 
..bla...bla. ...". Dia kesal sekali karena sebulan sebelumnya dengan menggebu2 
saya menceritakan betapa cantiknya Larantuka. Pantainya indah, penginapan murah 
dan di sana saya juga bertemu dengan penduduk yang ramah. Saya tidak bohong 
ketika menceritakan itu, karena memang itu yang saya rasakan. sebaliknya, kawan 
saya juga barangkali benar, karena begitulah yang ia rasakan.



Teman yang lain juga pernah terheran-heran melihat saya yang berbinar2 melihat 
hamparan laut biru dalam perjalanan panjang 18 jam, dari Manado ke Melonguane 
(Kepulauan Talaud). Teman saya bilang, "Dek.... sudah hampir sepuluh jam kita 
terdampar di laut. Aku sudah mau mati karena bosan, kamu kok masih saja menatap 
takjub ke laut begitu. Kamu lihat apa sih?". Hehehe, saya juga tidak tahu 
mengapa. Teman saya bisa saja bosan melihat laut...laut. .laut, tapi saya 
kegirangan melihat gugusan pulau2 kecil yang timbul tenggelam. Kadang hanya 
tampak berupa titik-titik. ..kemudian saya menunggu dengan sabar sampai 
pulau-pulau itu mendekat, semakin besar, semakin jelas sampai akhirnya 
berpapasan dan akhirnya jauh tertinggal di belakang. Fantastik.

 

Saya juga ingat reaksi teman saya yang baru pulang dari Hanoi. kebetulan ia ke 
sana juga salah satunya karena "kompor" dari saya. "Yang bagus cuma Halong Bay! 
Hanoi berdebu dan semrawut, apalagi motornya iiiih.... Trus wayang air yang 
kata kamu bagus. Boring, aku sampe ketiduran, tau..."

Kirim email ke