Guru (sisi yang lain)

Guru adalah sebuah profesi, artinya, seseorang boleh
memilih, jadi guru atau jadi yang lain. Guru menjadi
sebuah profesi yang dimuliakan, karena banyak orang
(jadi) pinter karena merasa dibimbing oleh sang guru.
Lalu mereka menyebutnya 'pahlawan', yang
diembel-embeli 'tanpa tanda jasa'. Ini sekedar
mengalihkan perhatian, agar yang bersangkutan, bekas
murid, tak harus merasa memberi imbal jasa.

Sebenarnya, untuk jadi pintar, tak semata butuh
pelajaran dari guru itu. Mereka juga butuh makan, agar
perut tak berisik ketika belajar. Mengapa ia tak harus
berterimakasih kepada pak dan mbok bon, penjual ketan
urap yang berkenan dipakainya sarapan ketika pagi-pagi
datang ke sekolah? Kenapa pula ia tak berterimakasih
kepada sopir bemo, yang tahu persis kalau ia harus
ngebut takut telatkan penumpangnya ?

Jadi, sebagai sebuah profesi, semuanya punya
unsur-unsur yang sama. Pekerjaan menjadi guru bukanlah
takdir yang tak bisa dihindari. Sehingga, meski
menurut cerita-cerita halus disebutkan guru
benar-benar bisa digugu dan ditiru (oleh sebab itu
disebut guru) maka salah satu cerita Tigun
menunjukkan, bahwa guru masih manusia juga adanya.

Sebagai profesi, maka ada hak dan tanggungjawab,
selain benefit maupun resikonya. Cerita mengenai gaji
guru yang kecil, itu kan sudah merata dan semua tahu
(meski ada yang tak percaya, sebab tak sedikit dari
mereka yang punya mobil dan rumah lumayan bagus).
Jadi, mengapa mereka memilih jadi guru? Masih
percayakah kita bahwa itu sebagai suatu panggilan
nuraninya?

Tak sedikit profesi yang pendapatannya lebih rendah
dari guru. Dengan begitu soal penghasilan bukan alasan
sah untuk membenarkan demo mereka. Bahkan, dengan
meneken kontrak sebagai guru, sebenarnya mereka sudah
meneken sebuah tanggungjawab di urusan layanan umum,
dengan para 'pelanggan'-nya yang terdiri dari para
orang tua, yang mempercayakan anak-anaknya untuk
memperoleh pelajaran. Dengan mereka meninggalkan
kelas, bahkan memboikot ebtanas, maka yang
bersangkutan sudah menodai janji dalam kontraknya
sebagai pemberi layanan umum.

Dengan mogok dan demonya, serta berbagai ancaman yang
mereka lakukan, maka kalau ditarik lebih jauh, dan
mencari padanannya, kita sama saja dengan ketemu sama
BPPC yang memonopoli cengkeh waktu itu. Mau dinaikkan
harganya jadi berapa saja oka-oke. Mau beli sak
murah-murahnya cengkeh petani, juga mau apa koen. Guru
adalah pemegang monopoli di urusan sertifikasi
pendidikan.

LIhatlah salah satu 'senjata' yang mereka todongkan,
mengenai bagaimana profesi guru tak layak
disembarangkalirkan, yaitu 'sopir, pilot mogok bisa
diganti oleh siapa saja, tetapi siapa bisa mengganti
guru?'. Apa ini bukan sebuah kejumawaan?

Hak atas profesi guru, yang kemudian menjadi
monopolinya itu, sebenarnya juga sebuah hak yang lazim
mereka perdagangkan, dengan tanda kutip atau tidak.
Untuk memberi les, maka yang pertama kali diperiksa
adalah dia guru atau bukan. Juga dalam
kesempatan-kesempatan lain, guru selalu mendapat jatah
untuk dihormati. Jika dalam hal yang mengenakkan
seperti itu mereka diam saja, mengapa sesuatu yang tak
enak dan dirasakan oleh cukup banyak orang, lalu kita
semua bingung? Karena mereka memegang monopoli
pendidikan dan kita takut anak-anak diajarkan segala
sesuatu yang tak benar? Apa itu bukan pemerasan?

Juga alasan bahwa selama ini mereka
digonjang-ganjingkan, diplekotho gajinya, dan lain
sebagainya, maka saya bertanya, apakah mereka ini
kambing? Yang mandah saja ketika pemiliknya menggiring
dan mengikatnya di suatu tempat, meski hari itu hujan
atau di pinggir blumbang yang penuh tai? Tidak bisa
lari ? Tidak bisa protes ? Tidak bisa lapor ke polisi?

Tak ada profesi yang tak mengandung resiko. Tetapi
guru memang sudah terlanjur diposisikan sebagai
'digugu dan ditiru'. Murid-murid sejak TK pun sudah
sangat bahagia mencium tangan gurunya yang baru datang
di gerbang sekolah. Lalu dengan bangganya beberapa
murid membawakan tas dan menuntun sepedahnya. Meski
guru seenaknya menyuruh murid beli nasi pecel, seperti
menyuruh bedinde atau kacung, toh murid bangga sekali
karena 'disuruh guru, lho !'.

Dalam posisi yang sudah terlanjur salah ini, maka
sebaiknya mereka juga memelihara perilaku. Berdemo
sudah haknya mahasiswa, buruh, dan laskar jihad. Kalau
guru ikut-ikutan seperti itu, maka ada kemungkinan
mereka menuai sesuatu yang tak mereka bayangkan
sebelumnya. Misalnya, akan ada usulan untuk tak perlu
belajar di sekolah, bisa di rumah diajar oleh bapaknya
sendiri, dan boleh diadu di majelis ebtanas. Kalau
sudah begini?

Ini adalah sekedar urun pikiran, melihat sisi yang
lain dari profesi guru. Mungkin bisa dipakai untuk
menambah pertimbangan kita dalam menyikapi peristiwa
akhir-akhir ini. Meski begitu, aku perlu menyampaikan
terimakasih kepada guru-guruku dahulu. Untung mereka
tidak mengajariku yang tidak-tidak, meski toh akhirnya
aku ya begini-begini saja. Semua itu bukan salahnya.
Mereka hanya memenuhi kewajiban profesinya,
menyampaikan apa yang ada di primbon kurikulumnya. Tak
lebih, semoga tak kurang.

Salam

=====
Pakai HIKAM, siapa takut....?
Embat terus PDI-P, GD dan MW ....
Semua posting mesti dibikin belok ke PDI-P, GD dan MW sebagai biang keroknya ....
Logis ndak logis, jalan terus .....
Wong aku 'intelektual', kok .......
Begaya...Begaya...
Seolah-olah si 'dia'

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke