Bagaimana kalau hirarki itu tidak harus berurutan?

Apakah untuk sampai ke Self Actualization Needs
seseorang harus secara bertahap terpuaskan pada hirarki
kebutuhan sebelumnya?

Basic Needs mencakup kebutuhan dasar untuk hidup.
Setelah Basic Needs terpenuhi apakah seseorang tidak
akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang lain?
Bagaimana caranya bila output > input?

Disamping itu, bila profesi pengajar menjadi menarik
karena gaji yang ditawarkannya (sesuai dengan prinsip
dagang) maka pertama apakah teori pasar mengenai upah
tidak akan berlaku sehingga gaji tetap tinggi meskipun
supply > demand?, ke dua apakah motivasi untuk menjadi
guru tidak akan bergeser ke arah yang lebih bersifat
materialistik? Tentu saja saya percaya bahwa Bung Yap
tidak akan melupakan Job Fit Theory John Holland
(sebagai pembanding) dimana pada dasarnya keunikan
individu telah membatasi pilihan kerjanya.

Bung Yap benar bahwa masalah yang sedang
dipergunjingkan sekarang ini adalah masalah basic
needs.  Namun demikian, saya berpikir bahwa masalah
sesungguhnya yang terjadi di Indonesia saat ini adalah
labor supply > demand sehingga persaingan untuk mencari
kerja menjadi tidak sehat dimana External Productivity
lembaga pendidikan juga menjadi semakin rendah. Para
direktur yang berijazah S1 saling berlomba untuk
memperoleh gelar master agar paling sedikit bisa
mempertahankan posisi tanpa memperhitunhgkan apakah
master nya relevan atau tidak.

External Productivity adalah sejauh mana alumni sebuah
lembaga pendidikan bekerja pada bidang kerja yang
sesuai dengan apa yang dulu dipelajari. Insinyur
Pertanian yang menjadi Direktur Penerbitan, Dokter yang
tidak praktek dan menjadi politisi, Ir Pertambangan
yang terjun di dunia Keuangan Perbankan adalah
contoh-contoh external productivity yang rendah. Secara
makro itu merupakan pemborosan yang luar biasa.

Jadi, pertama bukannya saya tidak setuju bahwa nasib
guru harus diperhatikan namun hendaknya hakikat profesi
guru jangan diabaikan; ke dua, tidak ada satupun skema
penggajian yang berlaku umum dan memuaskan semua pihak
karena hakikat gaji adalah relatif.

��

----- Original Message -----
From: Yap <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 13, 2000 9:54 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain)


Ya bolehlah berangkat dari Maslow. Untuk sampai ke self
actualization itu
kan asumsinya need nomor 1 sampai 4 tercapai dulu to
mas. Lha sekarang ini
need nomor satu, alias basic need yang sedang
dipergunjingkan. Dan yang
mempergunjingkan bukan melulu kelompok guru. Jadi ide
dagangnya, buatlah
produk itu menarik dulu, biar jadi rebutan, sehingga
mampu direkrut peminat
terbaik. Selanjutnya sih sudah lebih mudah, karena
minimal bahan dasarnya
sudah baik. Kurang kurang dikit sistem pembentukannya,
masih tolerable kan?
Artinya kerja lanjutan lebih ringan.

Tentang situasi dimana gaji tak lagi dapat digunakan
sebagai alat motivasi,
ya benar sekali mas. Tetapi lagi lagi sebagai entry
point saat ini masih
make sense.

Jalan masih panjang untuk sampai kekeadaan normal.

yap
-------------------
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently
applying basic
fundamentals.

----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, 13 April 2000 9:59 WIB
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain)


> Tertarik menjadi guru atau dosen karena gajinya
tinggi?
> (Pertanyaan balik terhadap pertanyaan: bagaimana
> membuat profesi guru atau dosen menarik?)
>
> Apakah dedikasi dosen atau guru terhadap profesinya
> bisa dinilai dengan gaji yang mereka terima? He...
> he... tanya aja deh sama mBah Soel.., apa sih
motivasi
> seseorang untuk menjadi seorang pengajar? Apa karena
> gajinya yang tinggi?
>
> Ah.... yang bener aja...... masak sih Bung Yap lupa
> Maslow? (ini yang populer lho)
>
> Individual's needs menyebabkan individual
differences.,
> dan individual's needs itu unique. Pengalaman Bung
Yap
> dengan kelompok bisnisnya sangat merangsang untuk
> diamati terus, namun menurut para ahli contingency,
itu
> belum tentu berlaku umum karena ada faktor-faktor
> inheren yang membentuknya.
>
> Loyalitas karyawan Bank Bali diseluruh Indonesia
apakah
> akan sama dengan loyalitas Bank Niaga bila Bank Niaga
> mengalami masalah yang sama dengan Bank Bali?
> Produktivitas karyawan Jepang di Jepang lebih tinggi
> dibanding produktivitas karyawan Jepang di Amerika.
> Manajer KFC di Bali lebih banyak mengalami masalah
> libur karyawan dimana gaji sudah tidak bisa lagi
> digunakan sebagai faktor pemotivasi.
>
> Dosen-dosen IPB dan ITB itu (yang ) kaya disebabkan
> karena royalty atau proyek mereka dan bukan karena
gaji
> mereka. Namun, ada pula dosen-dosen yang getol untuk
> mengurus kenaikan pangkatnya dengan KUM manipulatif
> agar segera memperoleh kenaikan gaji. Padahal,
kenaikan
> pangkat (baca: gaji) itu adalah hasil dari aktivitas
> dan konsistensinya terhadap profesi dan bukan
merupakan
> tujuan.
>
> Ada seorang pemuka agama yang menjadi dosen telah
> memalsukan ijasah doktornya hanya agar memperoleh
gaji
> yang lebih tinggi. Horotoyonoh.....
>
> ��
>
> ----- Original Message -----
> From: Press <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, April 13, 2000 6:20 PM
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain)
>
>
> I partly agree bung, kalau itu menyangkut konsekuensi
> sebuah pilihan.
> Tetapi yang lebih mendasar bukan karena takut demonya
> guru lalu setuju
> apapun tuntutannya. Masalah yang lebih mendasar
adalah
> bagaimana membuat
> profesi guru/dosen ini menarik, sehingga putra
terbaik
> bangsa mau berbondong
> bondong kesana, dan menghasilkan lulusan berkualitas
> dunia. Itu point saya.
> Kualitas SDM merupakan faktor rawan yang sangat
sangat
> mengkhawatirkan dalam
> melihat hari depan bangsa kita.
> Kalau kualifikasi guru terus menerus diperbaiki,
dengan
> sistem rekrutmen dan
> seleksi, plus evaluasi berkala, harapan saya adalah
> kita mempunyai deretan
> guru/dosen yang berkualitas prima plus dedikatip.
> Bayangin kalau suatu ketika profesi guru jadi rebutan
> putra terbaik bangsa,
> maka besar pulalah harapan kita bahwa lulusan
perguruan
> kita akan baik pula.
> Jangan sampai deretan guru/dosen banyak diisi oleh
> mereka yang kebetulan
> nggak diterima diperguruan lain, atau sekedar karena
> nggak diterima kerja
> ditempat lain. OK?
>
> yap
>
>
>
>
> - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan
LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!















- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke