Tertarik menjadi guru atau dosen karena gajinya tinggi?
(Pertanyaan balik terhadap pertanyaan: bagaimana
membuat profesi guru atau dosen menarik?)
Apakah dedikasi dosen atau guru terhadap profesinya
bisa dinilai dengan gaji yang mereka terima? He...
he... tanya aja deh sama mBah Soel.., apa sih motivasi
seseorang untuk menjadi seorang pengajar? Apa karena
gajinya yang tinggi?
Ah.... yang bener aja...... masak sih Bung Yap lupa
Maslow? (ini yang populer lho)
Individual's needs menyebabkan individual differences.,
dan individual's needs itu unique. Pengalaman Bung Yap
dengan kelompok bisnisnya sangat merangsang untuk
diamati terus, namun menurut para ahli contingency, itu
belum tentu berlaku umum karena ada faktor-faktor
inheren yang membentuknya.
Loyalitas karyawan Bank Bali diseluruh Indonesia apakah
akan sama dengan loyalitas Bank Niaga bila Bank Niaga
mengalami masalah yang sama dengan Bank Bali?
Produktivitas karyawan Jepang di Jepang lebih tinggi
dibanding produktivitas karyawan Jepang di Amerika.
Manajer KFC di Bali lebih banyak mengalami masalah
libur karyawan dimana gaji sudah tidak bisa lagi
digunakan sebagai faktor pemotivasi.
Dosen-dosen IPB dan ITB itu (yang ) kaya disebabkan
karena royalty atau proyek mereka dan bukan karena gaji
mereka. Namun, ada pula dosen-dosen yang getol untuk
mengurus kenaikan pangkatnya dengan KUM manipulatif
agar segera memperoleh kenaikan gaji. Padahal, kenaikan
pangkat (baca: gaji) itu adalah hasil dari aktivitas
dan konsistensinya terhadap profesi dan bukan merupakan
tujuan.
Ada seorang pemuka agama yang menjadi dosen telah
memalsukan ijasah doktornya hanya agar memperoleh gaji
yang lebih tinggi. Horotoyonoh.....
��
----- Original Message -----
From: Press <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 13, 2000 6:20 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain)
I partly agree bung, kalau itu menyangkut konsekuensi
sebuah pilihan.
Tetapi yang lebih mendasar bukan karena takut demonya
guru lalu setuju
apapun tuntutannya. Masalah yang lebih mendasar adalah
bagaimana membuat
profesi guru/dosen ini menarik, sehingga putra terbaik
bangsa mau berbondong
bondong kesana, dan menghasilkan lulusan berkualitas
dunia. Itu point saya.
Kualitas SDM merupakan faktor rawan yang sangat sangat
mengkhawatirkan dalam
melihat hari depan bangsa kita.
Kalau kualifikasi guru terus menerus diperbaiki, dengan
sistem rekrutmen dan
seleksi, plus evaluasi berkala, harapan saya adalah
kita mempunyai deretan
guru/dosen yang berkualitas prima plus dedikatip.
Bayangin kalau suatu ketika profesi guru jadi rebutan
putra terbaik bangsa,
maka besar pulalah harapan kita bahwa lulusan perguruan
kita akan baik pula.
Jangan sampai deretan guru/dosen banyak diisi oleh
mereka yang kebetulan
nggak diterima diperguruan lain, atau sekedar karena
nggak diterima kerja
ditempat lain. OK?
yap
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!