I partly agree bung, kalau itu menyangkut konsekuensi sebuah pilihan. Tetapi yang lebih mendasar bukan karena takut demonya guru lalu setuju apapun tuntutannya. Masalah yang lebih mendasar adalah bagaimana membuat profesi guru/dosen ini menarik, sehingga putra terbaik bangsa mau berbondong bondong kesana, dan menghasilkan lulusan berkualitas dunia. Itu point saya. Kualitas SDM merupakan faktor rawan yang sangat sangat mengkhawatirkan dalam melihat hari depan bangsa kita. Kalau kualifikasi guru terus menerus diperbaiki, dengan sistem rekrutmen dan seleksi, plus evaluasi berkala, harapan saya adalah kita mempunyai deretan guru/dosen yang berkualitas prima plus dedikatip. Bayangin kalau suatu ketika profesi guru jadi rebutan putra terbaik bangsa, maka besar pulalah harapan kita bahwa lulusan perguruan kita akan baik pula. Jangan sampai deretan guru/dosen banyak diisi oleh mereka yang kebetulan nggak diterima diperguruan lain, atau sekedar karena nggak diterima kerja ditempat lain. OK? yap ----- Original Message ----- From: Begaya Wisnu <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, April 13, 2000 1:44 PM Subject: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain) > Guru (sisi yang lain) > > Guru adalah sebuah profesi, artinya, seseorang boleh > memilih, jadi guru atau jadi yang lain. Guru menjadi > sebuah profesi yang dimuliakan, karena banyak orang > (jadi) pinter karena merasa dibimbing oleh sang guru. > Lalu mereka menyebutnya 'pahlawan', yang > diembel-embeli 'tanpa tanda jasa'. Ini sekedar > mengalihkan perhatian, agar yang bersangkutan, bekas > murid, tak harus merasa memberi imbal jasa. > > Sebenarnya, untuk jadi pintar, tak semata butuh > pelajaran dari guru itu. Mereka juga butuh makan, agar > perut tak berisik ketika belajar. Mengapa ia tak harus > berterimakasih kepada pak dan mbok bon, penjual ketan > urap yang berkenan dipakainya sarapan ketika pagi-pagi > datang ke sekolah? Kenapa pula ia tak berterimakasih > kepada sopir bemo, yang tahu persis kalau ia harus > ngebut takut telatkan penumpangnya ? > > Jadi, sebagai sebuah profesi, semuanya punya > unsur-unsur yang sama. Pekerjaan menjadi guru bukanlah > takdir yang tak bisa dihindari. Sehingga, meski > menurut cerita-cerita halus disebutkan guru > benar-benar bisa digugu dan ditiru (oleh sebab itu > disebut guru) maka salah satu cerita Tigun > menunjukkan, bahwa guru masih manusia juga adanya. > > Sebagai profesi, maka ada hak dan tanggungjawab, > selain benefit maupun resikonya. Cerita mengenai gaji > guru yang kecil, itu kan sudah merata dan semua tahu > (meski ada yang tak percaya, sebab tak sedikit dari > mereka yang punya mobil dan rumah lumayan bagus). > Jadi, mengapa mereka memilih jadi guru? Masih > percayakah kita bahwa itu sebagai suatu panggilan > nuraninya? > > Tak sedikit profesi yang pendapatannya lebih rendah > dari guru. Dengan begitu soal penghasilan bukan alasan > sah untuk membenarkan demo mereka. Bahkan, dengan > meneken kontrak sebagai guru, sebenarnya mereka sudah > meneken sebuah tanggungjawab di urusan layanan umum, > dengan para 'pelanggan'-nya yang terdiri dari para > orang tua, yang mempercayakan anak-anaknya untuk > memperoleh pelajaran. Dengan mereka meninggalkan > kelas, bahkan memboikot ebtanas, maka yang > bersangkutan sudah menodai janji dalam kontraknya > sebagai pemberi layanan umum. > > Dengan mogok dan demonya, serta berbagai ancaman yang > mereka lakukan, maka kalau ditarik lebih jauh, dan > mencari padanannya, kita sama saja dengan ketemu sama > BPPC yang memonopoli cengkeh waktu itu. Mau dinaikkan > harganya jadi berapa saja oka-oke. Mau beli sak > murah-murahnya cengkeh petani, juga mau apa koen. Guru > adalah pemegang monopoli di urusan sertifikasi > pendidikan. > > LIhatlah salah satu 'senjata' yang mereka todongkan, > mengenai bagaimana profesi guru tak layak > disembarangkalirkan, yaitu 'sopir, pilot mogok bisa > diganti oleh siapa saja, tetapi siapa bisa mengganti > guru?'. Apa ini bukan sebuah kejumawaan? > > Hak atas profesi guru, yang kemudian menjadi > monopolinya itu, sebenarnya juga sebuah hak yang lazim > mereka perdagangkan, dengan tanda kutip atau tidak. > Untuk memberi les, maka yang pertama kali diperiksa > adalah dia guru atau bukan. Juga dalam > kesempatan-kesempatan lain, guru selalu mendapat jatah > untuk dihormati. Jika dalam hal yang mengenakkan > seperti itu mereka diam saja, mengapa sesuatu yang tak > enak dan dirasakan oleh cukup banyak orang, lalu kita > semua bingung? Karena mereka memegang monopoli > pendidikan dan kita takut anak-anak diajarkan segala > sesuatu yang tak benar? Apa itu bukan pemerasan? > > Juga alasan bahwa selama ini mereka > digonjang-ganjingkan, diplekotho gajinya, dan lain > sebagainya, maka saya bertanya, apakah mereka ini > kambing? Yang mandah saja ketika pemiliknya menggiring > dan mengikatnya di suatu tempat, meski hari itu hujan > atau di pinggir blumbang yang penuh tai? Tidak bisa > lari ? Tidak bisa protes ? Tidak bisa lapor ke polisi? > > Tak ada profesi yang tak mengandung resiko. Tetapi > guru memang sudah terlanjur diposisikan sebagai > 'digugu dan ditiru'. Murid-murid sejak TK pun sudah > sangat bahagia mencium tangan gurunya yang baru datang > di gerbang sekolah. Lalu dengan bangganya beberapa > murid membawakan tas dan menuntun sepedahnya. Meski > guru seenaknya menyuruh murid beli nasi pecel, seperti > menyuruh bedinde atau kacung, toh murid bangga sekali > karena 'disuruh guru, lho !'. > > Dalam posisi yang sudah terlanjur salah ini, maka > sebaiknya mereka juga memelihara perilaku. Berdemo > sudah haknya mahasiswa, buruh, dan laskar jihad. Kalau > guru ikut-ikutan seperti itu, maka ada kemungkinan > mereka menuai sesuatu yang tak mereka bayangkan > sebelumnya. Misalnya, akan ada usulan untuk tak perlu > belajar di sekolah, bisa di rumah diajar oleh bapaknya > sendiri, dan boleh diadu di majelis ebtanas. Kalau > sudah begini? > > Ini adalah sekedar urun pikiran, melihat sisi yang > lain dari profesi guru. Mungkin bisa dipakai untuk > menambah pertimbangan kita dalam menyikapi peristiwa > akhir-akhir ini. Meski begitu, aku perlu menyampaikan > terimakasih kepada guru-guruku dahulu. Untung mereka > tidak mengajariku yang tidak-tidak, meski toh akhirnya > aku ya begini-begini saja. Semua itu bukan salahnya. > Mereka hanya memenuhi kewajiban profesinya, > menyampaikan apa yang ada di primbon kurikulumnya. Tak > lebih, semoga tak kurang. > > Salam - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
