Secara naluriah katanya berurutan begitu mas. Mungkin saja ada perkecualian,
misalnya ada yang bilang: sugih durung karuan sombong didisikno. Ini kan
positipnya dibilang cerminan PD, tetapi nggak urung menyisakan tanya bagi
sebagian yang kurang memahami konteks budayanya. Self actualization biasanya
baru terpikir kalau needs yang lain sudah secure. Saya sih setuju aja
pembolak balikan urutan itu, karena pada dasarnya tiap manusia mempunyai
keunikan tersendiri. Tetapi dalam psikologi massa yang diambil kan modus,
bersenjatakan diagram pareto.

Bahwa sekarang labor supply>demand, itu memang potret nyata. Lalu terpikir
bagaimana solusinya. Setelah dicoba menyelam kedalamnya, dengan memperluas
batas pandang, ternyata demand juga cukup besar tetapi dengan kualifikasi
yang kebanyakan tak terkejar oleh supply yang ada, sehingga perlu
peningkatan kualitas supply untuk memenuhi demand requirement yang bergerak
sangat dinamis itu. Mismatch! Makanya kembali ke ungkapan klise: kualitas
sdm. Dalam changing world yang luar biasa nggak terpola ini lalu selain
masalah fundamental yang menyangkut kualitas sdm, juga menjadi penting
masalah readiness to change atau adaptability. Disinilah kompleksitas lalu
menjadi semakin rumit, karena mempersiapkan keahlian yang standard saja
membutuhkan waktu, sistem dan brainware yang prima, ditambah lagi menjadikan
mereka multi purpose alias siap pakai dimanapun dan apapun tantangan
pekerjaannya. Kalu sudah membayangkan ini dan melihat alam nyata kondisi sdm
kita, terutama generasi mudanya, betapa bakal terpuruknya bangsa yang
bernama indonesia ini. Kalau ini terjadi, setidak tidaknya kita yang tua tua
ini ikut berhutang juga.

Sekelompok teman saya sedang berfokus pada pemassalan mesin pembuat mesin
ketika kemudian badai krisis melanda dan perbankan menutup pintunya. Nah
mungkin perlu mulai dari awal, bahwa peningkatan kualitas guru adalah
pilihan yang masih seide dengan mesin pembuat mesin itu. Kalau guru menjadi
profesi yang diidolakan banyak remaja, niscaya terjadi kompetisi yang tinggi
 untuk menjadi guru. Pada saat itulah requirement yang tinggi dapat
diterapkan. Dan hanya putra putri terbaiklah yang mampu berada dan bertahan
dalam squad guru/dosen.

Sekarang anak muda lebih banyak tertarik menerjuni bidang entertainment,
karena dianggap cukup terbuka kesempatan untuk hidup layak, kaya dan
terkenal. Kalau saja hidup enak, kaya, terkenal, terhormat ini dianggap
parameter yang menjadi acuan banyak orang menempuh kehidupan, maka seberapa
mampu profesi guru memberikan itu semua? Sebaliknya,tanpa guru yang tepat
kualifikasinya, seberapa banyak orang yang mampu mencapai taraf hidup
seperti itu?

Untuk tidak menjadikan diskusi ini bias, saya bukan guru, bahkan sepanjang
kehidupan ini saya terus berguru, karena bagi saya hidup ini adalah
intelectual journey. Dengan latar kehidupan seperti itulah saya melihat
posisi strategis guru, baik guru yang formal, maupun (dan ini yang bagi saya
lebih banyak) yang informal. Setiap orang yang saya jumpai, termasuk semua
member milis ini. Semua!

yap
(It's a changing world. Adapt to it)
-------------
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.

----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, 14 April 2000 12:44 WIB
Subject: Re: [Kuli Tinta] Guru (sisi yang lain)


> Bagaimana kalau hirarki itu tidak harus berurutan?
>
> Apakah untuk sampai ke Self Actualization Needs
> seseorang harus secara bertahap terpuaskan pada hirarki
> kebutuhan sebelumnya?
>
> Basic Needs mencakup kebutuhan dasar untuk hidup.
> Setelah Basic Needs terpenuhi apakah seseorang tidak
> akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang lain?
> Bagaimana caranya bila output > input?
>
> Disamping itu, bila profesi pengajar menjadi menarik
> karena gaji yang ditawarkannya (sesuai dengan prinsip
> dagang) maka pertama apakah teori pasar mengenai upah
> tidak akan berlaku sehingga gaji tetap tinggi meskipun
> supply > demand?, ke dua apakah motivasi untuk menjadi
> guru tidak akan bergeser ke arah yang lebih bersifat
> materialistik? Tentu saja saya percaya bahwa Bung Yap
> tidak akan melupakan Job Fit Theory John Holland
> (sebagai pembanding) dimana pada dasarnya keunikan
> individu telah membatasi pilihan kerjanya.
>
> Bung Yap benar bahwa masalah yang sedang
> dipergunjingkan sekarang ini adalah masalah basic
> needs.  Namun demikian, saya berpikir bahwa masalah
> sesungguhnya yang terjadi di Indonesia saat ini adalah
> labor supply > demand sehingga persaingan untuk mencari
> kerja menjadi tidak sehat dimana External Productivity
> lembaga pendidikan juga menjadi semakin rendah. Para
> direktur yang berijazah S1 saling berlomba untuk
> memperoleh gelar master agar paling sedikit bisa
> mempertahankan posisi tanpa memperhitunhgkan apakah
> master nya relevan atau tidak.
>
> External Productivity adalah sejauh mana alumni sebuah
> lembaga pendidikan bekerja pada bidang kerja yang
> sesuai dengan apa yang dulu dipelajari. Insinyur
> Pertanian yang menjadi Direktur Penerbitan, Dokter yang
> tidak praktek dan menjadi politisi, Ir Pertambangan
> yang terjun di dunia Keuangan Perbankan adalah
> contoh-contoh external productivity yang rendah. Secara
> makro itu merupakan pemborosan yang luar biasa.
>
> Jadi, pertama bukannya saya tidak setuju bahwa nasib
> guru harus diperhatikan namun hendaknya hakikat profesi
> guru jangan diabaikan; ke dua, tidak ada satupun skema
> penggajian yang berlaku umum dan memuaskan semua pihak
> karena hakikat gaji adalah relatif.
>
> ��



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke