Mbah Nur, yang PERTAMA KALI nulis gothak gathik gethuk lindri itu panjenengan je. Aku cuma meneruskan saja dan TURUT mempopulerkan sebab kelihatannya cukup eye catching, terutama untuk membantu sebagian kalangan KEJAWEN yang sudah keterlaluan anune dalam bermain main gothak gathuk sehingga bukan menjadi WISDOM malahan jadi gethuk lindri. Thanks for SUGGESTING the term to me. Tentang Gematria versi Arab PLUS gothak gathik pake komputer, terus terang saya tidak interested. Tidak tertarik. Alasan utamanya adalah, for what ? Untuk apa ? Kalau anda BISA membuktikan bahwa Al Quran itu ternyata wallahualam luar biasa, then for what ? Yang penting itu MANUSIA HIDUP, dan bukan segala tulisan2 yang di-BERHALA-kan. Semuanya itu cuma berarti kalau dilakukan INTERPRETASI. Yang panjenengan bilang sebagai "imajinasi" itu sebenarnya interpretasi belaka. Kita semua melakukan interpretasi. Interpretasi seperti apa yang bisa kita lakukan dan akhirnya kita terapkan itu yang PENTING, dan BUKAN segala pem-BERHALA-an segala kitab2 yang notebene cuma buatan manusia biasa2 saja, tidak ada bedanya seperti panjenengan dan saya. Yang jelas, kita tidak bisa memutar balik kalender ke jaman khilafah, atau jaman Monarki Absolut, atau jaman Majapahit, atau jaman apapun yang anda pikir lebih baik dari jaman sekarang. Semuanya itu masa lalu, dan ada pelajaran2 juga yang bisa diambil. Nah, pelajaran yang kita ambil dari masa lalu itu termasuk bagian dari INTERPRETASI. Yang penting itu interpretasi, Mbah. Segala gothak gathik gathuk gethuk lindri is oke saja. Kalau memang hobby, ya teruskanlah. It MIGHT be good for your health. Leo
--- On Mon, 18/8/08, H. M. Nur Abdurrahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: H. M. Nur Abdurrahman <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: Gayung bersambut, kata berjawab <= Re: [Mayapada Prana] Re: Om Leo, apa yg harus saya katakan? To: [email protected] Date: Monday, 18 August, 2008, 8:57 PM Bukan masalah hak, tetapi tunjukkan kesalahan observasi itu. Leo, kok ente itu tidak tahu berdebat, tidak fokus, karena mabuk berimajinasi. Payah bleh ! Oh, ya, apa kata "Fikobena Tri Aryadi"? Salah mas harusnya Othak-Athik Gathuk. (nggak pake gethuk lindri..hehehe) . Berimajinasi boleh-boleh aja tapi nggak boleh salah tulis. HMNA ----- Original Message ----- From: leonardo rimba To: mayapadaprana@ yahoogroups. com Sent: Monday, August 18, 2008 7:39 PM Subject: Re: Gayung bersambut, kata berjawab <= Re: [Mayapada Prana] Re: Om Leo, apa yg harus saya katakan? Mbah Nur, panjenengan itu BERHAK untuk gothak gathik gathuk buku apa saja. Mau hasilnya jadi apa saja tidak akan jadi masalah buat saya. Nah, sikap saya yang seperti itu ada istilahnya juga. Istilahnya itu TOLERANSI. Kita bisa toleransi apa saja. Selama tidak membuat keonaran seperti orang2 FPI yang merusak harta benda milik orang lain itu, maka segalanya BISA ditolerir. Apa yang anda tuliskan cuma ada di pikiran anda sendiri, dan itu SAH saja. Anda mau gothak gathik gathuk buku apa saja, baik itu Al Quran, Alkitab, Tanakh, Veda, Tripitaka, Serat Dharmo Gandul dan semacamnya merupakan HAM anda. Tidak ada yang melarang. Saya juga TIDAK melarangnya. Apa yang anda PRAKTEKKAN itu memang tidak disebut dengan nama "Gematria", tetapi model gothak gathik gethuk lindri seperti itu sudah ada sejak jaman dahulu kala. Asalnya dari Ilmu Yahudi DAN Ilmu Yunani. Dulu diterapkan terhadap Tanakh (yang isinya berbagai Kitab Yahudi seperti Taurat, Zabur, dsb...), sekarang ternyata telah diterapkan juga terhadap Al Quran walaupun metodenya mungkin sedikit berbeda dan namanya juga tidak sama. Apapun istilah dan metodenya, model gothak gathik gathuk seperti itu sudah ada sejak dahulu dan, setahu saya, tidak menghasilkan apapun sampai saat ini. Leo --- On Mon, 18/8/08, H. M. Nur Abdurrahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id> wrote: From: H. M. Nur Abdurrahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id> Subject: Re: Gayung bersambut, kata berjawab <= Re: [Mayapada Prana] Re: Om Leo, apa yg harus saya katakan? To: mayapadaprana@ yahoogroups. com Date: Monday, 18 August, 2008, 5:19 PM Leo, karena ente gandrung berimajinasi, maka ente rancukan Gematria dengan observasi jumlah huruf-huruf dalam Al-Quran ada yang dihitung jumlahnya secara manual, ada yang pakai kompyuter. Itu Gematria hanyalah sekadar a system of assigning numerical value to an alphabet. Mau lihat contohnya ? Baca Seri 772 di bawah, di mana disitu diperlihatkan justru dengan Gematria orang tidak bisa menjumlahkan dan membagi 19 hasil observasi huruf-huruf dalam Al-Quran, baik yang didapat secara manusal maupun dengn tool kompyuter. Howgh HMNA ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* BSIMILLAHIRRAHMA- NIRRAHIYM WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU [Kolom Tetap Harian Fajar] 772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem Kontrol Sistem 19 Firman Allah: -- ANA NhN NZLNA ALDzKR WANA LH LhFZHWN (S. ALhJR, 15:9), dibaca: -- inna- nahnu nazalnadz dzikra wainna- lahu- laha-fizhu-n, (tanda - dipanjangkan membacanya), artinya: -- Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran, Al-Kitab) dan sesungguhnya Kami memeliharanya. Allah SWT memelihara Al-Dzikr melalui dua cara: Pertama, dari segi bacaan (Al-Quran) Allah SWT memberi kemampuan kepada tidak sedikit ummat Islam sampai kepada anak-anak yang mampu menghafal Al-Quran. Kedua, Allah menciptakan Sistem Kontrol sebagai mekanisme yang mengontrol keotentikan tuisan (Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani. Ternyata ayat-ayat dalam Al-Quran bukan hanya sekadar untuk mengistinbath (menggali) hukum-hukum dalam Ilmu Fiqh, tetapi juga mengistinbath qaidah (regel, rule), antara lain mengenai potongan-potongan huruf yang disebut Al-Muqaththa’aat (dari akar kata yang dibentuk oleh Qaf-Tha-‘Ain, qatha’a = potong), yaitu seperti Alif-Lam-Mim, dll. Pada tahun 1972 Rashad Khalifa berhasil mengistinbath qaidah mengenai Al-Muqaththa’aat ini bahwa itu adalah kode matematis. Sayangnya angka 19 ini disakralkan oleh agama Bahai, sehingga Rashad Khalifa dituduh beragama Bahai, padahal dia sama sekali tidak mensakralkan angka 19 tersebut. Bahkan atasnya dilakukan pula pembunuhan karakter (character assassination) yaitu dia juga dituduh ingkar sunnah. Padahal dia ikut shalat berjamaah, mana bisa dia ingkar sunnah kalau shalatnya sama dengan shalat kita, sebab bukankah cara shalat itu landasannya Hadits? Memang sudah tepat waktunya hal itu terungkap sekarang, karena dewasa ini para orientalis yang membenci Islam dan ummat Muslimin, sedang sengit-sengitnya menyerang Al-Quran Mushhaf 'Utsmani, bahwa itu tidak otentik. Bukan para orientalis tersebut saja yang menyerang keotentikan Mushhaf 'Utsmani, namun para pseude Muslim, para benggolan yang menamakan diri Islam Liberal turut pula dalam aktivitas itu, setelah menimba dari sumur (well) para orientalis yang membenci Islam dan ummat Muslimin tersebut. Cukup di sini saya sebutkan dua orang di antaranya, yaitu: Luthfi Asysyaukani, dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta, yang Editor Jaringan Islam Liberal (JIL) menulis al: "Alquran kemudian mengalami berbagai proses 'copy-editing' oleh para sahabat, tabi'in." Taufik Adnan Amal, dosen mata kuliah ulumul Quran di IAIN (sekarang UIN) Alauddin Makassar, aktivis JIL, al menulis: "Bagi rata-rata sarjana Muslim, keistimewaan rasm utsmani merupakan misteri ilahi dan karakter kemukjizatan al-Quran. Tetapi, pandangan ini lebih merupakan mitos. Sistem Kontrol angka 19 sebagai mekanisme untuk mengontrol keotentikan Al-Quran Mushhaf ‘Utsmani telah saya bahas dalam Lampiran I dari Orasi Ilmiyah yang saya presentasikan dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Universitas Muslim Indnesia (UMI) pada tanggal 25 Muharram 1416 / 24 Juni 1995 dalam Rangka Peringatan Milad (Dies Natalis) UMI yang ke 41 [1954 - 1995]. Insya Allah pada kesempatan lain akan saya sajikan nanti dalam rubrik OPINI Lampiran I tersebut. Dahulu notasi bilangan itu memakai sistem huruf-huruf ============ ========= ========= === Sistem menuliskan simbol bilangan ============ ========= ========= === Alif A = 1 Sin S = 60 Ba B = 2 ‘Ain ‘A = 70 Jim J = 3 Fa F = 80 Dal D = 4 Shad Sh = 90 Ha (*) H = 5 Qaf Q = 100 Waw W = 6 Ra R = 200 Zay Z = 7 Syin Sy = 300 ha (#) h = 8 Ta T = 400 Th Th = 9 Ts Ts = 500 Ya Y = 10 Kha Kh = 600 Kef K = 20 Dzal Dz = 700 Lam L = 30 Dha Dh = 800 Mim M = 40 Zha Zh = 900 Nun N = 50 Ghain Gh = 1000 ---------- (*) H abjad ke-3 dari belakang (#) h abjad ke-6 Contoh _______ D’ADhGh = 1874 Biasanya simbol angka diberi bergaris di atasnya. Notasi angka dengan simbol huruf-huruf itu gunanya hanya untuk mencatat saja, tidak bisa dipakai untuk operasi ilmu hitung seperti menambah, mengurangi, memperbanyak dan membagi. *** Kode matematis itu antara lain qaidah bahwa Al-Muqaththa' aat yang membuka sebuah Surah memberikan isyarat bahwa jumlah huruf dalam Surah bersangkutan adalah kelipatan 19. Seperti misalnya jumlah huruf Alif+Lam+ Mim+Shad dalam surah Al-A'raaf adalah kelipatan 19. Hasilnya seperti dalam tabel di bawah dengan notasi bilangan dalam huruf-huruf: Huruf Jumlah huruf Shad _________ Alif B’ATsGhGh ______ Lam JKTsGH _____ Mim HSQGh ___ Shad hSh ___ Jumlah ? = ? x ThY Siapa yang dapat menjumlahkan angka-angka tersebut di atas, baik orang terdahulu maupun orang dewasa ini? Belum lagi untuk qaidah huruf-huruf persekutuan yang membentuk Al-Muqaththaat yang terdapat dalam semua Surah yang sama-sama memiliki huruf -huruf persekutuan tersebut, jumlahnya adalah kelipatan 19, seperti dalam tabel di bawah, dalam notasi bilangan yang bukan huruf: Tabel Persekutuan [Alif,Lam,Ra] ============ ========= ========= ========= No.Surah Alif Lam Ra Alif+Lam+Ra ------------ --------- --------- --------- 10 Yuwnus 1319 913 257 2489 11 Huwd 1370 794 325 2489 12 Yuwsuf 1306 812 257 2375 14 Ibraahiym 585 452 160 1197 15 al-hijr 493 323 96 912 ------------ --------- --------- --------- Jumlah 5073 3294 1095 9462=19x498 Gampang sekali menjumlahkan dan membagi angka-angka itu. Tetapi coba bagi orang-orang terdahulu sebelum didapatkannya notasi bilangan dalam sistem desimal. Kalau setiap bilangan dinyatakan dalam simbol huruf-huruf, mana bisa dilakukan operasi tambah dan membagi. Maka masuk akal, jika Nabi Muhammad SAW tidak menceritakan dalam Hadits Sistem 19 itu, bikin susah orang saja. Barulah setelah didapatkan notasi bilangan dalam sistem desimal operasi menambah dan membagi itu menjadi gampang. Bahkan menjadi sangat gampang dan cepat setelah teknologi komputer didapatkan, yaitu dengan adanya Al-Quran digital, tidak susah membuat program untuk menjumlah huruf-huruf yang dikehendaki, kemudian membaginya dengan 19. Dan yang mulai dengan pemakaian kompuer itu adalah Rashad Khalifa. Dialah yang menemukan "telur Columbus", seperti dikemukakan dalam Seri 771 yang lalu. WaLlahu a'lamu bisshawab. *** Makassar 1 April 2007 http://waii- hmna.blogspot. com/2007/ 04/772-kesulitan -orang-terdahulu -dengan.html ############ ######### ######### ######### ######### ######### ######### ##### ----- Original Message ----- From: leonardo rimba To: mayapadaprana@ yahoogroups. com Sent: Monday, August 18, 2008 12:53 PM Subject: Re: Gayung bersambut, kata berjawab <= Re: [Mayapada Prana] Re: Om Leo, apa yg harus saya katakan? Pak Haji, segala KALKULASI NUMERIK yang anda lakukan itu merupakan permainan lama dari Orang Yahudi. Namanya GEMATRIA. Kalau di Jawa, yang model seperti itu namanya gothak gathik gethuk lindri. Leo Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

