Bukan masalah hak, tetapi tunjukkan kesalahan observasi itu. Leo, kok ente itu 
tidak tahu berdebat, tidak fokus, karena mabuk berimajinasi. Payah bleh !
Oh, ya, apa kata "Fikobena Tri Aryadi"?
Salah mas harusnya Othak-Athik Gathuk. (nggak pake gethuk lindri..hehehe). 
Berimajinasi boleh-boleh aja tapi nggak boleh salah tulis.

HMNA

  ----- Original Message ----- 
  From: leonardo rimba 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, August 18, 2008 7:39 PM
  Subject: Re: Gayung bersambut, kata berjawab <= Re: [Mayapada Prana] Re: Om 
Leo, apa yg harus saya katakan?


        Mbah Nur, panjenengan itu BERHAK untuk gothak gathik gathuk buku apa 
saja. Mau hasilnya jadi apa saja tidak akan jadi masalah buat saya. Nah, sikap 
saya yang seperti itu ada istilahnya juga. Istilahnya itu TOLERANSI. Kita bisa 
toleransi apa saja. Selama tidak membuat keonaran seperti orang2 FPI yang 
merusak harta benda milik orang lain itu, maka segalanya BISA ditolerir. Apa 
yang anda tuliskan cuma ada di pikiran anda sendiri, dan itu SAH saja. Anda mau 
gothak gathik gathuk buku apa saja, baik itu Al Quran, Alkitab, Tanakh, Veda, 
Tripitaka, Serat Dharmo Gandul dan semacamnya merupakan HAM anda. Tidak ada 
yang melarang. Saya juga TIDAK melarangnya. 

        Apa yang anda PRAKTEKKAN itu memang tidak disebut dengan nama 
"Gematria", tetapi model gothak gathik gethuk lindri seperti itu sudah ada 
sejak jaman dahulu kala. Asalnya dari Ilmu Yahudi DAN Ilmu Yunani. Dulu 
diterapkan terhadap Tanakh (yang isinya berbagai Kitab Yahudi seperti Taurat, 
Zabur, dsb...), sekarang ternyata telah diterapkan juga terhadap Al Quran 
walaupun metodenya mungkin sedikit berbeda dan namanya juga tidak sama. Apapun 
istilah dan metodenya, model gothak gathik gathuk seperti itu sudah ada sejak 
dahulu dan, setahu saya, tidak menghasilkan apapun sampai saat ini. 

        Leo

        --- On Mon, 18/8/08, H. M. Nur Abdurrahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          From: H. M. Nur Abdurrahman <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: Re: Gayung bersambut, kata berjawab <= Re: [Mayapada Prana] 
Re: Om Leo, apa yg harus saya katakan?
          To: [email protected]
          Date: Monday, 18 August, 2008, 5:19 PM


           
                Leo, karena ente gandrung berimajinasi, maka ente rancukan 
Gematria dengan observasi jumlah huruf-huruf dalam Al-Quran ada yang dihitung 
jumlahnya secara manual, ada yang pakai kompyuter. Itu Gematria hanyalah 
sekadar a system of assigning numerical value to an alphabet. Mau lihat 
contohnya ? Baca Seri 772 di bawah, di mana disitu diperlihatkan justru dengan 
Gematria orang tidak bisa menjumlahkan dan membagi 19 hasil observasi 
huruf-huruf dalam Al-Quran, baik yang didapat secara manusal maupun dengn tool 
kompyuter.
                Howgh
                HMNA
                ************ ********* ********* ********* ********* ********* 
*********

                BSIMILLAHIRRAHMA- NIRRAHIYM

                WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU
                [Kolom Tetap Harian Fajar]
                772 Kesulitan Orang Terdahulu dengan Sistem Kontrol Sistem 19

                Firman Allah:
                -- ANA NhN NZLNA ALDzKR WANA LH LhFZHWN (S. ALhJR, 15:9), 
dibaca: 
                -- inna- nahnu nazalnadz dzikra wainna- lahu- laha-fizhu-n, 
(tanda - dipanjangkan membacanya), artinya: 
                -- Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran, 
Al-Kitab) dan sesungguhnya Kami memeliharanya.

                Allah SWT memelihara Al-Dzikr melalui dua cara:
                Pertama, dari segi bacaan (Al-Quran) Allah SWT memberi 
kemampuan kepada tidak sedikit ummat Islam sampai kepada anak-anak yang mampu 
menghafal Al-Quran.
                Kedua, Allah menciptakan Sistem Kontrol sebagai mekanisme yang 
mengontrol keotentikan tuisan (Al-Kitab) Mushhaf 'Utsmani.  
                 
                Ternyata ayat-ayat dalam Al-Quran bukan hanya sekadar untuk 
mengistinbath (menggali) hukum-hukum dalam Ilmu Fiqh, tetapi juga mengistinbath 
qaidah (regel, rule), antara lain mengenai potongan-potongan huruf yang disebut 
Al-Muqaththa’aat (dari akar kata yang dibentuk oleh Qaf-Tha-‘Ain, qatha’a = 
potong), yaitu seperti Alif-Lam-Mim, dll. 

                Pada tahun 1972 Rashad Khalifa berhasil mengistinbath qaidah 
mengenai Al-Muqaththa’aat ini bahwa itu adalah kode matematis. Sayangnya angka 
19 ini disakralkan oleh agama Bahai, sehingga Rashad Khalifa dituduh beragama 
Bahai, padahal dia sama sekali tidak mensakralkan angka 19 tersebut. Bahkan 
atasnya dilakukan pula pembunuhan karakter (character assassination) yaitu dia 
juga dituduh ingkar sunnah. Padahal dia ikut shalat berjamaah, mana bisa dia 
ingkar sunnah kalau shalatnya sama dengan shalat kita, sebab bukankah cara 
shalat itu landasannya Hadits?

                Memang sudah tepat waktunya hal itu terungkap sekarang, karena 
dewasa ini para orientalis yang membenci Islam dan ummat Muslimin, sedang 
sengit-sengitnya menyerang Al-Quran Mushhaf 'Utsmani, bahwa itu tidak otentik. 
Bukan para orientalis tersebut saja yang menyerang keotentikan Mushhaf 
'Utsmani, namun para pseude Muslim, para benggolan yang menamakan diri Islam 
Liberal turut pula dalam aktivitas itu, setelah menimba dari sumur (well) para 
orientalis yang membenci Islam dan ummat Muslimin tersebut. Cukup di sini saya 
sebutkan dua orang di antaranya, yaitu: Luthfi Asysyaukani, dosen Sejarah 
Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta, yang Editor Jaringan Islam 
Liberal (JIL) menulis al:
                "Alquran kemudian mengalami berbagai proses 'copy-editing' oleh 
para sahabat, tabi'in." Taufik Adnan Amal, dosen mata kuliah ulumul Quran di 
IAIN (sekarang UIN) Alauddin Makassar, aktivis JIL, al menulis:
                "Bagi rata-rata sarjana Muslim, keistimewaan rasm utsmani 
merupakan misteri ilahi dan karakter kemukjizatan al-Quran. Tetapi, pandangan 
ini lebih merupakan mitos. 

                Sistem Kontrol angka 19 sebagai mekanisme untuk mengontrol 
keotentikan Al-Quran Mushhaf ‘Utsmani telah saya bahas dalam Lampiran I dari 
Orasi Ilmiyah yang saya presentasikan dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa 
Universitas Muslim Indnesia (UMI) pada tanggal 25 Muharram 1416 / 24 Juni 1995 
dalam Rangka Peringatan Milad (Dies Natalis) UMI yang ke 41 [1954 - 1995]. 
Insya Allah pada kesempatan lain akan saya sajikan nanti dalam rubrik OPINI 
Lampiran I tersebut.
                 
                Dahulu notasi bilangan itu memakai sistem huruf-huruf 
                 
                ============ ========= ========= ===
                Sistem menuliskan simbol bilangan
                ============ ========= ========= ===
                 
                Alif   A = 1   Sin    S =   60         
                Ba     B = 2  ‘Ain   ‘A =   70
                Jim    J = 3   Fa     F =   80
                Dal    D = 4   Shad  Sh =   90
                Ha (*) H = 5   Qaf    Q =  100
                Waw    W = 6   Ra     R =  200
                Zay    Z = 7   Syin  Sy =  300
                ha (#) h = 8   Ta     T =  400
                Th    Th = 9   Ts    Ts =  500
                Ya     Y = 10  Kha   Kh =  600
                Kef    K = 20  Dzal  Dz =  700
                Lam    L = 30  Dha   Dh =  800
                Mim    M = 40  Zha   Zh =  900
                Nun    N = 50  Ghain Gh = 1000
                ----------
                (*) H abjad ke-3 dari belakang 
                (#) h abjad ke-6
                 
                Contoh 
                _______
                D’ADhGh = 1874 
                Biasanya simbol angka diberi bergaris di atasnya. Notasi angka 
dengan simbol huruf-huruf itu gunanya hanya untuk mencatat saja, tidak bisa 
dipakai untuk operasi ilmu hitung seperti menambah, mengurangi, memperbanyak 
dan membagi. 
                 
                ***

                Kode matematis itu antara lain qaidah bahwa Al-Muqaththa' aat 
yang membuka sebuah Surah memberikan isyarat bahwa jumlah huruf dalam Surah 
bersangkutan adalah kelipatan 19. Seperti misalnya jumlah huruf Alif+Lam+ 
Mim+Shad dalam surah Al-A'raaf adalah kelipatan 19. Hasilnya seperti dalam 
tabel di bawah dengan notasi bilangan dalam huruf-huruf:
                 
                Huruf       Jumlah huruf Shad
                               _________
                  Alif         B’ATsGhGh 
                               ______ 
                  Lam          JKTsGH
                               _____ 
                  Mim          HSQGh  
                               ___ 
                  Shad         hSh      ___ 
                       Jumlah   ? = ? x ThY
                 
                Siapa yang dapat menjumlahkan angka-angka tersebut di atas, 
baik orang terdahulu maupun orang dewasa ini? Belum lagi untuk qaidah 
huruf-huruf persekutuan yang membentuk Al-Muqaththaat yang terdapat dalam semua 
Surah yang sama-sama memiliki huruf -huruf persekutuan tersebut, jumlahnya 
adalah kelipatan 19, seperti dalam tabel di bawah, dalam notasi bilangan yang 
bukan huruf:

                Tabel Persekutuan [Alif,Lam,Ra]
                ============ ========= ========= =========
                No.Surah    Alif  Lam  Ra   Alif+Lam+Ra
                ------------ --------- --------- ---------
                10 Yuwnus   1319  913  257  2489 
                11 Huwd     1370  794  325  2489 
                12 Yuwsuf   1306  812  257  2375 
                14 Ibraahiym 585  452  160  1197 
                15 al-hijr   493  323   96   912 
                ------------ --------- --------- ---------
                Jumlah      5073 3294 1095  9462=19x498

                Gampang sekali menjumlahkan dan membagi angka-angka itu. Tetapi 
coba bagi orang-orang terdahulu sebelum didapatkannya notasi bilangan dalam 
sistem desimal. Kalau setiap bilangan dinyatakan dalam simbol huruf-huruf, mana 
bisa dilakukan operasi tambah dan membagi.

                Maka masuk akal, jika Nabi Muhammad SAW tidak menceritakan 
dalam Hadits Sistem 19 itu, bikin susah orang saja. Barulah setelah didapatkan 
notasi bilangan dalam sistem desimal operasi menambah dan membagi itu menjadi 
gampang. Bahkan menjadi sangat gampang dan cepat setelah teknologi komputer 
didapatkan, yaitu dengan adanya Al-Quran digital, tidak susah membuat program 
untuk menjumlah  huruf-huruf yang dikehendaki, kemudian membaginya dengan 19. 
Dan yang mulai dengan pemakaian kompuer itu adalah Rashad Khalifa. Dialah yang 
menemukan "telur Columbus", seperti dikemukakan dalam Seri 771 yang lalu. 
WaLlahu a'lamu bisshawab.

                *** Makassar 1 April 2007
                http://waii- hmna.blogspot. com/2007/ 04/772-kesulitan 
-orang-terdahulu -dengan.html

                ############ ######### ######### ######### ######### ######### 
######### #####


                ----- Original Message ----- 
                From: leonardo rimba 
                To: mayapadaprana@ yahoogroups. com 
                Sent: Monday, August 18, 2008 12:53 PM
                Subject: Re: Gayung bersambut, kata berjawab <= Re: [Mayapada 
Prana] Re: Om Leo, apa yg harus saya katakan?

                Pak Haji, segala KALKULASI NUMERIK yang anda lakukan itu 
merupakan permainan lama dari Orang Yahudi. Namanya GEMATRIA. Kalau di Jawa, 
yang model seperti itu namanya gothak gathik gethuk lindri.

                Leo 
       

  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com  

Kirim email ke