Pak Muli,

Setahu saya ide yg Pak Muli ajukan soal pembangunan berbasis migrasi
atau people based devt bukanlah ide yg "nyeleneh".... umumnya negara2
anglo-saxon menganut ini... kalau sebuah daerah sulit dibangun ya suruh
saja mereka pindah terutama ke urban areas, karena ada aglomerasi
ekonomi di sana... Saya kira orang2 top seperti Jane Jacobs juga pro
pembangunan berbasis metropolitan, bukan? Jadi bukan ide nyeleneh,
tetapi mungkin ide seperti ini saja yg belum banyak terdengar di negara
kita...karena alasan berikut di bawah ini?

Saya tdk anti dg migrasi, saya hanya melihat itu tdk mudah... tidak
semua suku punya kultur migrasi seperti orang Minang, Batak, Bugis,
dll...dan saya kira keterikatan thd tanah leluhur masih sangat
besar...coba kalau Pemerintah secara eksplisit mengumumkan bahwa
Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, tidak perlu dibangun,
semua masyarakat di sana disarankan utk migrasi ke Jawa, di mana kota2
nya tumbuh lebih pesat dan infrastruktur lebih maju serta diberikan
prioritas pembangunan... saya kira Sumbar, Sumut, Sulsel bisa2 akan
mendeklarasikan utk lepas dari NKRI, walaupun suku2nya punya kultur
migrasi yg kuat...ini juga hipotesa saya mengapa pemerintah kita tdk
pernah berani secara eksplisit utk mengumumkan bahwa pembangunan di
prioritaskan di Jawa dulu (berbda dg China, Deng Xiaoping dg berani
mengatakan bahwa dataran barat harus menunggu karena prioritas
pembangunan akan diberikan terlebih dahulu ke coastal areas, yg sekrg
menjadi Shenzen, dll., pdhal mereka negara komunis di mana soal
"equity" adalah prioritas)...

tetapi secara implisit, atau parsial sektoral, atau eksplisit tapi
diam2, bukankah Jawa memang diprioritaskan pembangunannya oleh
Pemerintah? at least Pem Orla dan Orba... yg di masa Orla memancing
beberapa pemberontakan daerah...

salam..


--- Mulya Amri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Pak Eko, Pak BTS, Pak Aunur dan rekan2,
> (...btw, kok "pak" semua ya?)
> 
> Senang sekali diskusinya berlanjut, dan tambah seru pula. Saya setuju
> dengan
> pendapat Pak Eko bahwa ini masalah klasik yang belum ketemu
> jawabannya. Dan
> tambah seru karena kondisi Indonesia yang unik (i.e. penduduknya
> tersebar
> dalam ratusan, kalau bukan ribuan pulau) sehingga literatur dari luar
> belum
> tentu cocok. Satu-satunya jalan adalah Indonesia harus cari
> jawabannya
> sendiri; boleh ambil referensi dari luar, tapi kritisi dulu; jangan
> takut
> berpikir "nyeleneh."
> 
> 1. Utk Pak Aunur: menurut saya, program2 PNPM Mandiri seperti P2KP
> dan PPK
> merupakan gabungan dari people-development dan region-development.
> Karena
> apa? Antara lain 1) uang/bantuan-nya turun melalui mekanisme wilayah
> (yaitu
> kelurahan atau kecamatan), 2) porsi yang cukup besar dari uangnya
> digunakan
> untuk membangun infrastruktur wilayah (walaupun skalanya mikro,
> seperti
> jembatan, jalan desa, dll).
> 
> Apakah sistem (seperti) ini berhasil? Saya tidak bisa menjawabnya.
> Yang
> jelas, World Bank menganggap ini termasuk program poverty
> alleviation/rural
> development generasi ke-3 atau paling mutakhir. Di Nepal, intervensi
> seperti
> ini disebut PAF. Berikut cuplikan wawancara NY Times dengan Lant
> Pritchett:
> (
>
http://www.nytimes.com/2007/06/10/magazine/10global-t.html?_r=1&ref=asia&oref=slogin
> )
> 
> 
> > PAF — the Poverty Alleviation Fund — "is a third-generation
> project," he
> > said. The first generation tried everything at once — roads,
> drinking water,
> > new crops — and failed through complexity. The second generation
> simplified:
> > road builders just built roads; well diggers dug wells. But some
> villages
> > got roads when they needed wells. And some villages got wells that
> did not
> > work. Some villages got nothing because people stole the cash. The
> World
> > Bank officials tried to fix these problems when they helped design
> the Nepal
> > program, which so far has received $40 million. The program is
> flexible; the
> > money can be put to many uses. It is "demand driven"; villagers
> decide. It
> > is "transparent"; the accounting is posted on a bulletin board. And
> it is
> > "targeted"; only poor villagers qualify. "PAF is state of the art,"
> he said.
> > "It's pimped up!"
> >
> 
> 2. Untuk Pak BTS dan Pak Eko:
> 
> Pak BTS bilang:
> 
> > "Memang distribusi penduduk yang terpencar dan terpencil  sangat
> > merepotkan. Sulit untuk bisa membangun layanan yang efisien.
> Sementara
> > memindahkan penduduk ke lokasi yang lebih urban ya tidak mungkin."
> 
> 
> dan Pak Eko bilang:
> 
> > "tdk semudah itu menyuruh, mendukung orang utk melakukan migrasi,
> banyak
> > faktor mulai dari institusi, kultur, yg membuat orang enggan
> > bermigrasi... lagi pula urbanisasi berupa migrasi ke urban pun tdk
> > terlalu banyak gunanya tanpa transformasi kultur, pola pikir,
> sikap,
> > sistem produksi dari pola rural ke pola urban..."
> 
> 
> Kenapa "tidak semudah itu" atau bahkan "tidak mungkin", Pak?
> Bagaimana
> dengan dengan pekerja migran, TKI, perantau? Ketika keluarga saya
> pertama
> kali pindah ke Jakarta dari sebuah desa kecil di Sumatera Barat, saya
> yakin
> mereka juga belum siap dengan pola pikir/sikap urban. Bapak saya
> sambil
> sekolah jadi pedagang kaki lima. Tapi akhirnya sedikit demi sedikit
> kehidupan mereka makin baik dan secara mental makin siap. Seperti
> banyak
> pedagang asongan lainnya: banyak yang tahun ini datang dari desa &
> ngasong,
> tahun depan mungkin sudah buka warung, tahun depannya lagi warung itu
> sudah
> populer dan pemiliknya bisa naik haji. Kasus seperti ini tidak
> terjadi pada
> semua orang, tapi terjadi pada cukup banyak orang, sehingga orang
> desa terus
> mengalir ke kota. And why not? Mengapa mereka harus tertahan di desa?
> 
> Tentu saja caranya bukan dengan "menyuruh" pindah atau "memindahkan",
> tapi
> dengan memberi insentif untuk pindah. Misalnya dengan menawarkan
> beasiswa
> (termasuk biaya hidup) untuk sekolah di kota, menyediakan pekerjaan,
> tempat
> tinggal yang murah, fasilitas kesehatan gratis, dll. sambil memberi
> jaminan
> bahwa tanah yang ditinggalkan di desa tetap menjadi milik
> mereka/milik adat.
> 
> 
> Artikel NYT di atas berjudul "Should we Globalize Labor Too?"
> Kebetulan
> kasus yang dibahas adalah Nepal, sebuah negara terpencil yang sulit
> diakses.
> Menurut Lant Pritchett, proyek2 community development di sana
> (termasuk
> livelihoods, misalnya bagi-bagi kambing kepada orang miskin untuk
> diternakkan) bagus2 saja. Tapi itu tidak akan memecahkan masalah
> dasarnya. Saya tambahkan kutipan lain:
> 
> > Lant Pritchett says he has a better idea. Pritchett, a development
> > economist and practiced iconoclast, has just left the World Bank to
> teach at
> > Harvard and to help
>
Google<http://topics.nytimes.com/top/news/business/companies/google_inc/index.html?inline=nyt-org>plan
> its philanthropic efforts on global poverty. In a recent trip through
> > Chaurmuni, he praised the goats as community-driven development at
> its best:
> > a fast, flexible way of delivering tangible aid to the poor. "But
> Nepal
> > isn't going to goat its way out of poverty," he said. Nor does he
> think that
> > as a small, landlocked country Nepal can soon prosper through
> trade.
> >
> > To those standard solutions, trade and aid, Pritchett would add a
> third: a
> > big upset-the-applecart idea, equally offensive to the left and the
> right.
> > He wants a giant guest-worker program that would put millions of
> the world's
> > poorest people to work in its richest economies. Never mind the
> goats; if
> > you really want to help Gure Sarki, he says, let him cut your lawn.
> > Pritchett's nearly religious passion is reflected in the title of
> his
> > migration manifesto: "Let Their People Come." It was published last
> year to
> > little acclaim — none at all, in fact — but that is Pritchett's
> point. In a
> > world in which rock stars fight for debt relief and students shun
> sweatshop
> > apparel, he is vexed to find no placards raised for the cause of
> labor
> > migration. If goods and money can travel, why can't workers follow?
> What's
> > so special about borders?
> >
> Yang di atas adalah himbauan Pritchett untuk orang2 di Amerika.
> Katanya,
> kalau betul-betul mau bantu orang miskin di Nepal, biarkan dia datang
> ke
> Amerika - beri dia kerja apapun, walaupun cuma jadi tukang potong
> rumput.
> 
> Memang ide yang "nyeleneh". Tapi, apa salahnya kita pertimbangkan?
> 
> Salam hormat,
> Muli
> 



      
____________________________________________________________________________________
Check out the hottest 2008 models today at Yahoo! Autos.
http://autos.yahoo.com/new_cars.html

Kirim email ke