Pak Bambang & rekan-rekan ysh,

Terkait dengan judul "membangun daerah terpencil" (walaupun pak BTS khusus
membahasnya dari aspek fiskal), mungkin ada referensi yang menarik, yaitu
dokumen/laporan yang terkait dengan program Bappenas/UNDP di Tanah
Papua, yaitu People-centered Development Programme (PDP). [
http://www.undp.or.id/papua/, lalu klik reports]

Dalam "Multistakeholder Synthesis of the Development Situation in Papua"
(2005), saya agak tercengang membaca paragraf berikut: "Penggunaan kapasitas
keuangan daerah ... sangat bervariasi antar daerah, tetapi pada umumnya
porsi terbesar dipakai untuk belanja rutin/operasional. Pada tahun 2002,
rata-rata 63% dari jumlah penerimaan digunakan untuk belanja
rutin/operasional... rata-rata 5% digunakan untuk pendidikan... rata-rata 2%
untuk kesehatan."

Bagaimana tanggapan Pak Bambang tentang ini?

Selain itu, saya mau angkat pertanyaan yang mungkin agak
kontroversial/nyeleneh. Gak apa2 ya... Sorry, soalnya kaitannya lebih ke
tata ruang :) Selama ini, kok kita cenderung take for granted tentang
persebaran penduduk di daerah terpencil? Kesannya, karena kondisi ini adalah
given, kita (mungkin lebih tepat pemerintah) HARUS melayani semua
orang/penduduk, bahkan ketika hanya ada segelintir penduduk di pucuk gunung
sana. Akibatnya, biaya untuk melayani segelintir orang itu sangat mahal.

Kembali dalam laporan sintesis pembangunan Papua di atas, saya menemukan
berulang kali kalimat seperti ini: "Sebagian besar anak kampung SD tidak
dapat melanjutkan ke SMP karena letak sekolah yang jauh." "Guru yang
berkualitas enggan bertugas di kampung." "Pelayanan kesehatan belum
menjangkau seluruh warga mengingat wilayah yang luas, dan permukiman
penduduk yang tidak terkonsentrasi; diperlukan prasarana dan sarana
pelayanan dan pemberian pembiayaan yang optimal disertai ketenagaan dengan
jumlah dan kwalitas memadai." "Minimnya infrastruktur membatasi akses
pedagang melakukan perjalanan atau komunikasi ke daerah terpencil, membatasi
akses ke pasar..."

Loh, yang letaknya jauh itu SMP-nya atau kampung-nya? Mana yang lebih "baik"
(baik dalam arti apapun): menyediakan layanan dan infrastruktur sampai ke
kampung-kampung (artinya membangun/meng-"kota"-kan *wilayah *desa), atau
memindahkan kampung-kampung - yang mungkin isinya cuma puluhan orang - ke
daerah kota (artinya membangun/meng-"kota"-kan *orang *desa, sambil
membiarkan wilayah desa tetap jadi wilayah desa)?

Memang, ini pertanyaan lama. Tapi saya masih penasaran.

Salam,
Muli


On 9/5/07, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> 
>

Kirim email ke