Pak Eko, Pak BTS, Pak Aunur dan rekan2,
(...btw, kok "pak" semua ya?)

Senang sekali diskusinya berlanjut, dan tambah seru pula. Saya setuju dengan
pendapat Pak Eko bahwa ini masalah klasik yang belum ketemu jawabannya. Dan
tambah seru karena kondisi Indonesia yang unik (i.e. penduduknya tersebar
dalam ratusan, kalau bukan ribuan pulau) sehingga literatur dari luar belum
tentu cocok. Satu-satunya jalan adalah Indonesia harus cari jawabannya
sendiri; boleh ambil referensi dari luar, tapi kritisi dulu; jangan takut
berpikir "nyeleneh."

1. Utk Pak Aunur: menurut saya, program2 PNPM Mandiri seperti P2KP dan PPK
merupakan gabungan dari people-development dan region-development. Karena
apa? Antara lain 1) uang/bantuan-nya turun melalui mekanisme wilayah (yaitu
kelurahan atau kecamatan), 2) porsi yang cukup besar dari uangnya digunakan
untuk membangun infrastruktur wilayah (walaupun skalanya mikro, seperti
jembatan, jalan desa, dll).

Apakah sistem (seperti) ini berhasil? Saya tidak bisa menjawabnya. Yang
jelas, World Bank menganggap ini termasuk program poverty alleviation/rural
development generasi ke-3 atau paling mutakhir. Di Nepal, intervensi seperti
ini disebut PAF. Berikut cuplikan wawancara NY Times dengan Lant Pritchett:
(
http://www.nytimes.com/2007/06/10/magazine/10global-t.html?_r=1&ref=asia&oref=slogin
)


> PAF — the Poverty Alleviation Fund — "is a third-generation project," he
> said. The first generation tried everything at once — roads, drinking water,
> new crops — and failed through complexity. The second generation simplified:
> road builders just built roads; well diggers dug wells. But some villages
> got roads when they needed wells. And some villages got wells that did not
> work. Some villages got nothing because people stole the cash. The World
> Bank officials tried to fix these problems when they helped design the Nepal
> program, which so far has received $40 million. The program is flexible; the
> money can be put to many uses. It is "demand driven"; villagers decide. It
> is "transparent"; the accounting is posted on a bulletin board. And it is
> "targeted"; only poor villagers qualify. "PAF is state of the art," he said.
> "It's pimped up!"
>

2. Untuk Pak BTS dan Pak Eko:

Pak BTS bilang:

> "Memang distribusi penduduk yang terpencar dan terpencil  sangat
> merepotkan. Sulit untuk bisa membangun layanan yang efisien. Sementara
> memindahkan penduduk ke lokasi yang lebih urban ya tidak mungkin."


dan Pak Eko bilang:

> "tdk semudah itu menyuruh, mendukung orang utk melakukan migrasi, banyak
> faktor mulai dari institusi, kultur, yg membuat orang enggan
> bermigrasi... lagi pula urbanisasi berupa migrasi ke urban pun tdk
> terlalu banyak gunanya tanpa transformasi kultur, pola pikir, sikap,
> sistem produksi dari pola rural ke pola urban..."


Kenapa "tidak semudah itu" atau bahkan "tidak mungkin", Pak? Bagaimana
dengan dengan pekerja migran, TKI, perantau? Ketika keluarga saya pertama
kali pindah ke Jakarta dari sebuah desa kecil di Sumatera Barat, saya yakin
mereka juga belum siap dengan pola pikir/sikap urban. Bapak saya sambil
sekolah jadi pedagang kaki lima. Tapi akhirnya sedikit demi sedikit
kehidupan mereka makin baik dan secara mental makin siap. Seperti banyak
pedagang asongan lainnya: banyak yang tahun ini datang dari desa & ngasong,
tahun depan mungkin sudah buka warung, tahun depannya lagi warung itu sudah
populer dan pemiliknya bisa naik haji. Kasus seperti ini tidak terjadi pada
semua orang, tapi terjadi pada cukup banyak orang, sehingga orang desa terus
mengalir ke kota. And why not? Mengapa mereka harus tertahan di desa?

Tentu saja caranya bukan dengan "menyuruh" pindah atau "memindahkan", tapi
dengan memberi insentif untuk pindah. Misalnya dengan menawarkan beasiswa
(termasuk biaya hidup) untuk sekolah di kota, menyediakan pekerjaan, tempat
tinggal yang murah, fasilitas kesehatan gratis, dll. sambil memberi jaminan
bahwa tanah yang ditinggalkan di desa tetap menjadi milik mereka/milik adat.


Artikel NYT di atas berjudul "Should we Globalize Labor Too?" Kebetulan
kasus yang dibahas adalah Nepal, sebuah negara terpencil yang sulit diakses.
Menurut Lant Pritchett, proyek2 community development di sana (termasuk
livelihoods, misalnya bagi-bagi kambing kepada orang miskin untuk
diternakkan) bagus2 saja. Tapi itu tidak akan memecahkan masalah
dasarnya. Saya tambahkan kutipan lain:

> Lant Pritchett says he has a better idea. Pritchett, a development
> economist and practiced iconoclast, has just left the World Bank to teach at
> Harvard and to help 
> Google<http://topics.nytimes.com/top/news/business/companies/google_inc/index.html?inline=nyt-org>plan
>  its philanthropic efforts on global poverty. In a recent trip through
> Chaurmuni, he praised the goats as community-driven development at its best:
> a fast, flexible way of delivering tangible aid to the poor. "But Nepal
> isn't going to goat its way out of poverty," he said. Nor does he think that
> as a small, landlocked country Nepal can soon prosper through trade.
>
> To those standard solutions, trade and aid, Pritchett would add a third: a
> big upset-the-applecart idea, equally offensive to the left and the right.
> He wants a giant guest-worker program that would put millions of the world's
> poorest people to work in its richest economies. Never mind the goats; if
> you really want to help Gure Sarki, he says, let him cut your lawn.
> Pritchett's nearly religious passion is reflected in the title of his
> migration manifesto: "Let Their People Come." It was published last year to
> little acclaim — none at all, in fact — but that is Pritchett's point. In a
> world in which rock stars fight for debt relief and students shun sweatshop
> apparel, he is vexed to find no placards raised for the cause of labor
> migration. If goods and money can travel, why can't workers follow? What's
> so special about borders?
>
Yang di atas adalah himbauan Pritchett untuk orang2 di Amerika. Katanya,
kalau betul-betul mau bantu orang miskin di Nepal, biarkan dia datang ke
Amerika - beri dia kerja apapun, walaupun cuma jadi tukang potong rumput.

Memang ide yang "nyeleneh". Tapi, apa salahnya kita pertimbangkan?

Salam hormat,
Muli

Kirim email ke