Ysh. Aunur R dan milister lainnya. Konsep yang saya ajukan bagi pembangunan daerah terpencil (PDT) adalah Konsep Fiskal. Konsep pembangunan ini tentunya bukan konsep tata ruang. Menurut Pak Risman itu bukan konsepnya Planner, karena Planner itu harus fisik (betul begitu Pak Suhu Risman?). Sebetulnya, konsep pembangunan melalui pendekatan fiskal ini memang sangat khusus untuk PDT saja. Seperti posting saya sebelumnya bahwa pengembangan melalui fiskal ini hanya asupan awal (dengan menambah terus menerus uang inti), yang pada gilirannya nanti akan mampu men-therapy syaraf-syaraf keruangan sehingga ia akan terbuka (secara alami ataupun direncanakan) dan akhirnya berinteraksi ruang dengan daerah-daerah sekitarnya.
Saya kira cukup sedikit daerah-daerah yang benar-benar masih terpencil dan sudah cukup banyak daerah-daerah yang terpencil itu sudah terkuak (terbuka). Diperlukan proses lama mulai dari terpencil menjadi sedikit terkuak (terbuka). Oleh karenanya ide menciptakan "kota-kota kecil" di suatu pegunungan dari Kementerian Kesra adalah ide yang membuat "blunder" saja. Buat apa sih! Kembali pada bagaimana konkritnya PDT dengan konsep fiskal? Oleh karena fiskal itu adalah keuangan yang dikelola oleh pemerntah (daerah), maka kuncinya ada pada pemda itu sendiri. Jadi PDT itu lebih condong pada pola manajemen pembangunan, lebih konkrit lagi bagaimana manajemen belanja yang bisa memberikan dampak benefit yang luar biasa bagi masyarakat. Ada 2 benefit yang menjadi fokus utama, yaitu benefit ekonomi dan benefit pelayanan. Berdasarkan 2 fokus utama tadi, maka dapat disusun program-program yang nantinya berkinerja dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan meningkatkan pelayanan. Pertanyaannya, program-program apa saja? Dalam bentuk format, tema-tema program sudah diatur dalam Permendagri 13/2006 (mohon dibaca permendagri tersebut), tetapi dalam implementasinya (pelaksanaan program) bisa dikembangkan atau diarahkan yang benar-benar berdampak pada benefit masyarakat. Untuk itu memang harus didefinisikan terlebih dahulu apa yang membuat benefit bagi masyarakat. Untuk itu hubungan antara pemda dan masyarakat harus dekat (close) untuk bersama-sama memanfaatkan dana fiskal ini sebaik mungkin. Belajar dari M. Yunus (pemenang Nobel Perdamaian) ketika akan mengangkat ekonomi perempuan miskin, hubungan itu harus saling percaya. Dan pada awal M. Yunus mencoba membantu orang miskin di Desa Jobra dekat kampusnya (baca Bank Kaum Miskin, Gramedia), ia benar-benar menanyakan "Kalau saya mau bantu uang , apa yang akan dilakukan dengan uang itu?" Jawaban-jawaban mereka-lah yang akan menjadi sumber inspirasi penyusunan program APBD. Jadi begitulah, jenis belanja apa yang akan membuat mereka lebih sejahtera. Secara teoritis dari Konsep Fiskal bahwa strategi belanja yang akan dilakukan adalah yang mampu menciptakan "Agregat Demand" (awal dari perkembangan ekonomi kawasan). Ada 4 yang utama yaitu : (1) Menaikkan gaji pegawai. Seperti diketahui bahwa sumber penambahan uang inti berasal dari belanja mereka. Kalau gaji lebih tinggi, maka tingkat belanja akan tinggi. Belanja yang tinggi inilah yang akan menaikkan "Agregat Demand",...dan ekonomi akan menggeliat. (2) Membeli banyak barang-barang, khususnya barang yang diproduksi masyarakatnya sendiri. (3) Meningkatkan atau memperbanyak program dan proyek investasi, khususnya investasi yang berdampak pada peningkatan pelayanan. Pembangunan pelayanan ini juga dikerjakan oleh masyarakat sendiri secara padat karya. (4) Memberikan kredit lunak kepada usaha-usaha mandiri masyarakat. Begitulah Bung Aunur secara sederhananya. Jauh dari mencukupi untuk ruang milis terbatas ini untuk menjelaskan Konsep Fiskal yang saya maksud. Belum lagi aspek kelembagaan dan measurement untuk memonitor dan mengvaluasinya. Dan juga perlunya dukungan penataan ruang bila daerah terpencil itu sudah punya gelagat untuk tumbuh cepat. Thanks. CU. BTS. ----- Original Message ----- From: Aunur rofiq To: [email protected] Sent: Wednesday, September 05, 2007 3:59 PM Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil Milister, terutama mas BTS ysh, Karena pekerjaan saya mendorong pertumbuhan daerah terpencil, saya ingin dapat masukan tentang lebih banyak tentang konsep yang dikemukakan oleh BTS, sehingga daerah terpencil tadi akhirnya bisa tumbuh dan berinteraksi dengan daerah lain, secara wajar (maksudnya hukum pasar). Daerah terpencil yang tertutup masih cukup banyak seperti Tolikara, Peg Bintang, Puncak Jaya, Mappi, Kep Aru, Maluku Tenggara Barat, kalau tingkat kecamatan akan lebih banyak lagi. Saya pernah ditanya oleh Menteriku waktu ke Mentawai, apakah daerah ini rakyatnya bisa sejahtera, karena daerah miskin tersebut pertumbuhannya kurang dari 4% per tahun. Saya hanya bisa bilang, kan masih ada pertumbuhan pak!!. Milister ysh, memang kita perlu membahas daerah yang bisa cepat tumbuh dengan penataan ruang, tapi apa kata mas BTS, kita juga perlu membangun daerah "terpencil" yang hanya dapat tumbuh dengan fiskal (dan itu ternyata sangat buanyak) yang mungkin dalam beberapa puluh tahun ke depan masih sedikit interaksinya dengan daerah yang lebih terbuka. Misalnya apakah kita perlu membangun kota "kecil" di pegunungan bintang supaya aparat pemerintah dan masyarakat betah tinggal disana. Menko kesra sekarang sedang mencoba membuat kota "sangat kecil" tersebut di Kabupaten Tolikara. Ini diperuntukkan bagi anggota OPM yang turun gunung dan ingin mempunyai pemukiman sendiri. Konsep kota kecil ini persis seperti yang di terangkan oleh Mas BTS, yang jadi pertanyaan adalah aktifitas ekonomi apa saja yang bisa dikembangkan pada daerah terpencil tsb (seperti pertanyaan bung dwi agus)? apakah fiskal itu diperlukan mengingat daerah tersebut begitu tertutp? Sekarang mereka melakukan dengan sistem barter. Alat transportasi untuk mencapai wilayah tersebut "by foot" selama 2 hari setelah naik pesawat dari Wamena mendarat di ibukota Tolikara yang sangat indah itu. salam ----- Original Message ---- Visit Your Group Need traffic? Drive customers With search ads on Yahoo! Food Lovers Real Food Group on Yahoo! Groups find out more. Health & Fitness on Yahoo! Groups Useful info for the health conscious. .

