Ysh Muli dan milister lainnya.

Halo Muli apa khabar?

Memang mencengangkan kalau sebagian besar APBD itu untuk mendanai urusan 
pemerintahan, yaitu rata-rata 63% untuk belanja rutin dan operasional. Dan 
hanya sekitar 18% untuk investasi publik. Tetapi tidak usah terlalu risau sebab 
dari 63% tersebut, sekitar 30% adalah untuk menggaji guru dan paramedis (jadi 
tidak hanya untuk birokrat, tetapi juga untuk pelayanan). Kemudian sekitar 25% 
memang untuk gaji pegawai dan pemeliharaan, dan sekitar 7% untuk DPRD, sisanya 
untuk lain-lain urusan pemerintahan. Kalau tercatat untuk pendidikan itu 5% 
masih lumayan, saya pernah menghitung rata-rata hanya 3%. Jadi kalau untuk 
pendidikan dari 3% atau 5% dinaikkan menjadi 20%, maka akan sangat merepotkan 
bagaimana mengaturnya.

Soal distribusi penduduk yang cenderung "take for granted" memang rada aneh. 
Kalau mau efisien memang lebih baik di"aglomerasi"kan. Tapi pemikiran semacam 
ini tidak "main-stream" ya. Malah Departemen Nakertrans  mau membangun banyak 
(120?) kota terpadu mandiri (KTM) di kawasan perbatasan dan pulau-pulau 
terpencil dengan biaya Rp 7 triliun pada TA 2008. Menkesra juga mau mbangun 
kota-kota baru di daerah-daerah terpencil. Itu khan "blunder"? Ditjen Tata 
Ruang juga terus mengembangan tata ruang daerah-daerah remote..entahlah 
"..dream comes true" atau "... true goes dream". Di Departemen Kelautan dan 
Perikanan juga ada Direktorat Penataan Ruang Daerah Pesisir (bukankah sebagian 
besar pesisir adalah daerah remote?).

Ya entahlah, kita monitor dan evaluasi saja, seberapa jauh kinerja program yang 
dibuat. Semoga berhasil.

Thanks. CU. BTS.

  ----- Original Message ----- 
  From: Mulya Amri 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, September 18, 2007 3:52 PM
  Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil



  Pak Bambang & rekan-rekan ysh,

  Terkait dengan judul "membangun daerah terpencil" (walaupun pak BTS khusus 
membahasnya dari aspek fiskal), mungkin ada referensi yang menarik, yaitu 
dokumen/laporan yang terkait dengan program Bappenas/UNDP di Tanah Papua, yaitu 
People-centered Development Programme (PDP). [ http://www.undp.or.id/papua/, 
lalu klik reports] 
   
  Dalam "Multistakeholder Synthesis of the Development Situation in Papua" 
(2005), saya agak tercengang membaca paragraf berikut: "Penggunaan kapasitas 
keuangan daerah ... sangat bervariasi antar daerah, tetapi pada umumnya porsi 
terbesar dipakai untuk belanja rutin/operasional. Pada tahun 2002, rata-rata 
63% dari jumlah penerimaan digunakan untuk belanja rutin/operasional... 
rata-rata 5% digunakan untuk pendidikan... rata-rata 2% untuk kesehatan." 

  Bagaimana tanggapan Pak Bambang tentang ini?

  Selain itu, saya mau angkat pertanyaan yang mungkin agak 
kontroversial/nyeleneh. Gak apa2 ya... Sorry, soalnya kaitannya lebih ke tata 
ruang :) Selama ini, kok kita cenderung take for granted tentang persebaran 
penduduk di daerah terpencil? Kesannya, karena kondisi ini adalah given, kita 
(mungkin lebih tepat pemerintah) HARUS melayani semua orang/penduduk, bahkan 
ketika hanya ada segelintir penduduk di pucuk gunung sana. Akibatnya, biaya 
untuk melayani segelintir orang itu sangat mahal. 

  Kembali dalam laporan sintesis pembangunan Papua di atas, saya menemukan 
berulang kali kalimat seperti ini: "Sebagian besar anak kampung SD tidak dapat 
melanjutkan ke SMP karena letak sekolah yang jauh." "Guru yang berkualitas 
enggan bertugas di kampung." "Pelayanan kesehatan belum menjangkau seluruh 
warga mengingat wilayah yang luas, dan permukiman penduduk yang tidak 
terkonsentrasi; diperlukan prasarana dan sarana pelayanan dan pemberian 
pembiayaan yang optimal disertai ketenagaan dengan jumlah dan kwalitas 
memadai." "Minimnya infrastruktur membatasi akses pedagang melakukan perjalanan 
atau komunikasi ke daerah terpencil, membatasi akses ke pasar..." 

  Loh, yang letaknya jauh itu SMP-nya atau kampung-nya? Mana yang lebih "baik" 
(baik dalam arti apapun): menyediakan layanan dan infrastruktur sampai ke 
kampung-kampung (artinya membangun/meng-"kota"-kan wilayah desa), atau 
memindahkan kampung-kampung - yang mungkin isinya cuma puluhan orang - ke 
daerah kota (artinya membangun/meng-"kota"-kan orang desa, sambil membiarkan 
wilayah desa tetap jadi wilayah desa)? 

  Memang, ini pertanyaan lama. Tapi saya masih penasaran. 

  Salam,
  Muli
   

  On 9/5/07, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
     




   

Kirim email ke