Pak Aunur, Pak BTS, dan Bung Muli,

Senang juga topik ini diangkat kembali. Kalau Pak Aunur dan Bung Muli
tidak keberatan melihat kembali posting2 terdahulu, topik ini sudah
banyak juga saya dan Pak BTS tulis...

Bung Muli tidak sepenuhnya salah (dan Pak BTS tidak sepenuhnya benar)
ketika dikatakan bahwa Planner lebih condong pada (istilah Pak) BTS:
"region based development"... mengapa? lihat saja di RTRWN, yg dibahas
adalah "kawasan andalan", "kawasan tertinggal", dsb... jadi fokusnya pd
kawasan/ region nya, bukan pd "orang" nya... pdhal dlm kawasan2 andalan
dan tertinggal tersebut terdapat:
1. orang kaya dan orang miskin.
2. orang2 tsb bisa saja migrasi...seringkali kita beranggapan bahwa
people stay di sana terus...

Akibatnya:
1. program pembangunan infrastruktur oleh pemerintah ke kawasan2
tertinggal, misalkan, sering tidak memberikan benefit pd the poorest of
the poor... malah yg diuntungkan orang2 kaya di kawasan2 tsb...
2. dengan terbukanya suatu kawasan yg terjadi seringkali migrasi dari
kwsn tsb ke perkotaan yg membuat kawasan tsb menjadi semakin
tertinggal... beberapa kabupaten di Madura adalah contoh nyata...
mungkin juga Garut Selatan... dan masih banyak implikasi lainnya...

Topik ini sebetulnya topik lama dalam dunia akademik... pertamakali
dilemparkan oleh Louis Winnick di tahun 1966: "Place Prosperity vs
People Prosperity" (sayangnya papernya tdk dpt saya temukan di
internet)... kemudian diangkat lagi oleh Roger Bolton dlm artikel di
jurnal Urban Studies (hard copynya bisa di copy di perpus PL ITB yg
mengkoleksi jurnal pd tahun tsb)...
http://www.ingentaconnect.com/content/routledg/curs/1992/00000029/00000002/art00003;jsessionid=4l56isb4umgc4.victoria

Di internet, masalah ini juga dibahas di blog ini:
http://planningresearch.blogspot.com/2007/02/place-based-vs-person-based-community.html

Contoh negara yg pernah menerapkan place prosperity adalah Perancis dg
Amenagement du territoire nya, yg menggabungkan usaha pembangunan
ekonomi regional dan nasional dg pembangunan spasial...tetapi penerapan
kebijakan ini pun sangat terkait dg pemenang politik di negara tsb...
kebijakan amenagement du territoire ini dimulai oleh pemerintah
Perancis ketika sosialis memegang tampuk pemerintahan bahkan diangkat
di bawah kantor perdana menteri... Namun Pemerintah Perancis memang
lebih serius, beberapa hal yg dipengaruhi kebijakan ini antara lain
pembangunan TGV, pemberian insentif pajak bagi pengusaha yg invest di
luar Paris, pengembangan 8 metropolitan penyeimbang Paris (pernah saya
diskusikan panjang dg Pak Aby di milis ini), dll...di Indonesia kita
baru sebatas penetapan kawasan andalan, tertinggal, kapet, dan sedikit
dana pembangunan... semoga kantor Pak Aunur bisa menambah serius
program ini...

namun kembali, program place prosperity atau region based devt ini
program yg mahal...lebih efisien menyuruh masyarakat utk migrasi spt
saran Bung Muli... tapi seperti diskusi saya dg Pak Aby ttg migrasi,
tdk semudah itu menyuruh, mendukung orang utk melakukan migrasi, banyak
faktor mulai dari institusi, kultur, yg membuat orang enggan
bermigrasi... lagi pula urbanisasi berupa migrasi ke urban pun tdk
terlalu banyak gunanya tanpa transformasi kultur, pola pikir, sikap,
sistem produksi dari pola rural ke pola urban... tanpa itu, yg terjadi
hanya urbanisasi semu, hanya memindahkan kemiskinan desa menjadi
kemiskinan kota...

Mengapa saya senang topik ini diangkat kembali? Karena saya masih
penasaran dg jawaban, dan ingin belajar, paling tdk pengalaman empirik
dari bapak2... Indonesia adalah negara unik, kepulauan yg luas dg
penduduk yg tersebar membuat pembangunan region based menjadi mahal,
tetapi di sisi lain umumnya setiap suku memiliki keterkaitan kuat
secara adat, kultur, dg place di mana mereka berasal yg membuat region
based devt tdk bisa dikesampingkan, karena akan membuat kecemburuan
antar suku dan keinginan memisahkan diri dari NKRI muncul... so
bagaimana jawabannya? tidak dapat dicari di literatur karena keunikan
bentuk Indonesia...semoga bapak2 tdk berkeberatan membagi ilmu...
terimakasih..

salam dari Savannah..eh Paris...hehe..

Eko...


--- Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> milister ysh
> Saya senang dengan wacana tentang "region based development" vs
> "people based development", untuk membangun daerah tertinggal, karena
> saat ini sedang ada debat diantara para birokrat dalam upaya
> mengurangi "kemiskinan", apakah harus dengan pemberian bantuan
> langsung pada masyarakat (BLM) seperti yang akan dilakukan melalui
> PNPM mandiri. Atau kita harus melalui pendekatan region based
> development lebih dahulu atau dua-duanya...... atau PNPM mandiri
> hanya sebuah upaya jangka pendek bagi keperluan "politik" atau memang
> PNPM cocok untuk membangun daerah tertinggal ? Saya ingin memperoleh
> pencerahan tentang kedua "term" diatas. Mudah2an bung BTS atau bung
> Muli mau menjelaskan lebih lanjut
> salam 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, September 18, 2007 8:46:14 PM
> Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil
> 
> 
> Ysh Muli dan milister lainnya.
>  
> Halo Muli apa khabar?
>  
> Memang mencengangkan kalau sebagian besar APBD itu untuk mendanai
> urusan pemerintahan, yaitu rata-rata 63% untuk belanja rutin dan
> operasional. Dan hanya sekitar 18% untuk investasi publik. Tetapi
> tidak usah terlalu risau sebab dari 63% tersebut, sekitar 30% adalah
> untuk menggaji guru dan paramedis (jadi tidak hanya untuk birokrat,
> tetapi juga untuk pelayanan). Kemudian sekitar 25% memang untuk gaji
> pegawai dan pemeliharaan, dan sekitar 7% untuk DPRD, sisanya untuk
> lain-lain urusan pemerintahan. Kalau tercatat untuk pendidikan itu 5%
> masih lumayan, saya pernah menghitung rata-rata hanya 3%. Jadi kalau
> untuk pendidikan dari 3% atau 5% dinaikkan menjadi 20%, maka akan
> sangat merepotkan bagaimana mengaturnya.
>  
> Soal distribusi penduduk yang cenderung "take for granted" memang
> rada aneh. Kalau mau efisien memang lebih baik di"aglomerasi"kan.
> Tapi pemikiran semacam ini tidak "main-stream" ya. Malah Departemen
> Nakertrans  mau membangun banyak (120?) kota terpadu mandiri (KTM) di
> kawasan perbatasan dan pulau-pulau terpencil dengan biaya Rp 7
> triliun pada TA 2008. Menkesra juga mau mbangun kota-kota baru di
> daerah-daerah terpencil. Itu khan "blunder"? Ditjen Tata Ruang juga
> terus mengembangan tata ruang daerah-daerah remote..entahlah "..dream
> comes true" atau "... true goes dream". Di Departemen Kelautan dan
> Perikanan juga ada Direktorat Penataan Ruang Daerah Pesisir (bukankah
> sebagian besar pesisir adalah daerah remote?).
>  
> Ya entahlah, kita monitor dan evaluasi saja, seberapa jauh kinerja
> program yang dibuat. Semoga berhasil.
>  
> Thanks. CU. BTS.
>  
> ----- Original Message ----- 
> From: Mulya Amri 
> To: [email protected] 
> Sent: Tuesday, September 18, 2007 3:52 PM
> Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil
> 
> 
> Pak Bambang & rekan-rekan ysh,
>  
> Terkait dengan judul "membangun daerah terpencil" (walaupun pak BTS
> khusus membahasnya dari aspek fiskal), mungkin ada referensi yang
> menarik, yaitu dokumen/laporan yang terkait dengan program
> Bappenas/UNDP di Tanah Papua, yaitu People-centered Development
> Programme (PDP). [ http://www.undp. or.id/papua/, lalu klik reports] 
>  
> Dalam "Multistakeholder Synthesis of the Development Situation in
> Papua" (2005), saya agak tercengang membaca paragraf berikut:
> "Penggunaan kapasitas keuangan daerah ... sangat bervariasi antar
> daerah, tetapi pada umumnya porsi terbesar dipakai untuk belanja
> rutin/operasional. Pada tahun 2002, rata-rata 63% dari jumlah
> penerimaan digunakan untuk belanja rutin/operasional. .. rata-rata 5%
> digunakan untuk pendidikan.. . rata-rata 2% untuk kesehatan." 
>  
> Bagaimana tanggapan Pak Bambang tentang ini?
>  
> Selain itu, saya mau angkat pertanyaan yang mungkin agak
> kontroversial/ nyeleneh. Gak apa2 ya... Sorry, soalnya kaitannya
> lebih ke tata ruang :) Selama ini, kok kita cenderung take for
> granted tentang persebaran penduduk di daerah terpencil? Kesannya,
> karena kondisi ini adalah given, kita (mungkin lebih tepat
> pemerintah) HARUS melayani semua orang/penduduk, bahkan ketika hanya
> ada segelintir penduduk di pucuk gunung sana. Akibatnya, biaya untuk
> melayani segelintir orang itu sangat mahal. 
>  
> Kembali dalam laporan sintesis pembangunan Papua di atas, saya
> menemukan berulang kali kalimat seperti ini: "Sebagian besar anak
> kampung SD tidak dapat melanjutkan ke SMP karena letak sekolah yang
> jauh." "Guru yang berkualitas enggan bertugas di kampung." "Pelayanan
> kesehatan belum menjangkau seluruh warga mengingat wilayah yang luas,
> dan permukiman penduduk yang tidak terkonsentrasi; diperlukan
> prasarana dan sarana pelayanan dan pemberian pembiayaan yang optimal
> disertai ketenagaan dengan jumlah dan kwalitas memadai." "Minimnya
> infrastruktur membatasi akses pedagang melakukan perjalanan atau
> komunikasi ke daerah terpencil, membatasi akses ke pasar..." 
>  
> Loh, yang letaknya jauh itu SMP-nya atau kampung-nya? Mana yang lebih
> "baik" (baik dalam arti apapun): menyediakan layanan dan
> infrastruktur sampai ke kampung-kampung (artinya
> membangun/meng-"kota"-kan wilayah desa), atau memindahkan
> kampung-kampung - yang mungkin isinya cuma puluhan orang - ke daerah
> kota (artinya membangun/meng-"kota"-kan orang desa, sambil membiarkan
> wilayah desa tetap jadi wilayah desa)? 
>  
> Memang, ini pertanyaan lama. Tapi saya masih penasaran. 
>  
> Salam,
> Muli
>  
>  
> On 9/5/07, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED] id> wrote: 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>        
>
____________________________________________________________________________________
> Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search 
> that gives answers, not web links. 
> http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC



      
____________________________________________________________________________________
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

Kirim email ke