Ini adalah pertanyaan mengenai 'keniscayaan peradaban Urban/industri'..

kalau moda produksinya mau meninggalkan buru-ramu dan menuju cocok-tanam bahkan 
industri (including but not limited to manufacturing),
ya tentunya penduduk yg terkonsentrasi akan lebih murah.

Dengan biaya yang sama akan melayani lebih banyak orang.
Jadi... konsentrasi penduduk akan meningkatkan efektifitas daya jangkau 
pelayanan. (its only math)

Pertanyaan berikutnya adalah 'bagaimana melecutkan revolusi budaya ini di 
Papua?' 

Saya kira peran institusi agama bisa lebih besar... 

salam,
-K-



Harya Setyaka

Duren Tiga Selatan 89

Jakarta INDONESIA



----- Original Message ----

From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>

To: [email protected]

Sent: Tuesday, September 18, 2007 8:46:14 PM

Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil



                                 

Ysh Muli dan milister lainnya.

  

 Halo Muli apa khabar?

  

 Memang mencengangkan kalau sebagian besar APBD itu  untuk mendanai urusan 
pemerintahan, yaitu rata-rata 63% untuk belanja rutin dan  operasional. Dan 
hanya sekitar 18% untuk investasi publik. Tetapi tidak usah  terlalu risau 
sebab dari 63% tersebut, sekitar 30% adalah untuk menggaji guru  dan paramedis 
(jadi tidak hanya untuk birokrat, tetapi juga untuk pelayanan).  Kemudian 
sekitar 25% memang untuk gaji pegawai dan pemeliharaan, dan sekitar 7%  untuk 
DPRD, sisanya untuk lain-lain urusan pemerintahan. Kalau tercatat untuk  
pendidikan itu 5% masih lumayan, saya pernah menghitung rata-rata hanya 3%. 
Jadi  kalau untuk pendidikan dari 3% atau 5% dinaikkan menjadi 20%, maka akan 
sangat  merepotkan bagaimana mengaturnya.

  

 Soal distribusi penduduk yang cenderung "take for  granted" memang rada aneh. 
Kalau mau efisien memang lebih baik  di"aglomerasi" kan. Tapi pemikiran semacam 
ini tidak "main-stream" ya. Malah  Departemen Nakertrans  mau membangun banyak 
(120?) kota terpadu mandiri  (KTM) di kawasan perbatasan dan pulau-pulau 
terpencil dengan biaya Rp 7 triliun  pada TA 2008. Menkesra juga mau mbangun 
kota-kota baru di daerah-daerah  terpencil. Itu khan "blunder"? Ditjen Tata 
Ruang juga terus mengembangan tata  ruang daerah-daerah remote..entahlah 
"..dream comes true" atau "... true  goes dream". Di Departemen Kelautan dan 
Perikanan juga ada Direktorat Penataan  Ruang Daerah Pesisir (bukankah sebagian 
besar pesisir adalah daerah  remote?).

  

 Ya entahlah, kita monitor dan evaluasi saja,  seberapa jauh kinerja program 
yang dibuat. Semoga berhasil.

  

 Thanks. CU. BTS.

  

    ----- Original Message ----- 

   From:    Mulya    Amri 

   To: [EMAIL PROTECTED] ps.com 

   Sent: Tuesday, September 18, 2007 3:52    PM

   Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah    Terpencil

   



         

Pak Bambang & rekan-rekan ysh,

    

   Terkait dengan judul "membangun daerah terpencil" (walaupun pak BTS    
khusus membahasnya dari aspek fiskal), mungkin ada referensi yang menarik,    
yaitu dokumen/laporan yang terkait dengan program Bappenas/UNDP di Tanah    
Papua, yaitu People-centered Development Programme (PDP). [ http://www.undp. 
or.id/papua/,    lalu klik reports] 

 

   Dalam "Multistakeholder Synthesis of the Development Situation in Papua"    
(2005), saya agak tercengang membaca paragraf berikut: "Penggunaan kapasitas    
keuangan daerah ... sangat bervariasi antar daerah, tetapi pada umumnya porsi   
 terbesar dipakai untuk belanja rutin/operasional. Pada tahun 2002, rata-rata   
 63% dari jumlah penerimaan digunakan untuk belanja rutin/operasional. ..    
rata-rata 5% digunakan untuk pendidikan.. . rata-rata 2% untuk kesehatan."    

    

   Bagaimana tanggapan Pak Bambang tentang ini?

    

   Selain itu, saya mau angkat pertanyaan yang mungkin agak    kontroversial/ 
nyeleneh. Gak apa2 ya... Sorry, soalnya kaitannya lebih ke    tata ruang :) 
Selama ini, kok kita cenderung take for granted tentang    persebaran penduduk 
di daerah terpencil? Kesannya, karena kondisi ini adalah    given, kita 
(mungkin lebih tepat pemerintah) HARUS melayani semua    orang/penduduk, bahkan 
ketika hanya ada segelintir penduduk di pucuk gunung    sana. Akibatnya, biaya 
untuk melayani segelintir orang itu sangat mahal.  

    

   Kembali dalam laporan sintesis pembangunan Papua di atas, saya menemukan    
berulang kali kalimat seperti ini: "Sebagian besar anak kampung SD tidak dapat  
  melanjutkan ke SMP karena letak sekolah yang jauh." "Guru yang berkualitas    
enggan bertugas di kampung." "Pelayanan kesehatan belum menjangkau seluruh    
warga mengingat wilayah yang luas, dan permukiman penduduk yang tidak    
terkonsentrasi; diperlukan prasarana dan sarana pelayanan dan pemberian    
pembiayaan yang optimal disertai ketenagaan dengan jumlah dan kwalitas    
memadai." "Minimnya infrastruktur membatasi akses pedagang melakukan    
perjalanan atau komunikasi ke daerah terpencil, membatasi akses ke pasar..."    

    

   Loh, yang letaknya jauh itu SMP-nya atau kampung-nya? Mana yang lebih    
"baik" (baik dalam arti apapun): menyediakan layanan dan infrastruktur sampai   
 ke kampung-kampung (artinya membangun/meng- "kota"-kan wilayah    desa), atau 
memindahkan kampung-kampung - yang mungkin isinya cuma    puluhan orang - ke 
daerah kota (artinya membangun/meng- "kota"-kan    orang desa, sambil 
membiarkan wilayah desa tetap jadi wilayah    desa)? 

    

   Memang, ini pertanyaan lama. Tapi saya masih penasaran. 

    

   Salam,

   Muli

 

    

   On 9/5/07, Bambang Tata    Samiadji <[EMAIL PROTECTED] id> wrote:          







   



      

                  <!--  #ygrp-mkp{ border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;} #ygrp-mkp hr{ 
border:1px solid #d8d8d8;} #ygrp-mkp #hd{ 
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;} 
#ygrp-mkp #ads{ margin-bottom:10px;} #ygrp-mkp .ad{ padding:0 0;} #ygrp-mkp .ad 
a{ color:#0000ff;text-decoration:none;} -->    <!--  #ygrp-sponsor #ygrp-lc{ 
font-family:Arial;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{ margin:10px 
0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc 
.ad{ margin-bottom:10px;padding:0 0;} -->    <!--  #ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg 
table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea 
{font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code 
{font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ 
font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{
 font-family:Arial; clear:both;} #ygrp-vitnav{ 
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ 
padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px 
0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{ 
float:left;white-space:nowrap;} .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ 
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{ 
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } 
#ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;}  #ygrp-vital{ 
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} #ygrp-vital 
#vithd{ 
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
 #ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{ 
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li 
.ct{ 
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
 #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;}
 #ygrp-vital a{ text-decoration:none;}  #ygrp-vital a:hover{ 
text-decoration:underline;}  #ygrp-sponsor #hd{ color:#999;font-size:77%;} 
#ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 
13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov ul{ 
padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ 
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ 
text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc{ 
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ 
padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{ 
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
 #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ 
text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o{font-size:0;} 
.MsoNormal{ margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} 
blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq{margin:4;} -->   









       
____________________________________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play 
Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/  

Kirim email ke