Pak Bambang, saya sepakat untuk "jangan suudzon", tetapi juga mudah-mudahan
mau mencoba melihat di dua sisi, karena setiap cerita hampir selalu punya
dua sisi, apalagi Papua yang sarat dengan berbagai cerita. Saya palingan
ingin sekali membagi dua cerita yang pertama ditulis oleh seseorang yang
bekerja di Jayapura, bersama dengan Bappeda. Ia bertemu dengan Mama Yosepha
yang di http://startingeachday.blogspot.com/2007/05/yosepha-alomang.html
mengatakan hal berikut: 
 
Mama Yosepha juga masih khawatir dengan Freeport yang hanya membuatkan rumah
yang bagus secara fisik akan tetapi tidak perduli dengan pembangunan
manusianya. Tidak ada pelayanan kesehatan dan pendidikan yang cukup layak
bagi masyarakat asli Papua. Dari bibir perempuan sederhana yang hanya sempat
bersekolah hingga kelas 4 SD ini meluncur kalimat-kalimat yang sarat dengan
filsafat tinggi tentang pembangunan manusia Papua, tentang kesehatan
reproduksi perempuan papua, tentang kesehatan dan pendidikan anak-anak
papua, tentang kesejahteraan ekonomi masyarakat papua.
 
Kemudian ada satu tulisan lain, kali ini dibuat oleh salah satu jurnalis
Indonesia yang bisa dibaca di
<http://andreasharsono.blogspot.com/2007/02/murder-at-mile-63.html>
http://andreasharsono.blogspot.com/2007/02/murder-at-mile-63.html
 
Saya pikir, kita perlu melihat bahwa perencanaan tokh tidak sekedar
perencanaan fisik, dan bahwa tujuan utamanya adalah kualitas hidup manusia
yang ada disitu. mau itu orang asli Papua atau tidak, dan bahwa program
dengan pendekatan filantropis atau program sejenis dengan label social
corporate responsibility jangan kemudian membuat kita merasa puas. Pak, saya
pikir tidak semua orang papua ingin mendapatkan apa yang ada di tanah, bawah
tanah atau atas tanahnya dengan gratis kok. Bukan sesederhana itu. Ini
menurut pandangan saya. Ah, tapi Ninik barangkali bisa bercerita lebih
banyak. Saya sendiri juga tidak ada di Papua, bukan orang Papua ataupun
punya hubungan pekerjaan di sana. 
 
Rasanya, setiap membuat dokumen perencanaan, narasumber lebih banyak orang
pemerintah dan orang-orang yang direkomendasikan pemerintah (atau bahkan
hanya data-data sekunder), tapi jarang sekali kita juga coba menggali dari
mereka yang "berseberangan" setidaknya untuk memperoleh semua fakta yang
baru bisa lengkap ketika kita coba cari dari semua sisi. Barangkali ini
hanya pengalaman saya yang memang masih minim sekali.
 
salam
mellyana
 
 


  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, November 19, 2007 11:36 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] Otsus dan DAU



Mas BTS, mas Dwiagus, uda Eka,  rekan milster ysc,

Hanya satu yang saya ingin ungkapkan tentang PAPUA .... Jangan suudzon
dengan siapapun. Kebetulan saya sudah berbicara dengan 2 kelompok yang
'bertikai' yaitu PT Freeport dan perwakilan MRP. Untuk MRP sekarang sedang
mempersiapkan sebuah rencana strategis pembangunan Papua. Sedangkan pihak PT
Freeport sedang mempersiapkan program peningkatan ekonomi masyarakat. Jadi
marilah kita tunggu. Kebetulan saya diminta untuk menjadi advisornya...
katanya karena ini menyangkut HAM (bukan ham dari daging babi lho). 

Kalau tentang OTSUS saya tidak mau dan tidak bisa bicara. Ada beberapa hal
faktual yang menjadi stigma di Papua... masyarakat Papua menganggap bahwa
semua kekayaan ini milik mereka, sehingga mereka BERHAK mendapatkan itu
semua dengan gratis. Sehingga mereka mengatakan saya berbuat apapun terserah
saya. Ini ditambah lagi dengan cultural change yang berhasil dilakukan oleh
Belanda sehingga masyarakat demikian doyan untuk bermabuk-mabukan. Susunan
masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang memudahkan semua
permasalahan dan ... terbelenggu oleh alkohol. Ini sudah saya konfirmasi
oleh teman2 dari pengurus MRP.  Kedua, dari pihak PT. Freeport mencoba
menjadi sinterklas dan melakukan pendekatan filantropis (saya menangkap dari
program mereka). Dampaknya, kasih ikan tapi tetap gak diajari berenang.
Ketiga, aparat pemerintah daerah diajari untuk berpikir seperti orang
Jakarta... sehingga muncul ambtenaar dan pangreh praja. Pendekatan yang be!
rbau pemberdayaan sangat tidak disenangi... terlalu banyak saya temui Bupati
yang menyekolahkan anaknya di Yogya dan Bandung. Bahkan saya pernah punya
teman sekwilda di sana yang semua anaknya tinggal di Yogya sekolah dan
hampir setiap bulan di ke Yogya ... berarti 6 juta. Demikian banyaknya
pejabat yang melakukan hal tersebut sehingga ada jalur pesawat biak - yogya.
Jadi yang terjadi adalah keacuhan dr pejabat krn terbuai oleh platform
wilayah barat Indonesia. 

Tentang masalah APBD... mungkin ada baiknya mas BTS diminta untuk
menceritakan tentang Permendagri 13/2007 dan Permendagri 59/2007 yang saat
ini sangat ribut karena memberi ijin bagi kepala daerah untuk memberikan
tunjangan tambahan kepada PNSnya seberapapun ... (he he he rada di blow up
dikit). Artinya bisa terjadi PNS di Kutai Kartanegara akan mendapat gaji
yang sama dengan PNS lainnya, namun diberi tambahan untuk golongan 1A tambah
3 juta dan untuk eselon 2 ... 30 juta dan sekdanya dapat 50-75 juta he he
he. Itu sah menurut Permendagri 59/2007. Katanya untuk menyesuaikan dengan
kemampuan daerah dan menekan korupsi. 

Monggo silahkan dibaca saja

Salam

bambang sp

Kirim email ke