Pak Ekadj memang untuk berfenomenologi memerlukan latihan, khususnya berusaha / 
berlatih terbiasa "memurnikan diri" sekaligus memandang "obyek yang murni". 
Intinya pengamat untuk sementara menyingkirkan isi kepalanya pada waktu 
memandang obyek, tanpa menutupi hatinya; selanjutnya berusaha melihat obyek 
yang murni, tanpa terpengaruh apapun yang pernah dikatakan orang lain terhadap 
obyek tersebut termasuk opini informan yang mengungkapkannya. Itu tahap yang 
pertama yang justru menarik karena kita selalu dalam kesadaran kritis terhadap 
diri sendiri maupun terhadap obyek yang sedang kita kontemplasikan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 8/11/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: critical planning ?
To: [email protected]
Date: Tuesday, August 11, 2009, 11:26 PM






 




    
                  

Pak Djarot, rumusan yang bapak sampaikan memang untuk menangkap

kejernihan sistem lingkungan untuk sampai kepada hukum-hukum alam

(sunnatullah) . Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan juga : 1)

sunnatullah memang bisa sekehendak yang empunya hukum, sehngga relatif

di sisi manusia, 2) kejernihan (wening) dilandaskan pada keikhlasan dan

ikhtiar, dan bisa sulit kalau kita sudah memiliki pretensi, dan 3) kita

terkadang sudah terbekali dengan platform dari sistem ilmu-pengetahuan,

syara', dan budaya; sehingga bisa sulit melakukan tahapan metode

fenomenologi itu. Apakah demikian? Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Pak Ekadj, berikut ini saya kutipkan dua kalimat yang saya anggap

penting dalam alur berpikir fenomenologi yang saya hayati, semoga

bermanfaat. Satunya dari Van Peursen dan yang lain rumusan saya sendiri.

Kalimat ini saya cantumkan menjadi bagian penting dalam salah satu

lembar naskah yang sedang saya susun.

>

> (1) Kebenaran tak dapat dipetik demikian saja bagaikan buah-buah

jambu, sebab jumlah relasi yang terkandung di dalam suatu obyek tak ada

batasnya ……..

>

> (C.A Van Peursen, 1988)

>

> (2) Berfenomenologi adalah bersatu dengan fenomena dalam sikap murni

dan terbuka, tekun dan cermat menelusuri profil-profil fenomena dan

relasi-relasinya yang amat kaya, lapis demi lapis, bagian demi bagian,

menghubung-hubungka n dan mendialogkan, kemudian berusaha menembus kabut

setahap demi setahap untuk berjumpa dengan realitas hakiki yang

tersembunyi

> di baliknya….

>

> (Djarot Purbadi, 2008)

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke