Pak Risfan, penjelasan tersebut terpaksa saya ungkapkan dengan hati takut 
kualat karena di forum ini banyak guru yang diatas saya, mohon maaf terpaksa 
supaya jelas hubungan fenomenologi dengan yang lain. Itu saja.

Proyeksi ke depan saya kira dimungkinkan sebab yang ingin dilihat dengan 
fenomenologi adalah semacam hal-hal abstrak yang relatif mapan atau sangat 
sulit berubah. Pikiran bisa berubah, tetapi nilai yang dihayati oleh seseorang 
atau masyarakat umumnya sulit berubah. Persoalannya adalah, bagaimana melihat 
dialog hal-hal yang sulit berubah itu dengan hal-hal eksternal yang datang 
kemudian. Fenomenologi maunya melihat yang sifatnya esensial, dan persoalan 
kaitannya dengan yang instrumental (di luar) lantas menjadi varian yang bisa 
dijelaskan dari sudut pandang esensial tersebut.

Jika pada awalnya kita menggunakan pendekatan fenomenologi untuk memahami 
situasi, maka jika kita ingin melakukan intervensi prosesnya juga menggunakan 
fenomenologi juga biasanya lebih pas. Artinya kita menularkan cara pandang 
tersebut kepada klien supaya cara pandang itu menjadi sarana pokok dalam 
menciptakan planning kolektif. Pada titik ini kita turun gunung menggunakan 
pola proses partisipatif. Supaya dapat berjalan mulus, kita menggunakan bahasa 
awam.

Saya pernah mengingatkan seorang kepala suku di Kaenbaun tentang fungsi lopo. 
Pada nenek-moyang, lopo adalah ruang tamu. Nah ketika saya temukan lopo untuk 
kandang sapi atau kambing atau babi, saya mulai bergurau bahwa orang Kaenbaun 
mulai tidak taat kepada warisan budaya nenek-moyang. Lopo milik seorang kepala 
suku bahkan digunakan untuk menginapkan sapinya. Saya dengan gaya awam alias 
"guyonan parikeno" alias diguyoni jika kena ya sokur, berhasil mengubah sikap 
kepala suku terhadap lopo tersebut. Pada kunjungan hari lain saya diajak kepala 
suku itu untuk menyaksikan lopo-nya yang sekarang sudah bersih dan tidak ada 
sapi di situ. Fenomenolog bisa menjadi teman yang mengubah masyarakat dengan 
cara meninjau kritis perilaku mereka dari sudut pandang mereka sendiri. Tanpa 
memahami secara mendalam hal-hal abstrak yang mendasari ungkapan budaya mereka 
kita tidak mungkin bisa menjadi partner yang baik dan kritis.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 8/8/09, risfano <[email protected]> wrote:

From: risfano <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Saturday, August 8, 2009, 6:58 AM






 




    
                  Pak Djarot,

Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya. 

Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami kejadian dan 
apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan nya diproyeksikan ke 
depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat masyarakat setempat juga 
berkembang terus.



Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan ide/faham baru 
juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut ada eksploitasi, 
penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme, klenik). Kan kita harus 
mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak alasan kramat yang membuat anak 
kecil cuma kebagian "ceker" terus, karena alasan keramat bahwa "brutu, dada" 
untuk ortu. "Bunga desa" untuk 'sesajen' bagi pangeran, dst. Artinya karena 
soal kekeramatan ini tidak bisa terbuka reason nya, ada peluang untuk di-abuse 
juga.



Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif, sejauh mana 
otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim nya, kan pemangku 
kepentingan saat ini belum tentu percaya kekeramatannya.



Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat spesifik dalam 
artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh bisa dibawa ke 
ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke depan". Kita mesti sadar 
bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism, tapi juga neo-feodalism lokal yang 
cenderung eksplotatif terhadap rakyat. Apakah karena "anti ekonomi" (rasio) 
membuat kita tutup mata: dari mana tokoh itu dapat uang shg bisa pesta adat 
besar besar-besaran untuk pernikahan putrinya (misalnya). Jangan bicara 
ekonomi, itu barat, beliau mulia karena mengangkat adat budaya sukunya (?). 

Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya  selalu 
multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur sosial, ada 
aspek ekonomi.

Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif? sesuatu yang 
baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam, Rendra, dll) kesan 
saya mereka cenderung melihat proses perubahan (kedepan, bukan kebelakang) 
menuju Indonesia, dalam transisi rural ke urban. Dan, mereka cenderung membela 
budaya rakyat, daripada klenik dan simbol-simbol kuasa rekaan raja-raja. 

Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah. Kalau 
ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai untuk ngirim 
"ketik REG spasi KRAMAT..."



Salam,

Risfan Munir



Salam,



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi. Salah 
> satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi bersifat "fotomic" 
> melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara mendalam seorang tukang becak, 
> misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh yaitu tentang "dunia tukang becak". 
> Jadi tahu sedikit bisa melongok ngicipi yang lebih jauh ! 

> 

> Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus latihan. 
> Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak terpengaruh oleh 
> teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak murtad dari dunia ilmuwan 
> lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya proses memahami subyek/obyek 
> yang kita cermati tidak dicemari teori-teori atau opini pihak lain terhadap 
> obyek.subyek kajian kita. Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan 
> pengalaman itu dengan runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak.

> 

> Salam,

> 

> 

> 

> Djarot Purbadi

> 

> 

> 

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> 

> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

> 

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> 

> --- On Thu, 8/6/09, bspr...@... <bspr...@... > wrote:

> 

> From: bspr...@... <bspr...@... >

> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM

> 

> 

> 

> 

> 

> 

>  

> 

> 

> 

> 

>     

>                   Luar biasa mas Djarot ... 

> saya mendapatkan pencerahan.

> Matur nuwun

> salam

> bambang sp

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke