Sahabat-sahabat referensiers ysh,
Saya membaca dua buah artikel/laporan kompas tentang pernyataan Menko
Pereekonomian di Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: The
Next Challenge (Saya sertakan laporan tersebut di bawah).
Mohon info adakah di antara para sahabat yang memiliki copy dari makalah atau
sambutan Pak Hatta tsb?
Juga adakah di antara para sahabat yang memiliki hasil-hasil dari Pertemuan
Nasional di Tampak Siring yang lalu? Saya sudah berusaha mencarinya melalui
laporan berita ataupun website, tetapi belum mendapatkannya juga.
Saya ingin sekali mengetahuinya. jadi apabila ada di antara para sahabat
memilikinya dan bisa di-share ke pelbagaii pihak, saya senang sekali unttuk
mendapatkan copy-nya.
Terima kasih dan salam sejahtera,
Fadjar Undip
Sistem Logistik
Jakarta dan Surabaya Jadi Mega Hub
Laporan wartawan KOMPAS Orin Basuki
Sabtu, 24 April 2010 | 17:19 WIB
Menko Perekonomian Hatta Rajasa
JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta dan Surabaya akan dijadikan sebagai Mega Hub
dalam sistem logistik nasional. Ini menempatkan kedua kota besar itu sebagai
titik temu antara kekuatan ekonomi yang terkoneksi dalam infrastruktur
Indonesia.
"Lima tahun ke depan perjuangan kita ada di infrastruktur. Kami identifikasi
seluruh pembangunan infrastruktur agar Indonesia terkoneksi dengan sistem
logistik nasional. Salah satu tujuannya adalah membangun pusat pertumbuhan baru
dengan basis lokal," ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di
Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional
tentang Sustainable Business Competitiveness: The Next Challenge.
Menurut Hatta, secara garis besar, Indonesia akan dikembangkan dengan membagi
wilayahnya menjadi enam koridor ekonomi. Keenam koridor itu adalah koridor
Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Papua, dan Merauke. Merauke dikhususkan
karena dijadikan wilayah khusus pengembangan pertanian tanaman pangan dan
energi terbarukan.
"Ini pembagian yang serius karena merupakan hasil dari studi yang dilakukan
JICA Jepang. Di dalamnya akan dibentuk hub-hub (penghubung) yang akan
terkoneksi oleh daerah feeder. Seluruhnya harus terkoneksi. Ini yang menjadi
kelemahan yang kita miliki saat ini," ungkap Hatta.
Seluruh ibu kota provinsi di setiap koridor akan dijadikan sebagai Hub
Provincial Capital. Setiap koridor akan dikembangkan dengan sektor yang
terfokus. Sebagai contoh, koridor Kalimantan akan dikembangkan untuk pertanian
dan industri kimia minyak. Sementara koridor Jawa akan dijadikan sebagai basis
kekuatan manufaktur.
"Seluruh gubernur sudah diminta mengidentifikasi keunggulan masing-masing.
Keunggulan itu yang akan dikembangkan, misalnya di Sumatera Selatan ada
kandungan batu bara yang set ara 50 persen cadangan nasional, namun dengan
kalori yang masih muda, sekitar 4.000 kalori ke bawah. Kalori muda ini tidak
untuk dijual, namun bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik," ujar Hatta.
Pengelolaan Energi
Hatta: Ada Kesalahan Kebijakan Energi
Laporan wartawan KOMPAS Orin Basuki
Sabtu, 24 April 2010 | 16:44 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah memastikan, konstribusi energi dalam
pembentukan cadangan devisa nasional akan terus menurun mulai tahun 2014.
Pengurangan sumber cadangan devisa dari penjualan energi ini dilakukan karena
mengutamakan terpenuhinya seluruh kebutuhan energi di dalam negeri. Energi yang
akan diekspor hanyalah sisanya.
Saat ini, 70-80 persen dari cadangan devisa berasal dari hasil penjualan energi
ke pasar internasional. "Jika kita terus menjual energi ke luar negeri, tidak
akan ada industri yang mau mengembangkan bisnisnya di dalam negeri. Kami ingin
agar industri mau mengembangkan bisnis di dalam negeri," ujar Menteri
Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat
seminar tentang Sustainable Business Competitiveness: The Next Challenge.
Menurut Hatta, kebijakan energi yang mendahulukan pembentukan cadangan devisa
dari penjualan energi itu merupakan kebijakan salah. Kebijakan tersebut
menyebabkan Indonesia lupa untuk membangun infrastruktur energi, seperti depo
dan LNG receiving terminal.
Akibatnya, ketika permintaan energi meningkat dan harganya sangat baik,
Indonesia malah tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Peluang ini hilang
terutama pada gas.
Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan devisa,
namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa dialihkan dari
devisa hasil penjualan energi ke pajak.
"Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan devisa,
namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa dialihkan dari
devisa hasil penjualan energi ke pajak," ujarnya.
Sementara, lanjutnya, pasokan energinya digunakan untuk mengamankan kebutuhan
dalam negeri. Itu tetap dilakukan dengan menghormati kontrak yang suda ada. Ke
depan, pasokan energi harus dijadikan untuk menumbuhkan perekonomian.
Menurutnya, cadangan energi yang dimiliki Indonesia saat ini sangat besar,
yakni setara 6 juta barrel per hari. Itu sudah termasuk batu bara, minyak
mentah, dan gas bumi. "Dengan demikian, jangan main-main dengan energi dan juga
pangan," ungkapnya.