Jika bernimat, mhn request via japri. Tks
Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: - ekadj <[email protected]>
Date: Sun, 25 Apr 2010 11:54:52 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business 
        Competitiveness: The Next Challenge

Pak Fadjar, di milis ini ada beberapa rekan yang cukup dekat dengan HR,
diharapkan mau membantu mendapatkan bahan dimaksud.
Menilik topiknya, dibutuhkan kepakaran ekonomi geografi untuk mengulas
kebijakan ini, dan kita pun punya gate-keeper-nya di milis ini.
Saya coba tanggapi dari sudut strukturalisme, bila dalam konsep materialisme
peradaban (istilah peradaban kelihatannya lebih disukai dalam terminologi
formal birokrasi) terdapat 3 struktur :
infrastruktur-struktur-suprastruktur, sebagai upaya mengendalikan proses
interaksi struktural terhadap representasi statistik dalam
struktural-fungsional.
Sementara demikian. Salam.

-ekadj


2010/4/24 <[email protected]>

>
>
>   Sahabat-sahabat referensiers ysh,
>
> Saya membaca dua buah artikel/laporan kompas tentang pernyataan Menko
> Pereekonomian di *Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness:
> The Next Challenge *(Saya sertakan laporan tersebut di bawah).
>
> Mohon info adakah di antara para sahabat yang memiliki copy dari makalah
> atau sambutan Pak Hatta tsb?
>
> Juga adakah di antara para sahabat yang memiliki hasil-hasil dari Pertemuan
> Nasional di Tampak Siring yang lalu? Saya sudah berusaha mencarinya melalui
> laporan berita ataupun website, tetapi belum mendapatkannya juga.
>
> Saya ingin sekali mengetahuinya. jadi apabila ada di antara para sahabat
> memilikinya dan bisa di-share ke pelbagaii pihak, saya senang sekali unttuk
> mendapatkan copy-nya.
>
> Terima kasih dan salam sejahtera,
>
> Fadjar Undip
>
>
>
> *Sistem Logistik*
> *Jakarta dan Surabaya Jadi Mega Hub*
> Laporan wartawan *KOMPAS Orin Basuki*
> Sabtu, 24 April 2010 | 17:19 WIB
>   Menko Perekonomian Hatta Rajasa
>  *JAKARTA, KOMPAS.com* -  Jakarta dan Surabaya akan dijadikan sebagai Mega
> Hub dalam sistem logistik nasional. Ini menempatkan kedua kota besar itu
> sebagai titik temu antara kekuatan ekonomi yang terkoneksi dalam
> infrastruktur Indonesia.
>
> "Lima tahun ke depan perjuangan kita ada di infrastruktur. Kami
> identifikasi seluruh pembangunan infrastruktur agar Indonesia terkoneksi
> dengan sistem logistik nasional. Salah satu tujuannya adalah membangun pusat
> pertumbuhan baru dengan basis lokal," ungkap Menteri Koordinator
> Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat menjadi
> pembicara kunci dalam *Seminar Nasional tentang Sustainable Business
> Competitiveness: The Next Challenge.*
>
> Menurut Hatta, secara garis besar, Indonesia akan dikembangkan dengan
> membagi wilayahnya menjadi enam koridor ekonomi. Keenam koridor itu adalah
> koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Papua, dan Merauke. Merauke
> dikhususkan karena dijadikan wilayah khusus pengembangan pertanian tanaman
> pangan dan energi terbarukan.
>
> "Ini pembagian yang serius karena merupakan hasil dari studi yang dilakukan
> JICA Jepang. Di dalamnya akan dibentuk hub-hub (penghubung) yang akan
> terkoneksi oleh daerah *feeder. *Seluruhnya harus terkoneksi. Ini yang
> menjadi kelemahan yang kita miliki saat ini," ungkap Hatta.
>
> Seluruh ibu kota provinsi di setiap koridor akan dijadikan sebagai *Hub
> Provincial Capital. *Setiap koridor akan dikembangkan dengan sektor yang
> terfokus. Sebagai contoh, koridor Kalimantan akan dikembangkan untuk
> pertanian dan industri kimia minyak. Sementara koridor Jawa akan dijadikan
> sebagai basis kekuatan manufaktur.
>
> "Seluruh gubernur sudah diminta mengidentifikasi keunggulan masing-masing.
> Keunggulan itu yang akan dikembangkan, misalnya di Sumatera Selatan ada
> kandungan batu bara yang set ara 50 persen cadangan nasional, namun dengan
> kalori yang masih muda, sekitar 4.000 kalori ke bawah. Kalori muda ini tidak
> untuk dijual, namun bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik," ujar Hatta.
>
>
> *Pengelolaan Energi*
> *Hatta: Ada Kesalahan Kebijakan Energi*
> Laporan wartawan *KOMPAS Orin Basuki*
> Sabtu, 24 April 2010 | 16:44 WIB
>
> *JAKARTA, KOMPAS.com *- Pemerintah memastikan, konstribusi energi dalam
> pembentukan cadangan devisa nasional akan terus menurun mulai tahun 2014.
> Pengurangan sumber cadangan devisa dari penjualan energi ini dilakukan
> karena mengutamakan terpenuhinya seluruh kebutuhan energi di dalam negeri.
> Energi yang akan diekspor hanyalah sisanya.
>
> Saat ini, 70-80 persen dari cadangan devisa berasal dari hasil penjualan
> energi ke pasar internasional. "Jika kita terus menjual energi ke luar
> negeri, tidak akan ada industri yang mau mengembangkan bisnisnya di dalam
> negeri. Kami ingin agar industri mau mengembangkan bisnis di dalam negeri,"
> ujar Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu
> (24/4/2010) saat seminar tentang *Sustainable Business Competitiveness:
> The Next Challenge*.
>
> Menurut Hatta, kebijakan energi yang mendahulukan pembentukan cadangan
> devisa dari penjualan energi itu merupakan kebijakan salah. Kebijakan
> tersebut menyebabkan Indonesia lupa untuk membangun infrastruktur energi,
> seperti depo dan LNG *receiving *terminal.
>
> Akibatnya, ketika permintaan energi meningkat dan harganya sangat baik,
> Indonesia malah tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Peluang ini
> hilang terutama pada gas.
>  *Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan
> devisa, namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa
> dialihkan dari devisa hasil penjualan energi ke pajak.*
>  "Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan
> devisa, namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa
> dialihkan dari devisa hasil penjualan energi ke pajak," ujarnya.
> Sementara, lanjutnya, pasokan energinya digunakan untuk mengamankan
> kebutuhan dalam negeri. Itu tetap dilakukan dengan menghormati kontrak yang
> suda ada. Ke depan, pasokan energi harus dijadikan untuk menumbuhkan
> perekonomian.
>
> Menurutnya, cadangan energi yang dimiliki Indonesia saat ini sangat besar,
> yakni setara 6 juta barrel per hari. Itu sudah termasuk batu bara, minyak
> mentah, dan gas bumi. "Dengan demikian, jangan main-main dengan energi dan
> juga pangan," ungkapnya.
>
>
>
>

Kirim email ke