Mas Fajar yg baik,
Maaf saya tidak mampu bantu dapatkan kopi naskah sambutan Menko Hatta Rajasa 
yg  anda butuhkan …….saya bayangkan …..begitu anda dapatkan naskah pidato itu … 
rasanya tak lama Hatta akan anda kuliti habis2an……saya mohon maap  
izinkan mengomentari jg sedikit berita rencana Hatta tsb…….

Menyangkut rencana Jkt dan Sby sbg mega hub ….dari masa kemasa semenjak 
kapanpun selalu saja pertimbangan/ visi ekonomi selalu kurang  menganggap 
penting (kasarnya meremehkan) perlunya pengembangan keadilan keruangan dalam 
hal pengembangan sistem kota2 secara nasional…..maksud saya …dlm hal ini 
keputusan (pola pikir) tsb menunjukkan bhw sampai jauh kedepan nanti ……Jawa 
akan tetap saja melesat jauh kedepan dan KTI akan tetap saja ketinggalan entah 
kemana…… 

Dgn pola pikir Hatta (yg nampaknya mantap dan canggih) yg menspesialisasikan 
masing2 pulau spt contohnya Kalimantan (yg sebesar itu) disuruh berspesialisasi 
di pertanian dan industri  kimia minyak (saja) dan tak dijelaskan pulau2 besar 
lain disuruh berspesialisasi apa …..menunjukkan bhw pengembangan kotanya (dan 
pengembangan masyarakat kelas menengahnya,  manufaktur dan kewiraswastaan, 
apalagi migrasi)  tak dipikirin (mungkin sambil lupa kalau ia ketua BKPRN 
….dipikir ada lembaga lain yg ngurus pengembangan kotanya)……yg berarti 
pengembangan model Hatta itu masih saja tetap dpt dikatakan 
‘monosektoralistik’……..

Dari pengalaman sekian dekade yg lalu telah ditunjukkan bhw pembangunan daerah 
dgn basis SDA tak berjalan dgn memuaskan …..krn pembangunan berbasis SDA 
umumnya tak banyak membangkitkan aglomerasi dan tak banyak berkait dgn 
perekonomian perkotaan ….dimana diketahui bhw perekonomian perkotaan sebenarnya 
lbh banyak dan lebih mudah melahirkan kewiraswastaan, kesempatan kerja, 
investasi (perkotaan, asing maupun domestik),  kelas menengah dan berkembangnya 
multisektoralitas yg  luas serta dampak gandanya ……...yah kita memang brkali 
dlm waktu dekat ini belum dizinkan utk menjadi bangsa yg adil, makmur dan maju 
(apa krn dosa2 korupsi yg kelewat merajalela dan perlu ditebus dulu 
ya?)………salam, 
aby

--- On Sat, 4/24/10, [email protected] <[email protected]> 
wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: The 
Next Challenge
To: [email protected]
Date: Saturday, April 24, 2010, 3:56 AM


  








Sahabat-sahabat referensiers ysh,
 
Saya membaca dua buah artikel/laporan kompas tentang pernyataan Menko 
Pereekonomian di Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: The 
Next Challenge (Saya sertakan laporan tersebut di bawah).
 
Mohon info adakah di antara para sahabat yang memiliki copy dari makalah atau 
sambutan Pak Hatta tsb? 
 
Juga adakah di antara para sahabat yang memiliki hasil-hasil dari Pertemuan 
Nasional di Tampak Siring yang lalu? Saya sudah berusaha mencarinya melalui 
laporan berita ataupun website, tetapi belum mendapatkannya juga. 
 
Saya ingin sekali mengetahuinya. jadi apabila ada di antara para sahabat 
memilikinya dan bisa di-share ke pelbagaii pihak, saya senang sekali unttuk 
mendapatkan copy-nya.
 
Terima kasih dan salam sejahtera,
 
Fadjar Undip
 
 
 
Sistem Logistik
Jakarta dan Surabaya Jadi Mega Hub 
Laporan wartawan KOMPAS Orin Basuki
Sabtu, 24 April 2010 | 17:19 WIB



Menko Perekonomian Hatta Rajasa 


JAKARTA, KOMPAS.com -  Jakarta dan Surabaya akan dijadikan sebagai Mega Hub 
dalam sistem logistik nasional. Ini menempatkan kedua kota besar itu sebagai 
titik temu antara kekuatan ekonomi yang terkoneksi dalam infrastruktur 
Indonesia. 

"Lima tahun ke depan perjuangan kita ada di infrastruktur. Kami identifikasi 
seluruh pembangunan infrastruktur agar Indonesia terkoneksi dengan sistem 
logistik nasional. Salah satu tujuannya adalah membangun pusat pertumbuhan baru 
dengan basis lokal," ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di 
Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional 
tentang Sustainable Business Competitiveness: The Next Challenge.

Menurut Hatta, secara garis besar, Indonesia akan dikembangkan dengan membagi 
wilayahnya menjadi enam koridor ekonomi. Keenam koridor itu adalah koridor 
Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Papua, dan Merauke. Merauke dikhususkan 
karena dijadikan wilayah khusus pengembangan pertanian tanaman pangan dan 
energi terbarukan.

"Ini pembagian yang serius karena merupakan hasil dari studi yang dilakukan 
JICA Jepang. Di dalamnya akan dibentuk hub-hub (penghubung) yang akan 
terkoneksi oleh daerah feeder. Seluruhnya harus terkoneksi. Ini yang menjadi 
kelemahan yang kita miliki saat ini," ungkap Hatta.

Seluruh ibu kota provinsi di setiap koridor akan dijadikan sebagai Hub 
Provincial Capital. Setiap koridor akan dikembangkan dengan sektor yang 
terfokus. Sebagai contoh, koridor Kalimantan akan dikembangkan untuk pertanian 
dan industri kimia minyak. Sementara koridor Jawa akan dijadikan sebagai basis 
kekuatan manufaktur. 

"Seluruh gubernur sudah diminta mengidentifikasi keunggulan masing-masing. 
Keunggulan itu yang akan dikembangkan, misalnya di Sumatera Selatan ada 
kandungan batu bara yang set ara 50 persen cadangan nasional, namun dengan 
kalori yang masih muda, sekitar 4.000 kalori ke bawah. Kalori muda ini tidak 
untuk dijual, namun bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik," ujar Hatta.
 
 
Pengelolaan Energi
Hatta: Ada Kesalahan Kebijakan Energi 
Laporan wartawan KOMPAS Orin Basuki
Sabtu, 24 April 2010 | 16:44 WIB
 
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah memastikan, konstribusi energi dalam 
pembentukan cadangan devisa nasional akan terus menurun mulai tahun 2014. 
Pengurangan sumber cadangan devisa dari penjualan energi ini dilakukan karena 
mengutamakan terpenuhinya seluruh kebutuhan energi di dalam negeri. Energi yang 
akan diekspor hanyalah sisanya.

Saat ini, 70-80 persen dari cadangan devisa berasal dari hasil penjualan energi 
ke pasar internasional. "Jika kita terus menjual energi ke luar negeri, tidak 
akan ada industri yang mau mengembangkan bisnisnya di dalam negeri. Kami ingin 
agar industri mau mengembangkan bisnis di dalam negeri," ujar Menteri 
Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat 
seminar tentang Sustainable Business Competitiveness: The Next Challenge.
 
Menurut Hatta, kebijakan energi yang mendahulukan pembentukan cadangan devisa 
dari penjualan energi itu merupakan kebijakan salah. Kebijakan tersebut 
menyebabkan Indonesia lupa untuk membangun infrastruktur energi, seperti depo 
dan LNG receiving terminal.

Akibatnya, ketika permintaan energi meningkat dan harganya sangat baik, 
Indonesia malah tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Peluang ini hilang 
terutama pada gas.


Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan devisa, 
namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa dialihkan dari 
devisa hasil penjualan energi ke pajak. 

"Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan devisa, 
namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa dialihkan dari 
devisa hasil penjualan energi ke pajak," ujarnya.  
Sementara, lanjutnya, pasokan energinya digunakan untuk mengamankan kebutuhan 
dalam negeri. Itu tetap dilakukan dengan menghormati kontrak yang suda ada. Ke 
depan, pasokan energi harus dijadikan untuk menumbuhkan perekonomian.
 
Menurutnya, cadangan energi yang dimiliki Indonesia saat ini sangat besar, 
yakni setara 6 juta barrel per hari. Itu sudah termasuk batu bara, minyak 
mentah, dan gas bumi. "Dengan demikian, jangan main-main dengan energi dan juga 
pangan," ungkapnya.

 








      

Kirim email ke