Pak Fadjar, saya masih menunggu-nunggu pandangan anda mengenai hal ini. Sedikit kasih masukan: dalam trilogi infrastruktur-struktur-suprastruktur; 'hukum alam strukturalisme'-nya adalah: suprastruktur membina struktur, dan struktur membina infrastruktur. Salam.
-ekadj 2010/4/26 hengky abiyoso <[email protected]> > > > Mas Fajar yg baik, > > Maaf saya tidak mampu bantu dapatkan kopi naskah sambutan Menko Hatta > Rajasa yg anda butuhkan …….saya bayangkan …..begitu anda dapatkan naskah > pidato itu … rasanya tak lama Hatta akan anda kuliti habis2an……saya mohon > maap izinkan mengomentari jg sedikit berita rencana Hatta tsb……. > > Menyangkut rencana Jkt dan Sby sbg mega hub ….dari masa kemasa semenjak > kapanpun selalu saja pertimbangan/ visi ekonomi selalu kurang menganggap > penting (kasarnya meremehkan) perlunya pengembangan keadilan keruangan dalam > hal pengembangan sistem kota2 secara nasional…..maksud saya …dlm hal ini > keputusan (pola pikir) tsb menunjukkan bhw sampai jauh kedepan nanti ……Jawa > akan tetap saja melesat jauh kedepan dan KTI akan tetap saja ketinggalan > entah kemana…… > > Dgn pola pikir Hatta (yg nampaknya mantap dan canggih) yg > menspesialisasikan masing2 pulau spt contohnya Kalimantan (yg sebesar itu) > disuruh berspesialisasi di pertanian dan industri kimia minyak (saja) dan > tak dijelaskan pulau2 besar lain disuruh berspesialisasi apa …..menunjukkan > bhw pengembangan kotanya (dan pengembangan masyarakat kelas menengahnya, > manufaktur > dan kewiraswastaan, apalagi migrasi) tak dipikirin (mungkin sambil lupa > kalau ia ketua BKPRN ….dipikir ada lembaga lain yg ngurus pengembangan > kotanya)……yg berarti pengembangan model Hatta itu masih saja tetap dpt > dikatakan ‘monosektoralistik’…….. > > Dari pengalaman sekian dekade yg lalu telah ditunjukkan bhw pembangunan > daerah dgn basis SDA tak berjalan dgn memuaskan …..krn pembangunan berbasis > SDA umumnya tak banyak membangkitkan aglomerasi dan tak banyak berkait dgn > perekonomian perkotaan ….dimana diketahui bhw perekonomian perkotaan > sebenarnya lbh banyak dan lebih mudah melahirkan kewiraswastaan, kesempatan > kerja, investasi (perkotaan, asing maupun domestik), kelas menengah dan > berkembangnya multisektoralitas yg luas serta dampak gandanya ……...yah > kita memang brkali dlm waktu dekat ini belum dizinkan utk menjadi bangsa yg > adil, makmur dan maju (apa krn dosa2 korupsi yg kelewat merajalela dan perlu > ditebus dulu ya?)………salam, > > aby > > --- On *Sat, 4/24/10, [email protected] < > [email protected]>* wrote: > > > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: > The Next Challenge > To: [email protected] > Date: Saturday, April 24, 2010, 3:56 AM > > > > Sahabat-sahabat referensiers ysh, > > Saya membaca dua buah artikel/laporan kompas tentang pernyataan Menko > Pereekonomian di *Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: > The Next Challenge *(Saya sertakan laporan tersebut di bawah). > > Mohon info adakah di antara para sahabat yang memiliki copy dari makalah > atau sambutan Pak Hatta tsb? > > Juga adakah di antara para sahabat yang memiliki hasil-hasil dari Pertemuan > Nasional di Tampak Siring yang lalu? Saya sudah berusaha mencarinya melalui > laporan berita ataupun website, tetapi belum mendapatkannya juga. > > Saya ingin sekali mengetahuinya. jadi apabila ada di antara para sahabat > memilikinya dan bisa di-share ke pelbagaii pihak, saya senang sekali unttuk > mendapatkan copy-nya. > > Terima kasih dan salam sejahtera, > > Fadjar Undip > > > > *Sistem Logistik* > *Jakarta dan Surabaya Jadi Mega Hub* > Laporan wartawan *KOMPAS Orin Basuki* > Sabtu, 24 April 2010 | 17:19 WIB > Menko Perekonomian Hatta Rajasa > *JAKARTA, KOMPAS.com* - Jakarta dan Surabaya akan dijadikan sebagai Mega > Hub dalam sistem logistik nasional. Ini menempatkan kedua kota besar itu > sebagai titik temu antara kekuatan ekonomi yang terkoneksi dalam > infrastruktur Indonesia. > > "Lima tahun ke depan perjuangan kita ada di infrastruktur. Kami > identifikasi seluruh pembangunan infrastruktur agar Indonesia terkoneksi > dengan sistem logistik nasional. Salah satu tujuannya adalah membangun pusat > pertumbuhan baru dengan basis lokal," ungkap Menteri Koordinator > Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat menjadi > pembicara kunci dalam *Seminar Nasional tentang Sustainable Business > Competitiveness: The Next Challenge.* > > Menurut Hatta, secara garis besar, Indonesia akan dikembangkan dengan > membagi wilayahnya menjadi enam koridor ekonomi. Keenam koridor itu adalah > koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Papua, dan Merauke. Merauke > dikhususkan karena dijadikan wilayah khusus pengembangan pertanian tanaman > pangan dan energi terbarukan. > > "Ini pembagian yang serius karena merupakan hasil dari studi yang dilakukan > JICA Jepang. Di dalamnya akan dibentuk hub-hub (penghubung) yang akan > terkoneksi oleh daerah *feeder. *Seluruhnya harus terkoneksi. Ini yang > menjadi kelemahan yang kita miliki saat ini," ungkap Hatta. > > Seluruh ibu kota provinsi di setiap koridor akan dijadikan sebagai *Hub > Provincial Capital. *Setiap koridor akan dikembangkan dengan sektor yang > terfokus. Sebagai contoh, koridor Kalimantan akan dikembangkan untuk > pertanian dan industri kimia minyak. Sementara koridor Jawa akan dijadikan > sebagai basis kekuatan manufaktur. > > "Seluruh gubernur sudah diminta mengidentifikasi keunggulan masing-masing. > Keunggulan itu yang akan dikembangkan, misalnya di Sumatera Selatan ada > kandungan batu bara yang set ara 50 persen cadangan nasional, namun dengan > kalori yang masih muda, sekitar 4.000 kalori ke bawah. Kalori muda ini tidak > untuk dijual, namun bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik," ujar Hatta. > > > *Pengelolaan Energi* > *Hatta: Ada Kesalahan Kebijakan Energi* > Laporan wartawan *KOMPAS Orin Basuki* > Sabtu, 24 April 2010 | 16:44 WIB > > *JAKARTA, KOMPAS.com *- Pemerintah memastikan, konstribusi energi dalam > pembentukan cadangan devisa nasional akan terus menurun mulai tahun 2014. > Pengurangan sumber cadangan devisa dari penjualan energi ini dilakukan > karena mengutamakan terpenuhinya seluruh kebutuhan energi di dalam negeri. > Energi yang akan diekspor hanyalah sisanya. > > Saat ini, 70-80 persen dari cadangan devisa berasal dari hasil penjualan > energi ke pasar internasional. "Jika kita terus menjual energi ke luar > negeri, tidak akan ada industri yang mau mengembangkan bisnisnya di dalam > negeri. Kami ingin agar industri mau mengembangkan bisnis di dalam negeri," > ujar Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu > (24/4/2010) saat seminar tentang *Sustainable Business Competitiveness: > The Next Challenge*. > > Menurut Hatta, kebijakan energi yang mendahulukan pembentukan cadangan > devisa dari penjualan energi itu merupakan kebijakan salah. Kebijakan > tersebut menyebabkan Indonesia lupa untuk membangun infrastruktur energi, > seperti depo dan LNG *receiving *terminal. > > Akibatnya, ketika permintaan energi meningkat dan harganya sangat baik, > Indonesia malah tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Peluang ini > hilang terutama pada gas. > *Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan > devisa, namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa > dialihkan dari devisa hasil penjualan energi ke pajak.* > "Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan > devisa, namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa > dialihkan dari devisa hasil penjualan energi ke pajak," ujarnya. > Sementara, lanjutnya, pasokan energinya digunakan untuk mengamankan > kebutuhan dalam negeri. Itu tetap dilakukan dengan menghormati kontrak yang > suda ada. Ke depan, pasokan energi harus dijadikan untuk menumbuhkan > perekonomian. > > Menurutnya, cadangan energi yang dimiliki Indonesia saat ini sangat besar, > yakni setara 6 juta barrel per hari. Itu sudah termasuk batu bara, minyak > mentah, dan gas bumi. "Dengan demikian, jangan main-main dengan energi dan > juga pangan," ungkapnya. > > > > >

