Pak Eka ysh,
 
Jangan lupa oleh-oleh setelah ijinnya yg beberapa hari itu ya...
 
Salam,
 
Fadjar


--- En date de : Mar 4.5.10, - ekadj <[email protected]> a écrit :


De: - ekadj <[email protected]>
Objet: Re: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: 
The Next Challenge
À: [email protected]
Date: Mardi 4 mai 2010, 22h11


  




Pak Fadjar ysh, sayang anda nggak mengikuti acara tivi yang ditunjuk Pak 
Reintje itu. Untuk selanjutnya perkembangan inkom dapat anda ikuti via mivo.tv, 
walau salurannya terbatas. Jadi ada kesalahan paradigma praktek pembangunan 
selama ini, yaitu ketika hukum alam (strukturalisme, kalau itu menjadi acuan 
pemikiran kita) dilanggar, misalnya: suprastruktur langsung membina 
infrastruktur, atau infrastruktur membina struktur. Misalnya dari contoh anda: 
bila 'pengembangan wilayah' adalah ideologi/suprastruk tur, maka sebelum masuk 
infrastruktur seharusnya bicara struktur dulu. Saya kira fatsoen-nya begitu.
Pak Mod Eko, saya izin dulu beberapa hari. Salam.
 
-ekadj


2010/5/4 <efha_mardiansjah@ yahoo.com>


  








Pak Eka ysh,
 
Mohon maaf saya belum bisa memberikan tanggapan yang banyak tentang hal-hal 
yang disampaikan oleh Pak Hatta dalam seminar sustainable business tsb. Saya 
sangat ingin mengetahui informasi tsb secara lebih dalam, namun hingga kini 
saya belum mendapatkannya. Salah seorang sahabat yang dulu pernah 
menjanjikannya apabila saya mengirimkan email secara japri, belum mereply email 
saya. Mungkin beliau agak sibuk jadi lupa, hue he he he....
 
Tapi secara umum, saya mengapresiasi upaya "menspesialisasi" aktivitas utama 
untuk tiap pulau dalam koridor ekonominya masing-masing, dan menjadikan Jakarta 
dan Surabaya sebagai mega-hub dan basis utama dari koridor ekonomi Indonesia. 
Saya berharap itikad politik ini bisa menjadi awal kebangkitan kembali 
pendekatan pembangunan kewilayahan Indonesia yang relatif meredup pasca krisis 
ekonomi 1997. (mohon maaf Pak Aby, karena saya tidak bisa mengkritik 
habis-habisan seperti yang Pak Aby harapkan, hue he he.....) 
 
Namun, di samping itu, saya sebenarnya berharap adanya informasi lain yang 
mencakup langkah-langkah yang lebih maju di dalam pidato Pak Hatta tsb. 
terutama, yang menggambarkan landasan dasar dalam meningkatkan keterkaitan dan 
inter-koneksi hubungan dan aktivitas ekonomi antar-wilayah Indonesia. Bagaimana 
langkah yang akan ditempuh untuk menguatkan keterkaitan antara main-mega-hub 
Jakarta dan Surabaya kepada hub-hub utama di kelima koridor ekonomi lainnya? 
Bagaimana setiap koridor ekonomi akan dikembangkan? Bagaimana langkah-langkah 
peningkatan kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah akan dikembangkan di 
dalam program tsb? dan lain-lain...
 
Penguatan infrastruktur  di Jawa (termasuk peningkatan inter-koneksi Jakarta 
dan Surabaya) memang sangat penting, tetapi penguatan infrastruktur 
perhubungan, energi dan telekomunikasi di koridor-koridor lainnya terutama 
Sumatera dan Sulawesi juga sangat penting. Untuk koridor di luar Jawa, pak 
Hatta hanya menyinggung Merauke yang akan dikembangkan menjadi salah satu pusat 
pengembangan tanaman pangan, dan koridor kalimantan yang akan menjadi koridor 
pertanian dan aktivitas petro-kimia. Rencana pengembangan Merauke merupakan 
suatu hal yang menarik, yang mudah-mudahan belajar dari kegagalan Pak Harto 
dalam pengembangan lahan gambut sejuta hektar yang akibat kurangnya komunikasi 
dan partisipasi dengan masyarakat lokal maka program tersebut kini tinggal 
kenangan yang terlupakan.. .
 
Saya berharap bahwa informasi tentang itu ada di dalam pidatonya lengkapnya Pak 
Hatta. 
 
Tentang "hukum strukturalisme" yang Pak Eka sampaikan, saya kok melihat bahwa 
perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi telah sedikit 
banyak merombak hukum tersebut sehingga struktur hierarkis dalam suatu 
organisasi (termasuk organisasi keruangan) tidak lagi bersifat statis 
dan menjadi lebih dinamis, setidaknya pada level menengah dan bawah.... 
 
Mungkin begitu dulu Pak Eka....
 
Salam,
 
Fadjar


--- En date de : Mar 4.5.10, - ekadj <4ek...@gmail. com> a écrit :


De: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Objet: Re: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: 
The Next Challenge
À: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Mardi 4 mai 2010, 20h14


  



Pak Fadjar, saya masih menunggu-nunggu pandangan anda mengenai hal ini. Sedikit 
kasih masukan: dalam trilogi infrastruktur- struktur- suprastruktur; 'hukum 
alam strukturalisme'-nya adalah: suprastruktur membina struktur, dan struktur 
membina infrastruktur. Salam.
 
-ekadj



2010/4/26 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>


  








Mas Fajar yg baik, 

Maaf saya tidak mampu bantu dapatkan kopi naskah sambutan Menko Hatta Rajasa 
yg  anda butuhkan …….saya bayangkan …..begitu anda dapatkan naskah pidato itu … 
rasanya tak lama Hatta akan anda kuliti habis2an……saya mohon maap  
izinkan mengomentari jg sedikit berita rencana Hatta tsb……. 


Menyangkut rencana Jkt dan Sby sbg mega hub ….dari masa kemasa semenjak 
kapanpun selalu saja pertimbangan/ visi ekonomi selalu kurang  menganggap 
penting (kasarnya meremehkan) perlunya pengembangan keadilan keruangan dalam 
hal pengembangan sistem kota2 secara nasional…..maksud saya …dlm hal ini 
keputusan (pola pikir) tsb menunjukkan bhw sampai jauh kedepan nanti ……Jawa 
akan tetap saja melesat jauh kedepan dan KTI akan tetap saja ketinggalan entah 
kemana…… 


Dgn pola pikir Hatta (yg nampaknya mantap dan canggih) yg menspesialisasikan 
masing2 pulau spt contohnya Kalimantan (yg sebesar itu) disuruh berspesialisasi 
di pertanian dan industri  kimia minyak (saja) dan tak dijelaskan pulau2 besar 
lain disuruh berspesialisasi apa …..menunjukkan bhw pengembangan kotanya (dan 
pengembangan masyarakat kelas menengahnya,  manufaktur dan kewiraswastaan, 
apalagi migrasi)  tak dipikirin (mungkin sambil lupa kalau ia ketua BKPRN 
….dipikir ada lembaga lain yg ngurus pengembangan kotanya)……yg berarti 
pengembangan model Hatta itu masih saja tetap dpt dikatakan 
‘monosektoralistik’…….. 


Dari pengalaman sekian dekade yg lalu telah ditunjukkan bhw pembangunan daerah 
dgn basis SDA tak berjalan dgn memuaskan …..krn pembangunan berbasis SDA 
umumnya tak banyak membangkitkan aglomerasi dan tak banyak berkait dgn 
perekonomian perkotaan ….dimana diketahui bhw perekonomian perkotaan sebenarnya 
lbh banyak dan lebih mudah melahirkan kewiraswastaan, kesempatan kerja, 
investasi (perkotaan, asing maupun domestik),  kelas menengah dan berkembangnya 
multisektoralitas yg  luas serta dampak gandanya ……...yah kita memang brkali 
dlm waktu dekat ini belum dizinkan utk menjadi bangsa yg adil, makmur dan maju 
(apa krn dosa2 korupsi yg kelewat merajalela dan perlu ditebus dulu 
ya?)………salam, 

aby

--- On Sat, 4/24/10, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> 
wrote:



From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com>
Subject: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: The 
Next Challenge
To: refere...@yahoogrou ps.com 



Date: Saturday, April 24, 2010, 3:56 AM 





  






Sahabat-sahabat referensiers ysh,
 
Saya membaca dua buah artikel/laporan kompas tentang pernyataan Menko 
Pereekonomian di Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: The 
Next Challenge (Saya sertakan laporan tersebut di bawah).
 
Mohon info adakah di antara para sahabat yang memiliki copy dari makalah atau 
sambutan Pak Hatta tsb? 
 
Juga adakah di antara para sahabat yang memiliki hasil-hasil dari Pertemuan 
Nasional di Tampak Siring yang lalu? Saya sudah berusaha mencarinya melalui 
laporan berita ataupun website, tetapi belum mendapatkannya juga. 
 
Saya ingin sekali mengetahuinya. jadi apabila ada di antara para sahabat 
memilikinya dan bisa di-share ke pelbagaii pihak, saya senang sekali unttuk 
mendapatkan copy-nya.
 
Terima kasih dan salam sejahtera,
 
Fadjar Undip
 
 
 
Sistem Logistik
Jakarta dan Surabaya Jadi Mega Hub 
Laporan wartawan KOMPAS Orin Basuki
Sabtu, 24 April 2010 | 17:19 WIB



Menko Perekonomian Hatta Rajasa 


JAKARTA, KOMPAS.com -  Jakarta dan Surabaya akan dijadikan sebagai Mega Hub 
dalam sistem logistik nasional. Ini menempatkan kedua kota besar itu sebagai 
titik temu antara kekuatan ekonomi yang terkoneksi dalam infrastruktur 
Indonesia. 

"Lima tahun ke depan perjuangan kita ada di infrastruktur. Kami identifikasi 
seluruh pembangunan infrastruktur agar Indonesia terkoneksi dengan sistem 
logistik nasional. Salah satu tujuannya adalah membangun pusat pertumbuhan baru 
dengan basis lokal," ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di 
Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional 
tentang Sustainable Business Competitiveness: The Next Challenge.

Menurut Hatta, secara garis besar, Indonesia akan dikembangkan dengan membagi 
wilayahnya menjadi enam koridor ekonomi. Keenam koridor itu adalah koridor 
Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Papua, dan Merauke. Merauke dikhususkan 
karena dijadikan wilayah khusus pengembangan pertanian tanaman pangan dan 
energi terbarukan.

"Ini pembagian yang serius karena merupakan hasil dari studi yang dilakukan 
JICA Jepang. Di dalamnya akan dibentuk hub-hub (penghubung) yang akan 
terkoneksi oleh daerah feeder. Seluruhnya harus terkoneksi. Ini yang menjadi 
kelemahan yang kita miliki saat ini," ungkap Hatta.

Seluruh ibu kota provinsi di setiap koridor akan dijadikan sebagai Hub 
Provincial Capital. Setiap koridor akan dikembangkan dengan sektor yang 
terfokus. Sebagai contoh, koridor Kalimantan akan dikembangkan untuk pertanian 
dan industri kimia minyak. Sementara koridor Jawa akan dijadikan sebagai basis 
kekuatan manufaktur. 

"Seluruh gubernur sudah diminta mengidentifikasi keunggulan masing-masing. 
Keunggulan itu yang akan dikembangkan, misalnya di Sumatera Selatan ada 
kandungan batu bara yang set ara 50 persen cadangan nasional, namun dengan 
kalori yang masih muda, sekitar 4.000 kalori ke bawah. Kalori muda ini tidak 
untuk dijual, namun bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik," ujar Hatta.
 
 
Pengelolaan Energi
Hatta: Ada Kesalahan Kebijakan Energi 
Laporan wartawan KOMPAS Orin Basuki
Sabtu, 24 April 2010 | 16:44 WIB
 
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah memastikan, konstribusi energi dalam 
pembentukan cadangan devisa nasional akan terus menurun mulai tahun 2014. 
Pengurangan sumber cadangan devisa dari penjualan energi ini dilakukan karena 
mengutamakan terpenuhinya seluruh kebutuhan energi di dalam negeri. Energi yang 
akan diekspor hanyalah sisanya.

Saat ini, 70-80 persen dari cadangan devisa berasal dari hasil penjualan energi 
ke pasar internasional. "Jika kita terus menjual energi ke luar negeri, tidak 
akan ada industri yang mau mengembangkan bisnisnya di dalam negeri. Kami ingin 
agar industri mau mengembangkan bisnis di dalam negeri," ujar Menteri 
Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat 
seminar tentang Sustainable Business Competitiveness: The Next Challenge.
 
Menurut Hatta, kebijakan energi yang mendahulukan pembentukan cadangan devisa 
dari penjualan energi itu merupakan kebijakan salah. Kebijakan tersebut 
menyebabkan Indonesia lupa untuk membangun infrastruktur energi, seperti depo 
dan LNG receiving terminal.

Akibatnya, ketika permintaan energi meningkat dan harganya sangat baik, 
Indonesia malah tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Peluang ini hilang 
terutama pada gas.


Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan devisa, 
namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa dialihkan dari 
devisa hasil penjualan energi ke pajak. 

"Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan devisa, 
namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa dialihkan dari 
devisa hasil penjualan energi ke pajak," ujarnya.  
Sementara, lanjutnya, pasokan energinya digunakan untuk mengamankan kebutuhan 
dalam negeri. Itu tetap dilakukan dengan menghormati kontrak yang suda ada. Ke 
depan, pasokan energi harus dijadikan untuk menumbuhkan perekonomian.
 
Menurutnya, cadangan energi yang dimiliki Indonesia saat ini sangat besar, 
yakni setara 6 juta barrel per hari. Itu sudah termasuk batu bara, minyak 
mentah, dan gas bumi. "Dengan demikian, jangan main-main dengan energi dan juga 
pangan," ungkapnya.
 































      

Kirim email ke