Pak Fadjar ysh, sayang anda nggak mengikuti acara tivi yang ditunjuk Pak Reintje itu. Untuk selanjutnya perkembangan inkom dapat anda ikuti via mivo.tv, walau salurannya terbatas. Jadi ada kesalahan paradigma praktek pembangunan selama ini, yaitu ketika hukum alam (strukturalisme, kalau itu menjadi acuan pemikiran kita) dilanggar, misalnya: suprastruktur langsung membina infrastruktur, atau infrastruktur membina struktur. Misalnya dari contoh anda: bila 'pengembangan wilayah' adalah ideologi/suprastruktur, maka sebelum masuk infrastruktur seharusnya bicara struktur dulu. Saya kira fatsoen-nya begitu. Pak Mod Eko, saya izin dulu beberapa hari. Salam.
-ekadj 2010/5/4 <[email protected]> > > > Pak Eka ysh, > > Mohon maaf saya belum bisa memberikan tanggapan yang banyak tentang hal-hal > yang disampaikan oleh Pak Hatta dalam seminar sustainable business tsb. Saya > sangat ingin mengetahui informasi tsb secara lebih dalam, namun hingga kini > saya belum mendapatkannya. Salah seorang sahabat yang dulu pernah > menjanjikannya apabila saya mengirimkan email secara japri, belum mereply > email saya. Mungkin beliau agak sibuk jadi lupa, hue he he he.... > > Tapi secara umum, saya mengapresiasi upaya "menspesialisasi" aktivitas > utama untuk tiap pulau dalam koridor ekonominya masing-masing, dan > menjadikan Jakarta dan Surabaya sebagai mega-hub dan basis utama dari > koridor ekonomi Indonesia. Saya berharap itikad politik ini bisa menjadi > awal kebangkitan kembali pendekatan pembangunan kewilayahan Indonesia yang > relatif meredup pasca krisis ekonomi 1997. (mohon maaf Pak Aby, karena saya > tidak bisa mengkritik habis-habisan seperti yang Pak Aby harapkan, hue he > he.....) > > Namun, di samping itu, saya sebenarnya berharap adanya informasi lain yang > mencakup langkah-langkah yang lebih maju di dalam pidato Pak Hatta tsb. > terutama, yang menggambarkan landasan dasar dalam meningkatkan keterkaitan > dan inter-koneksi hubungan dan aktivitas ekonomi antar-wilayah > Indonesia. Bagaimana langkah yang akan ditempuh untuk menguatkan keterkaitan > antara main-mega-hub Jakarta dan Surabaya kepada hub-hub utama di kelima > koridor ekonomi lainnya? Bagaimana setiap koridor ekonomi akan dikembangkan? > Bagaimana langkah-langkah peningkatan kerjasama antara pemerintah pusat > dan daerah akan dikembangkan di dalam program tsb? dan lain-lain... > > Penguatan infrastruktur di Jawa (termasuk peningkatan inter-koneksi Jakarta > dan Surabaya) memang sangat penting, tetapi penguatan infrastruktur > perhubungan, energi dan telekomunikasi di koridor-koridor lainnya terutama > Sumatera dan Sulawesi juga sangat penting. Untuk koridor di luar Jawa, pak > Hatta hanya menyinggung Merauke yang akan dikembangkan menjadi salah satu > pusat pengembangan tanaman pangan, dan koridor kalimantan yang akan menjadi > koridor pertanian dan aktivitas petro-kimia. Rencana pengembangan Merauke > merupakan suatu hal yang menarik, yang mudah-mudahan belajar dari kegagalan > Pak Harto dalam pengembangan lahan gambut sejuta hektar yang akibat > kurangnya komunikasi dan partisipasi dengan masyarakat lokal maka program > tersebut kini tinggal kenangan yang terlupakan... > > Saya berharap bahwa informasi tentang itu ada di dalam pidatonya lengkapnya > Pak Hatta. > > Tentang "hukum strukturalisme" yang Pak Eka sampaikan, saya kok melihat > bahwa perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi telah > sedikit banyak merombak hukum tersebut sehingga struktur hierarkis dalam > suatu organisasi (termasuk organisasi keruangan) tidak lagi bersifat statis > dan menjadi lebih dinamis, setidaknya pada level menengah dan bawah.... > > Mungkin begitu dulu Pak Eka.... > > Salam, > > Fadjar > > > --- En date de : *Mar 4.5.10, - ekadj <[email protected]>* a écrit : > > > De: - ekadj <[email protected]> > Objet: Re: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business > Competitiveness: The Next Challenge > À: [email protected] > Date: Mardi 4 mai 2010, 20h14 > > > Pak Fadjar, saya masih menunggu-nunggu pandangan anda mengenai hal ini. > Sedikit kasih masukan: dalam trilogi infrastruktur- struktur- suprastruktur; > 'hukum alam strukturalisme'-nya adalah: suprastruktur membina struktur, dan > struktur membina infrastruktur. Salam. > > -ekadj > > 2010/4/26 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. > com<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > >> >> >> Mas Fajar yg baik, >> >> Maaf saya tidak mampu bantu dapatkan kopi naskah sambutan Menko Hatta >> Rajasa yg anda butuhkan …….saya bayangkan …..begitu anda dapatkan naskah >> pidato itu … rasanya tak lama Hatta akan anda kuliti habis2an……saya mohon >> maap izinkan mengomentari jg sedikit berita rencana Hatta tsb……. >> >> Menyangkut rencana Jkt dan Sby sbg mega hub ….dari masa kemasa semenjak >> kapanpun selalu saja pertimbangan/ visi ekonomi selalu kurang menganggap >> penting (kasarnya meremehkan) perlunya pengembangan keadilan keruangan dalam >> hal pengembangan sistem kota2 secara nasional…..maksud saya …dlm hal ini >> keputusan (pola pikir) tsb menunjukkan bhw sampai jauh kedepan nanti ……Jawa >> akan tetap saja melesat jauh kedepan dan KTI akan tetap saja ketinggalan >> entah kemana…… >> >> Dgn pola pikir Hatta (yg nampaknya mantap dan canggih) yg >> menspesialisasikan masing2 pulau spt contohnya Kalimantan (yg sebesar itu) >> disuruh berspesialisasi di pertanian dan industri kimia minyak (saja) >> dan tak dijelaskan pulau2 besar lain disuruh berspesialisasi apa >> …..menunjukkan bhw pengembangan kotanya (dan pengembangan masyarakat kelas >> menengahnya, manufaktur dan kewiraswastaan, apalagi migrasi) tak >> dipikirin (mungkin sambil lupa kalau ia ketua BKPRN ….dipikir ada lembaga >> lain yg ngurus pengembangan kotanya)……yg berarti pengembangan model Hatta >> itu masih saja tetap dpt dikatakan ‘monosektoralistik’…….. >> >> Dari pengalaman sekian dekade yg lalu telah ditunjukkan bhw pembangunan >> daerah dgn basis SDA tak berjalan dgn memuaskan …..krn pembangunan berbasis >> SDA umumnya tak banyak membangkitkan aglomerasi dan tak banyak berkait dgn >> perekonomian perkotaan ….dimana diketahui bhw perekonomian perkotaan >> sebenarnya lbh banyak dan lebih mudah melahirkan kewiraswastaan, kesempatan >> kerja, investasi (perkotaan, asing maupun domestik), kelas menengah dan >> berkembangnya multisektoralitas yg luas serta dampak gandanya ……...yah >> kita memang brkali dlm waktu dekat ini belum dizinkan utk menjadi bangsa yg >> adil, makmur dan maju (apa krn dosa2 korupsi yg kelewat merajalela dan perlu >> ditebus dulu ya?)………salam, >> >> aby >> >> --- On *Sat, 4/24/10, efha_mardiansjah@ >> yahoo.com<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> >> <efha_mardiansjah@ >> yahoo.com<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> >> >* wrote: >> >> >> From: efha_mardiansjah@ >> yahoo.com<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]><efha_mardiansjah@ >> yahoo.com<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> >> > >> Subject: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business >> Competitiveness: The Next Challenge >> To: refere...@yahoogrou >> ps.com<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> >> >> Date: Saturday, April 24, 2010, 3:56 AM >> >> >> >> Sahabat-sahabat referensiers ysh, >> >> Saya membaca dua buah artikel/laporan kompas tentang pernyataan Menko >> Pereekonomian di *Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness: >> The Next Challenge *(Saya sertakan laporan tersebut di bawah). >> >> Mohon info adakah di antara para sahabat yang memiliki copy dari makalah >> atau sambutan Pak Hatta tsb? >> >> Juga adakah di antara para sahabat yang memiliki hasil-hasil dari >> Pertemuan Nasional di Tampak Siring yang lalu? Saya sudah berusaha >> mencarinya melalui laporan berita ataupun website, tetapi belum >> mendapatkannya juga. >> >> Saya ingin sekali mengetahuinya. jadi apabila ada di antara para sahabat >> memilikinya dan bisa di-share ke pelbagaii pihak, saya senang sekali unttuk >> mendapatkan copy-nya. >> >> Terima kasih dan salam sejahtera, >> >> Fadjar Undip >> >> >> >> *Sistem Logistik* >> *Jakarta dan Surabaya Jadi Mega Hub* >> Laporan wartawan *KOMPAS Orin Basuki* >> Sabtu, 24 April 2010 | 17:19 WIB >> Menko Perekonomian Hatta Rajasa >> *JAKARTA, KOMPAS.com* - Jakarta dan Surabaya akan dijadikan sebagai >> Mega Hub dalam sistem logistik nasional. Ini menempatkan kedua kota besar >> itu sebagai titik temu antara kekuatan ekonomi yang terkoneksi dalam >> infrastruktur Indonesia. >> >> "Lima tahun ke depan perjuangan kita ada di infrastruktur. Kami >> identifikasi seluruh pembangunan infrastruktur agar Indonesia terkoneksi >> dengan sistem logistik nasional. Salah satu tujuannya adalah membangun pusat >> pertumbuhan baru dengan basis lokal," ungkap Menteri Koordinator >> Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat menjadi >> pembicara kunci dalam *Seminar Nasional tentang Sustainable Business >> Competitiveness: The Next Challenge.* >> >> Menurut Hatta, secara garis besar, Indonesia akan dikembangkan dengan >> membagi wilayahnya menjadi enam koridor ekonomi. Keenam koridor itu adalah >> koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Papua, dan Merauke. Merauke >> dikhususkan karena dijadikan wilayah khusus pengembangan pertanian tanaman >> pangan dan energi terbarukan. >> >> "Ini pembagian yang serius karena merupakan hasil dari studi yang >> dilakukan JICA Jepang. Di dalamnya akan dibentuk hub-hub (penghubung) yang >> akan terkoneksi oleh daerah *feeder. *Seluruhnya harus terkoneksi. Ini >> yang menjadi kelemahan yang kita miliki saat ini," ungkap Hatta. >> >> Seluruh ibu kota provinsi di setiap koridor akan dijadikan sebagai *Hub >> Provincial Capital. *Setiap koridor akan dikembangkan dengan sektor yang >> terfokus. Sebagai contoh, koridor Kalimantan akan dikembangkan untuk >> pertanian dan industri kimia minyak. Sementara koridor Jawa akan dijadikan >> sebagai basis kekuatan manufaktur. >> >> "Seluruh gubernur sudah diminta mengidentifikasi keunggulan masing-masing. >> Keunggulan itu yang akan dikembangkan, misalnya di Sumatera Selatan ada >> kandungan batu bara yang set ara 50 persen cadangan nasional, namun dengan >> kalori yang masih muda, sekitar 4.000 kalori ke bawah. Kalori muda ini tidak >> untuk dijual, namun bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik," ujar Hatta. >> >> >> *Pengelolaan Energi* >> *Hatta: Ada Kesalahan Kebijakan Energi* >> Laporan wartawan *KOMPAS Orin Basuki* >> Sabtu, 24 April 2010 | 16:44 WIB >> >> *JAKARTA, KOMPAS.com *- Pemerintah memastikan, konstribusi energi dalam >> pembentukan cadangan devisa nasional akan terus menurun mulai tahun 2014. >> Pengurangan sumber cadangan devisa dari penjualan energi ini dilakukan >> karena mengutamakan terpenuhinya seluruh kebutuhan energi di dalam negeri. >> Energi yang akan diekspor hanyalah sisanya. >> >> Saat ini, 70-80 persen dari cadangan devisa berasal dari hasil penjualan >> energi ke pasar internasional. "Jika kita terus menjual energi ke luar >> negeri, tidak akan ada industri yang mau mengembangkan bisnisnya di dalam >> negeri. Kami ingin agar industri mau mengembangkan bisnis di dalam negeri," >> ujar Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu >> (24/4/2010) saat seminar tentang *Sustainable Business Competitiveness: >> The Next Challenge*. >> >> Menurut Hatta, kebijakan energi yang mendahulukan pembentukan cadangan >> devisa dari penjualan energi itu merupakan kebijakan salah. Kebijakan >> tersebut menyebabkan Indonesia lupa untuk membangun infrastruktur energi, >> seperti depo dan LNG *receiving *terminal. >> >> Akibatnya, ketika permintaan energi meningkat dan harganya sangat baik, >> Indonesia malah tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Peluang ini >> hilang terutama pada gas. >> *Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan >> devisa, namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa >> dialihkan dari devisa hasil penjualan energi ke pajak.* >> "Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan >> devisa, namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa >> dialihkan dari devisa hasil penjualan energi ke pajak," ujarnya. >> Sementara, lanjutnya, pasokan energinya digunakan untuk mengamankan >> kebutuhan dalam negeri. Itu tetap dilakukan dengan menghormati kontrak yang >> suda ada. Ke depan, pasokan energi harus dijadikan untuk menumbuhkan >> perekonomian. >> >> Menurutnya, cadangan energi yang dimiliki Indonesia saat ini sangat besar, >> yakni setara 6 juta barrel per hari. Itu sudah termasuk batu bara, minyak >> mentah, dan gas bumi. "Dengan demikian, jangan main-main dengan energi dan >> juga pangan," ungkapnya. >> >> >> >> >>

