Mas fajar, coba cek di situs bappenas
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: - ekadj <[email protected]>
Date: Tue, 4 May 2010 20:14:48 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business 
        Competitiveness: The Next Challenge

Pak Fadjar, saya masih menunggu-nunggu pandangan anda mengenai hal ini.
Sedikit kasih masukan: dalam trilogi infrastruktur-struktur-suprastruktur;
'hukum alam strukturalisme'-nya adalah: suprastruktur membina struktur, dan
struktur membina infrastruktur. Salam.

-ekadj

2010/4/26 hengky abiyoso <[email protected]>

>
>
>   Mas Fajar yg baik,
>
> Maaf saya tidak mampu bantu dapatkan kopi naskah sambutan Menko Hatta
> Rajasa yg  anda butuhkan …….saya bayangkan …..begitu anda dapatkan naskah
> pidato itu … rasanya tak lama Hatta akan anda kuliti habis2an……saya mohon
> maap  izinkan mengomentari jg sedikit berita rencana Hatta tsb…….
>
> Menyangkut rencana Jkt dan Sby sbg mega hub ….dari masa kemasa semenjak
> kapanpun selalu saja pertimbangan/ visi ekonomi selalu kurang  menganggap
> penting (kasarnya meremehkan) perlunya pengembangan keadilan keruangan dalam
> hal pengembangan sistem kota2 secara nasional…..maksud saya …dlm hal ini
> keputusan (pola pikir) tsb menunjukkan bhw sampai jauh kedepan nanti ……Jawa
> akan tetap saja melesat jauh kedepan dan KTI akan tetap saja ketinggalan
> entah kemana……
>
> Dgn pola pikir Hatta (yg nampaknya mantap dan canggih) yg
> menspesialisasikan masing2 pulau spt contohnya Kalimantan (yg sebesar itu)
> disuruh berspesialisasi di pertanian dan industri  kimia minyak (saja) dan
> tak dijelaskan pulau2 besar lain disuruh berspesialisasi apa …..menunjukkan
> bhw pengembangan kotanya (dan pengembangan masyarakat kelas menengahnya,  
> manufaktur
> dan kewiraswastaan, apalagi migrasi)  tak dipikirin (mungkin sambil lupa
> kalau ia ketua BKPRN ….dipikir ada lembaga lain yg ngurus pengembangan
> kotanya)……yg berarti pengembangan model Hatta itu masih saja tetap dpt
> dikatakan ‘monosektoralistik’……..
>
> Dari pengalaman sekian dekade yg lalu telah ditunjukkan bhw pembangunan
> daerah dgn basis SDA tak berjalan dgn memuaskan …..krn pembangunan berbasis
> SDA umumnya tak banyak membangkitkan aglomerasi dan tak banyak berkait dgn
> perekonomian perkotaan ….dimana diketahui bhw perekonomian perkotaan
> sebenarnya lbh banyak dan lebih mudah melahirkan kewiraswastaan, kesempatan
> kerja, investasi (perkotaan, asing maupun domestik),  kelas menengah dan
> berkembangnya multisektoralitas yg  luas serta dampak gandanya ……...yah
> kita memang brkali dlm waktu dekat ini belum dizinkan utk menjadi bangsa yg
> adil, makmur dan maju (apa krn dosa2 korupsi yg kelewat merajalela dan perlu
> ditebus dulu ya?)………salam,
>
> aby
>
> --- On *Sat, 4/24/10, [email protected] <
> [email protected]>* wrote:
>
>
> From: [email protected] <[email protected]>
> Subject: [referensi] Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness:
> The Next Challenge
> To: [email protected]
> Date: Saturday, April 24, 2010, 3:56 AM
>
>
>
>    Sahabat-sahabat referensiers ysh,
>
> Saya membaca dua buah artikel/laporan kompas tentang pernyataan Menko
> Pereekonomian di *Seminar Nasional Sustainable Business Competitiveness:
> The Next Challenge *(Saya sertakan laporan tersebut di bawah).
>
> Mohon info adakah di antara para sahabat yang memiliki copy dari makalah
> atau sambutan Pak Hatta tsb?
>
> Juga adakah di antara para sahabat yang memiliki hasil-hasil dari Pertemuan
> Nasional di Tampak Siring yang lalu? Saya sudah berusaha mencarinya melalui
> laporan berita ataupun website, tetapi belum mendapatkannya juga.
>
> Saya ingin sekali mengetahuinya. jadi apabila ada di antara para sahabat
> memilikinya dan bisa di-share ke pelbagaii pihak, saya senang sekali unttuk
> mendapatkan copy-nya.
>
> Terima kasih dan salam sejahtera,
>
> Fadjar Undip
>
>
>
> *Sistem Logistik*
> *Jakarta dan Surabaya Jadi Mega Hub*
> Laporan wartawan *KOMPAS Orin Basuki*
> Sabtu, 24 April 2010 | 17:19 WIB
>   Menko Perekonomian Hatta Rajasa
>  *JAKARTA, KOMPAS.com* -  Jakarta dan Surabaya akan dijadikan sebagai Mega
> Hub dalam sistem logistik nasional. Ini menempatkan kedua kota besar itu
> sebagai titik temu antara kekuatan ekonomi yang terkoneksi dalam
> infrastruktur Indonesia.
>
> "Lima tahun ke depan perjuangan kita ada di infrastruktur. Kami
> identifikasi seluruh pembangunan infrastruktur agar Indonesia terkoneksi
> dengan sistem logistik nasional. Salah satu tujuannya adalah membangun pusat
> pertumbuhan baru dengan basis lokal," ungkap Menteri Koordinator
> Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu (24/4/2010) saat menjadi
> pembicara kunci dalam *Seminar Nasional tentang Sustainable Business
> Competitiveness: The Next Challenge.*
>
> Menurut Hatta, secara garis besar, Indonesia akan dikembangkan dengan
> membagi wilayahnya menjadi enam koridor ekonomi. Keenam koridor itu adalah
> koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , Papua, dan Merauke. Merauke
> dikhususkan karena dijadikan wilayah khusus pengembangan pertanian tanaman
> pangan dan energi terbarukan.
>
> "Ini pembagian yang serius karena merupakan hasil dari studi yang dilakukan
> JICA Jepang. Di dalamnya akan dibentuk hub-hub (penghubung) yang akan
> terkoneksi oleh daerah *feeder. *Seluruhnya harus terkoneksi. Ini yang
> menjadi kelemahan yang kita miliki saat ini," ungkap Hatta.
>
> Seluruh ibu kota provinsi di setiap koridor akan dijadikan sebagai *Hub
> Provincial Capital. *Setiap koridor akan dikembangkan dengan sektor yang
> terfokus. Sebagai contoh, koridor Kalimantan akan dikembangkan untuk
> pertanian dan industri kimia minyak. Sementara koridor Jawa akan dijadikan
> sebagai basis kekuatan manufaktur.
>
> "Seluruh gubernur sudah diminta mengidentifikasi keunggulan masing-masing.
> Keunggulan itu yang akan dikembangkan, misalnya di Sumatera Selatan ada
> kandungan batu bara yang set ara 50 persen cadangan nasional, namun dengan
> kalori yang masih muda, sekitar 4.000 kalori ke bawah. Kalori muda ini tidak
> untuk dijual, namun bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik," ujar Hatta.
>
>
> *Pengelolaan Energi*
> *Hatta: Ada Kesalahan Kebijakan Energi*
> Laporan wartawan *KOMPAS Orin Basuki*
> Sabtu, 24 April 2010 | 16:44 WIB
>
> *JAKARTA, KOMPAS.com *- Pemerintah memastikan, konstribusi energi dalam
> pembentukan cadangan devisa nasional akan terus menurun mulai tahun 2014.
> Pengurangan sumber cadangan devisa dari penjualan energi ini dilakukan
> karena mengutamakan terpenuhinya seluruh kebutuhan energi di dalam negeri.
> Energi yang akan diekspor hanyalah sisanya.
>
> Saat ini, 70-80 persen dari cadangan devisa berasal dari hasil penjualan
> energi ke pasar internasional. "Jika kita terus menjual energi ke luar
> negeri, tidak akan ada industri yang mau mengembangkan bisnisnya di dalam
> negeri. Kami ingin agar industri mau mengembangkan bisnis di dalam negeri,"
> ujar Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu
> (24/4/2010) saat seminar tentang *Sustainable Business Competitiveness:
> The Next Challenge*.
>
> Menurut Hatta, kebijakan energi yang mendahulukan pembentukan cadangan
> devisa dari penjualan energi itu merupakan kebijakan salah. Kebijakan
> tersebut menyebabkan Indonesia lupa untuk membangun infrastruktur energi,
> seperti depo dan LNG *receiving *terminal.
>
> Akibatnya, ketika permintaan energi meningkat dan harganya sangat baik,
> Indonesia malah tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Peluang ini
> hilang terutama pada gas.
>  *Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan
> devisa, namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa
> dialihkan dari devisa hasil penjualan energi ke pajak.*
>  "Pola pikir tentang energi ini harus diubah. Kita memang membutuhkan
> devisa, namun pendapatan dari energi yang disetorkan ke negara bisa
> dialihkan dari devisa hasil penjualan energi ke pajak," ujarnya.
> Sementara, lanjutnya, pasokan energinya digunakan untuk mengamankan
> kebutuhan dalam negeri. Itu tetap dilakukan dengan menghormati kontrak yang
> suda ada. Ke depan, pasokan energi harus dijadikan untuk menumbuhkan
> perekonomian.
>
> Menurutnya, cadangan energi yang dimiliki Indonesia saat ini sangat besar,
> yakni setara 6 juta barrel per hari. Itu sudah termasuk batu bara, minyak
> mentah, dan gas bumi. "Dengan demikian, jangan main-main dengan energi dan
> juga pangan," ungkapnya.
>
>
>
> 
>

Kirim email ke