Budaya Sunda tidak Benar Tersingkirkan BANDUNG, (PR).- Tidak benar budaya Sunda tersingkir, apalagi menuju kepunahan. Justru, saat ini budaya Sunda tengah mengalami pergeseran dan berkembang dalam dunianya, yang diusung oleh generasi muda sebagai generasi penerus. Memang, apresiasi masyarakat luas, agak berkurang.
Pendapat itu disampaikan Mas Nanu Muda, S. Sen, M.Hum. Dosen STSI Bandung, Selasa (3/1), berkenaan dengan muncul kekhawatiran dan pernyataan, bahwa budaya Sunda khususnya budaya lokal, mulai tersingkir dan diambang kepunahan. Nanu menjelaskan, ada saatnya banyak orang Sunda mengurangi aktivitas berkebudayaan dan ramai-ramai menggandrungi budaya impor, sehingga budaya Sunda, seakan tersisihkan dan memasuki masa kepunahan. "Itu tidak benar. Bahkan, sejumlah seniman muda daerah yang tergabung di beberapa sanggar terus berkarya, kreativitas juga berlangsung. Hanya masalahnya, kesempatan untuk tampil, khususnya di daerah sendiri, sangat kurang," ujar Mas Nanu. Dia mengatakan, Kota Bandung adalah pusat kota seni budaya, bahkan terdapat SMKI dan STSI. Akan tetapi, keseniannya jarang ditampilkan. "Selama ini, seniman maupun budayawan lebih banyak berkiprah di luar daerah dibanding di kota sendiri," ujar Mas Nanu. Kondisi itu, menurut Mas Nanu, sangat berbeda di Yogyakarta, Bali, atau daerah lainnya. Oleh pemerintah setempat, baik seniman maupun budayawannya banyak diberi keleluasaan untuk berekspresi. Kemudian untuk proses pembanding, seniman maupun budayawan dari luar daerah turut ditampilkan. Dapat tempat Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Drs. H.I. Budhayana, M.Si., mengatakan, saat ini keberadaan budaya Sunda di daerah masih mendapat tempat. Hanya saja, budaya lokal belum menjadi pengisi acara di hotel-hotel maupun tempat wisata. Sedangkan dalam even-even tertentu, sajian budaya lokal masih bersifat tempelan. Namun demikian, selama satu tahun terakhir, jajaran Disbudpar Jabar bersama seniman terus berupaya memberdayakan budaya lokal melalui peningkatan agenda kegiatan upacara daerah. Selain pembinaan terhadap seniman dan budayawan, juga mengoptimalkan pemanfaatan serta pengelolaan gedung kesenian yang sampai saat ini masih banyak menemui kendala. "Perhatian terhadap seniman maupun budayawan khususnya di daerah tidak hanya dalam bentuk pembinaan, tetapi finansial serta pengadaan sarana kegiatan budaya lokal juga menjadi bahan pemikiran kita," ujar Budhyana. Diakui Budhyana, perhatian pemerintah daerah terhadap kondisi budaya lokal dengan seniman dan budayawannya masih kurang. Sejumlah daerah yang sangat potensial dalam mengembangankan seni budaya, masih belum menempatkan budaya lokal, seniman, dan budayawannya sebagai aset wisata. "Semisal Kabupaten Bandung, Subang, Sumedang, dan Kuningan, masih memfungsikan gedung apa adanya untuk pementasan karya seni budaya," ujarnya.(A-87)*** http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
