Membaca Ulang "Priangan Si Jelita"
Oleh SONI FARID MAULANA

    Seruling di pasir ipis, merdu
    antara gundukan pohon pina,
    tembang menggema di dua kaki,
    Burangrang-Tangkubanparahu 

EMPAT larik puisi di atas dikutip dari antologi puisi "Priangan Si
Jelita", bagian pertama yang diberi subjudul "Tanah Kelahiran" karya
penyair Ramadhan K.H., yang juga dikenal sebagai novelis, penulis
cerita pendek serta biografi. Empat larik puisi di atas setidaknya
memberikan gambaran pada kita -- tentang indahnya alam Priangan pada
waktu itu.

Lantas bagaimana saat ini? Apakah tembang masih menggema di dua kaki
Burangrang-Tangkubanparahu? Jika pun ada tembang yang menggema saat
ini pastilah bukan hanya tembang Sunda, tetapi lagu lainnya. Boleh
jadi, lagu itu adalah lagu dangdut. Ini artinya, di tengah-tengah
kehidupan kita yang demikian itu -- ada nilai-nilai yang berubah
dengan cepatnya. Perubahan itu mengguncang seluruh sendi kehidupan
manusia dalam segala hal, baik dalam bidang sosial, politik, maupun
ekonomi. Misalnya, tergesernya tembang Sunda Cianjuran oleh lagu
dangdut adalah fakta yang tak bisa dibantah dalam dunia hiburan
sebagian besar Ki Sunda saat ini.

Membaca ulang "Priangan Si Jelita" dalam konteks kehidupan dewasa ini
-- adalah membaca ulang sikap kita terhadap alam serta kesadaran kita
terhadap lingkungan sosial yang melatarinya. Apakah selama ini kita
bersahabat dengan alam atau malah merusaknya? Pertanyaan-pertanyaan
semacam ini penting untuk direnungkan agar tanah Priangan yang subur
ini -- tidak menjadi sebuah daerah yang kering kerontang, yang tidak
lagi menghasilkan apa pun dalam dunia pertanian, misalnya.

Tentu saja kecemasan semacam ini patut diapungkan -- mengingat dewasa
ini, diakui atau tidak, banyak sudah lahan-lahan pertanian di Jawa
Barat yang sudah berubah fungsi jadi perumahan, atau pabrik-pabrik
yang menghasilkan limbah, yang bisa membuat tanah subur dari jadi
tanah yang mati. Dengan demikian larik-larik puisi yang ditulis oleh
Ramadhan K.H., seperti ini: Membelit tangga di tanah merah/ dikenal
gadis-gadis dari bukit/ Nyanyian kentang sudah digali,/ kenakan kebaya
merah ke pewayangan// hanya tinggal kenangan, yang kekal di buku-buku tua.

Pada sisi yang lain, dunia perwayangan itu sendiri dewasa ini --
jarang sudah ditanggap orang. Apa sebab? Karena dewasa ini begitu
mudahnya orang mengakses dunia hiburan yang lain, yang langsung masuk
ke rumah-rumah lewat saluran televisi. Listrik yang sudah masuk desa
hingga ke kaki bukit sana telah pula menyebabkan orang-orang yang ada
di situ ingin memiliki pesawat televisi. Digelarnya pertunjukan wayang
dengan demikian menjadi sebuah tontonan yang eksklusif dan mahal
harganya. Hanya orang-orang kayalah yang bisa menanggapnya.

Dengan demikian jelas "Priangan si Jelita" yang ditulis oleh Ramadhan
K.H., pada tahun 1950-an itu, yang kemudian terbit dalam empat bahasa,
Indonesia, Inggris, Jerman, dan Prancis oleh Indonesia Tera (2003) --
terasa kontekstual dengan zaman ini, ketika ia dibaca dengan cara yang
lain, yakni ketika kita melakukan tafsir yang disesuaikan dengan gerak
zaman. Antologi puisi ini dibagi dalam tiga bagian. Masing-masing
bagian yang terdiri dari tujuh puisi itu diberi sub judul. Bagian
kedua dan ketiga masing-masing diberi subjudul "Dendang Sayang" dan
"Pembakaran". Dalam dua bagian terakhir ini, Ramadhan K.H., lebih
banyak bicara soal posisi manusia dengan alam dan lingkungan hidupnya,
termasuk persoalan-persoalan sosial-politik yang melingkarinya seperti
yang diungkapnya dalam larik-larik puisinya yang berbunyi: Bumi ini
dibawa ke alam hijau/ dan perang tiada/ di atas tali-tali kayu
berlubang// Sumur segala derita,/ bersamaan semua berpelukan.// Bumi
ini dibawa ke alam hijau/ dan perang tiada/ di atas hati-hati dara
berluka.// Sumur segala sayatan/ penampung tangis bertukaran//

Paling tidak, demikian Ramadhan K.H. hadir ke hadapan kita. Ia adalah
sastrawan negeri ini, yang kehadirannya tidak bisa dimistik jadi nol.
Ia telah ada dan mengada dengan sejumlah karyanya yang monumental baik
dalam bidang puisi, novel, maupun cerita pendek. *** 

Penulis penyair, Wartawan "PR"





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke