Tubuhku Siapa Punya?

Arahmaiani

Tubuh adalah anugerah kehidupan—ia adalah suatu kenyataan yang
berhubungan dengan hal suci dan sekaligus profan. Tubuh merupakan
bagian integral atas suatu totalitas di mana ia utuh menyatu dengan
jiwa dan roh, kecuali ketika dinyatakan secara klinis mati. Dalam
banyak praktik budaya maupun keyakinan, tubuh mati biasanya
diperlakukan secara terhormat, dimandikan, disembahyangkan, dan lalu
dimakamkan dengan sebuah upacara—sekalipun si mati adalah orang biasa.

Secara umum tubuh diidentifikasi lewat bentuknya, yang sering
dikategorikan ke dalam pembagian sederhana, yaitu tubuh perempuan,
tubuh laki-laki, dan tubuh anak (sekalipun ada variabel di antaranya).
Selanjutnya tubuh dengan ciri dan fungsi biologisnya kemudian diberi
makna—yang bergantung pada sistem nilai dan budaya yang diberlakukan.
Dan dalam praktik budaya patriarkis, tubuh perempuan cenderung
dimaknai sebagai obyek. Ia bisa menjadi obyek kesenangan ataupun obyek
berbahaya yang menakutkan (bagi yang ingin menguasainya) karena ia
mutlak dianggap sebagai sumber kesenangan semata (object of pleasure).

Tampaknya kecenderungan ini merupakan fenomena umum dalam kehidupan
modern di mana pada satu sisi "penguasa sekuler" memperlakukan tubuh
sebagai obyek permainan pasif (passive playing object) dan di sisi
lain "penguasa religius" melihat tubuh sebagai potensial
berbahaya—maka harus dikontrol dengan ketat. Kelihatannya seakan
keduanya berfokus pada hal yang berbeda, dan mengarah pada alur
diskursus berbeda—namun apabila direnungkan lebih lanjut, akan
terlihat titik temunya. Di mana sebenarnya pangkal masalahnya adalah
sama, yaitu: sama-sama menganggap tubuh sebagai obyek saja dan
keduanya ingin berperan sebagai pemilik yang berkuasa dan boleh
mengatur dan mengambil manfaat darinya.

"Culture of Fear"

"Budaya rasa takut" mungkin pada mulanya tumbuh dan berkembang atas
situasi dan kesadaran manusia akan aspek ketidakpastian dalam hidup,
yang kemudian oleh penguasa yang ingin selalu menegaskan kekuasaannya
dikembangkan ke arah yang lebih "halus" dan canggih dengan tujuan
untuk melempangkan jalan bagi agenda yang ingin diterapkan.
Diciptakanlah mitos-mitos dan dongeng-dongeng akan bahaya-bahaya dalam
kehidupan dan dikembangkan pula di atasnya budaya penaklukan. Dunia
dan kehidupan dijelajahi untuk ditundukkan, demikian pula dengan tubuh
perempuan. Tubuh ini menjadi simbol atas penaklukan kelompok/golongan
berbahaya yang ironisnya sering disebut sebagai "kaum lemah". Dan lalu
tubuh pun menjelma menjadi site of political battle.

Tubuh dipetakan (seperti juga dunia dan kehidupan ini). Topografi
tubuh dibuat sedemikian rupa sehingga muncul anggapan bahwa misalnya
payudara, paha, pinggul, pantat, kelamin, dan pusar adalah bagian
tubuh yang boleh dianggap berbahaya karena bisa membangkitkan berahi.
Dan topografi ini bisa terus lanjut dikembangkan bergantung pada
rencana bagaimana kekuasaan akan dioperasikan. Maka selanjutnya
seperti bagian tubuh lainnya yang tadinya dianggap tidak "sexy"
misalnya tangan, kaki, tengkuk, dan seterusnya akan bisa lalu dianggap
berbahaya.

Lalu dibuatlah aturan di mana bagian-bagian tubuh berbahaya ataupun
gerakan-gerakan erotis tadi dikontrol dan tidak boleh diperlihatkan
kepada publik—dan tidak dieksploitasi. Apabila dilanggar, bisa dikenai
hukuman. Saya kira demikian pada awalnya lalu untuk bisa merangkum ide
rumit ini dalam kemasan yang "mudah dipahami", maka perlu digunakan
istilah-istilah teknis semacam "pornografi" atau bahkan lebih jauh
lagi "pornoaksi". Bagi si pembuat aturan apa sebenarnya makna
istilah-istilah tersebut tidaklah terlalu perlu digubris, yang paling
penting adalah "kejelasan logika" bahwa hal ini bisa menjadi alat
kontrol yang ampuh untuk mengendalikan "moralitas" masyarakat.

Lewat mitos dan dongeng seputar tubuh dan dengan mengetengahkan isu
sentral "moralitas" dan "perlindungan pada kaum perempuan", para
"penguasa religius" mengontrol tubuh dan seksualitas (terutama tubuh
dan seksualitas perempuan) dengan cara menutupi sebagian sampai
seluruh tubuh dan membatasi ruang geraknya. Sedangkan di sisi lain,
"penguasa sekuler" memanipulasi tubuh dan seksualitas dengan berbagai
cara dan alasan entah demi kebahagiaan, kecantikan, ataupun kesehatan
ingin mengeduk keuntungan dari padanya. Memang isu "moral" dalam kasus
ini bisa hilang sama sekali. Tekanan permasalahan seakan terfokus pada
hal berbeda—namun apabila dicermati, tampaklah bahwa hulu dan muara
permasalahan adalah sama.

Dalam hal ini, pada dasarnya perempuan dibuat merasa cemas pada
kenyataan tubuhnya dan takut pada konsekuensinya. Sehingga hampir
selalu ia harus merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya!
Ia dibuat untuk selalu merasa ada yang salah dengan diri dan
keberadaannya, ia seakan "dipaksa" untuk harus merasa dan mengakui
bahwa dirinya memang "lemah sehingga harus dijaga dan diurus" seperti
anak-anak layaknya.

Imajinasi kekuasaan

Tubuh tidak terlepas dari aspek-aspek lain dalam kehidupan. Kondisi
dan situasi tubuh mencerminkan hubungannya dengan jaring, simpul, dan
jerat temali kekuasaan. Tubuh menjadi penanda atas bahasa kekuasaan
yang dimainkan. Dan tubuh perempuan bisa dilihat sebagai simbol atas
"tubuh yang harus dikuasai" seperti: kelompok orang miskin, minoritas,
homoseks, banci, dan golongan pinggiran lainnya yang kerap kali
dianggap potensial membahayakan dan cenderung dianggap musuh.

Ketika tubuh perempuan dilihat secara parsial, sebagai obyek yang bisa
dilihat secara bagian per bagian seakan bisa dipilah-pilah menjadi
bagian-bagian tubuh terpisah—(bagai daging sapi yang dipotong-potong
untuk kemudian dikonsumsi). Ia menjadi seperti benda tanpa nyawa,
tanpa pikiran, tanpa harapan, dan tanpa spiritualitas. Dan hal ini
sama sejalan dengan bagaimana mata kekuasaan dalam memandang
keberadaan "golongan pinggiran" tadi. Ia seakan hanya benda tanpa
keinginan dan impian maka ia lalu boleh diperlakukan, dibentuk,
dipangkas, diatur, ditata sekehendak hati sang penguasa.

Jadi keberadaan tubuh yang dikaruniai nyawa dan roh sama sekali
dinafikan—ia seakan hanya seonggok daging dan tulang saja. Hal ini
paralel dengan cara berpikir penguasa yang melihat golongan pinggiran
hanya sebagai seonggok sampah saja. Kehidupan dipandang sebagai sebuah
wilayah yang harus dijajah dan dijarah bukan sebagai suatu hal untuk
menuju kemaslahatan bersama, namun ia dianggap sebagai lahan untuk
mengeduk "keuntungan" baik untuk dirinya pribadi maupun untuk
kepentingan kelompoknya.

Kekuasaan menjadi tidak manusiawi, kejam dan tanpa nurani. Ia serupa
"a cold big daddy" yang takan sungkan-sungkan untuk menghabisi nyawa
anak-anaknya apabila mereka tak menuruti kehendaknya. Ia menjadi
monster dalam kehidupan—membabi buta menginjak siapa saja yang
menghalangi jalanya.

Ia tak memiliki imajinasi dan kreativitas sehingga ia harus selalu
memiliki dan menguasai. Ya memang begitu biasanya, semakin ia miskin
fantasi semakin ia ingin menguasai dan memiliki.

Saya tak bermaksud untuk memengaruhi siapa saja yang ingin
mempersembahkan hidup dan tubuhnya bagi entah seseorang, entah
kelompok kepercayaan ataupun keyakinan, entah suatu ideologi. Itu
adalah hak dan pilihan manusia dewasa yang harus dihormati. Hanya saja
saya kira kita juga harus bisa menghormati siapa pun yang percaya
bahwa dirinya memiliki hak untuk menjadikan tubuhnya sebagai alat
ekspresi, menjaga otaknya untuk tidak dijangkiti wabah kepicikan, dan
melindungi hatinya dari kekeruhan dan kebekuan sehingga dapat
berfungsi sebagai alat pembimbing hidupnya.

Kenapa hanya ketika tubuh ini dianggap mati lalu ia diupacarakan dan
dihormati—kenapa tubuh bernyawa yang digerakkan oleh "Yang Paling
Kuasa" kita perlakukan dengan tak sepantasnya dan tidak kita hargai?
Dan lalu kenapa kita merasa melakukan hal yang benar ketika kita
memenjarakan tubuh orang lain dalam kerangkeng "moralitas" kita? Dan
lalu menghakimi dan menganggap siapa saja yang "mengobral tubuhnya"
bersalah, murahan, dan hina? Mengapa kita menjadi musuh atas tubuh dan
menjadi begitu mabuk "kesucian"?

ARAHMAIANI, Pengamat Tubuh





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke