Gudang porno mah internet!!!!! Internet "DISIKAT" oge atuh sakalian? 

Hirup SENSOR!!! :((

"Playboy" Wow!

REMCO Campert, penyair kenamaan dari Belanda pernah menulis sejumlah
esainya di majalah Playboy edisi bahasa Belanda. Bahkan bukan hanya
itu, beberapa iklan buku yang ditulisnya dipublikasikan juga di
majalah tersebut. Setidaknya, saya bersama penyair Agus R. Sardjono
pernah melihat itu di Leiden, di sebuah kios yang secara khusus
menjual koran dan majalah. Tepatnya di stasiun kereta api, yang
menghubungkan Leiden dengan kota-kota lainnya di Eropa.

Kini majalah yang sarat dengan foto-foto bugil yang dibidik dari
berbagai arah itu -- akan terbit dalam edisi bahasa Indonesia pada
bulan Maret mendatang. Wow, artis-artis lokalkah yang akan muncul di
situ, atau orang-orang ternama dari Barat sana yang dengan riang
gembira memperlihatkan bagian-bagian tertentu dari tubuhnya yang
bugil, yang seakan-akan kulitnya tidak pernah ditumbuhi bisul?

Apa sebab? Playboy yang terbit dalam edisi bahasa Belanda itu, pada
lembaran-lembaran tertentunya banyak menampilkan foto-foto telanjang
wanita Belanda, selain yang sudah dikemas dari Amerika sana. Jika
Playboy edisi terbitan Indonesia banyak menampilkan wanita-wanita
lokal yang dengan suka-ria mau foto bugil dengan alasan apa pun, maka
kehadiran majalah ini di negeri ini -- harus siap-siap berhadapan
dengan para penjaga moral, selain berhadapan dengan berbagai macam
undang-undang yang kelak menghadangnya.

Sisi baik dan sisi buruk di majalah Playboy memang tersedia. Sisi
baik, tak jarang majalah itu sering menampilkan artikel-artikel
menarik tidak hanya membahas sosial seni dan budaya, tetapi juga gaya
hidup. Sisi buruk, tentu saja apa yang selama ini ditabukan untuk
dilihat oleh publik: khususnya mengenai bagian-bagian tertentu dari
tubuh manusia, di majalah tersebut secara terang-terangan bisa dilihat
tanpa harus disembunyikan dalam lipatan kain. Alias telanjang bulat
atau pornografi.

Hal-hal yang bersifat pornografi sesungguhnya di negeri ini, sudah ada
sejak ribuan tahun lalu. Lihat saja sejumlah relief yang ada di Candi
Borobudur yang mengungkap berbagai gaya adegan persetubuhan.
Relief-relief itu hingga kini masih ada, dan sudah difoto banyak
orang. Adakah para penjaga moral berani memugar relief semacam itu,
jika majalah Playboy kelak terbit, misalnya didemo secara
besar-besaran untuk tidak edarkan di negeri ini?

Tantangan semacam ini juga berlaku bagi UU Pornografi dan Pornoaksi
yang kini tengah diperbincangkan banyak pihak. Jika diketuk jadi
undang-undang, para penjaga moral harus konsekuen, membabat habis
semua itu, tak peduli apakah relief itu termasuk yang dilindungi atau
tidak oleh UU Cagar Budaya. (Soni Farid Maulana/"PR")***






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke