Kebenaran dan Keadilan Ternyata Tak Cukup

Imam Prihadiyoko

Bangsa ini tampaknya tidak sabar dalam menjalankan semua hal, bahkan
tidak jarang mengambil jalan kekerasan dan otoriter untuk memaksakan
kebenarannya sendiri. Paling tidak, itulah yang bisa kita saksikan
dalam hari-hari terakhir ini.

Mahasiswa, dengan maksud baik, memaksakan kebenarannya seakan
merekalah pemegang monopoli kebenaran. Buruh, juga dengan maksud
baiknya, menuntut perbaikan dengan perusakan. Sebuah organisasi dengan
niat menegakkan kebenaran, lupa telah menjalankan hukumnya sendiri
yang menjadi salah dalam negara hukum. Pejabat negara, dengan
kekuasaannya, juga merasa menjadi pemegang keputusan dan ngotot dengan
kebenarannya sendiri. Akhirnya, bangsa ini hanya menumpuk dendam.

Sejarawan dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Taufik Abdullah, mengatakan, kebenaran dan keadilan tampaknya tidak
cukup untuk bangsa ini. Kebenaran dan keadilan itu masih harus
didampingi kearifan. Dan, kearifan tampaknya masih belum ditemukan
negeri ini. Meski demikian, kearifan bukan kunci tunggal menyelesaikan
persoalan kebangsaan yang menumpuk dan multidimensi. Pasalnya, kalau
kita memaksakan kearifan sebagai kunci tunggal penyelesaian berbagai
persoalan kebangsaan, sama artinya kita menjadi seorang diktator.

Berikut ini petikan pandangan Taufik ketika dijumpai di ruang kerjanya
yang sederhana di Lantai 9 Gedung Bundar LIPI, awal pekan ini.

Ada apa dengan bangsa ini?

Saya bandingkan sikap kita pada awal tahun 1950-an. Ketika itu kita
baru saja merdeka. Pengalaman selama revolusi dan penjajahan Jepang
sangat pahit. Selama penderitaan itu, ada langit impian yang ingin
diwujudkan. Ketika kemerdekaan tercapai dan kita ingin mewujudkan
impian, kita mengalami Repotnya, dalam situasi begitu ada orang atau
kelompok masyarakat yang telah memberi segalanya untuk negara ini,
tetapi terbelakang dalam soal pendidikan.

Pada waktu itu ada bekas pejuang yang telah memberikan segalanya untuk
negara, tetapi malah tersingkir. Ada orang yang sama sekali tak
berjuang untuk negara, bahkan ingin menghancurkan negara, malah
mendapat tempat. Jadi, impian tentang bangsa mulai saling bertabrakan,
kita susah mengatakan siapa yang benar. Negara rasanya tidak bisa
disalahkan karena negara yang baru merdeka ini ingin mewujudkan negara
yang tertib, demokratis, dan membangun. Adapun orang yang tersingkir
ingin mendapat tempat. Kita punya Darul Islam, Kahar Mudzakar, Daud
Bereueh, dan yang lainnya. Belum lagi yang bersifat ideologi. Negara
ini mau dibawa ke mana. Belum lagi masuknya pemikiran baru yang
berkembang dari luar negeri.

Akhirnya Soekarno mengambil langkah ketertiban pada 1959, sampai
kemudian terjadi kekacauan tahun 1965 dan saling bunuh. Soeharto
muncul mengambil kekuatan melanjutkan rencana ketertiban Soekarno
dengan pemerintahan otoriter. Pada saat otoriter, kita dipaksa seragam
dalam banyak hal. Banyak yang tak boleh dilakukan, banyak keharusan
yang mesti dilakukan.

Kemudian, apa yang terjadi setelah Soeharto mundur. Muncul perubahan
dan masalah yang lebih kompleks dibandingkan ketika Soekarno memimpin
negara. Ketika Soekarno, kita belum kenal dendam, belum ada luka.

Bahkan, ketika UUD 1945 dibuat, sesudah dipelajari memperlihatkan
hasil murni dari zaman orang belum berdosa. Dengan UUD 1945 semua
percaya akan baik. Beberapa pasal menyebutkan ini akan diatur dalam
UU. Seakan-akan pembuat UU itu tetap dilakukan orang baik.
Pasca-Soeharto sampai sekarang, ada banyak luka dan dendam.

Apa pengaruhnya bagi generasi yang hidup sekarang?

Memang, generasi yang hidup sekarang sebagian besar lahir di atas
tahun 1959. Artinya, besar kemungkinan pernah hidup dalam sistem
otoriter. Jadi, tanpa sadar ada bawaan otoriter dalam diri kita,
generasi yang lahir di atas 1959. Lihat saja, sekarang, siapa pun
merasa berhak menuntut dan memperjuangkan dengan cara cerdas. Akhirnya
dendam bertambah.

Problem kita yang terlupakan, melihat masa sekarang sebagai masa
sekarang. Padahal, yang sekarang itu bersifat transisi, yang sekarang
itu sebagai peralihan ke masa depan. Kalau kita menyelesaikan masalah
sekarang dengan berpikir hanya sekarang, besar kemungkinan kita bisa
mengulang kejadian masa lalu dan memperdalam dendam, serta melupakan
ke mana arah ke depan. Padahal, pada saat yang sama kita tidak bisa
memegang kebenaran sendiri.

Kita tak bisa hanya berpegang pada kebenaran. Sebab, kebenaran kita
bisa berbeda dengan kebenaran orang lain. Keadilan kita berbeda dengan
keadilan orang lain. Kita menyaksikan bagaimana rasa keadilan ketika
orang melakukan kejahatan yang merugikan negara hingga miliaran rupiah
dihukum satu tahun. Sementara yang melakukan kejahatan lebih kecil
dihukum tujuh tahun. Mana yang adil.

Apa yang bisa dilakukan bangsa ini?

Yang kurang itu kearifan. Sekarang kita melihat orang ingin berlomba
menguasai sejarah. Penulisan sejarah itu cenderung ingin mengatakan
bahwa yang benar itu versi saya. Padahal, sejarah bukan untuk memupuk
dendam. Bahkan bukan juga untuk mencari pembenaran. Sejarah itu
menghasilkan loncatan kearifan, tidak perlu tahu siapa membunuh siapa,
tetapi kita ketahui kalau tindakan buruk itu ada implikasi jeleknya.

Ternyata kearifan kita kurang, dan tidak bisa kita merasa benar
sendiri. Meskipun, belum pernah bangsa ini mengalami tingkat
kompleksitas persoalan yang sangat beragam. Sebelum tahun 1966 ada
pola yang bisa kita lihat, misalnya Anda PKI atau bukan. Jika PKI,
kemungkinannya ada tiga kelas, yaitu A, B, C, atau kelas yang harus
dilenyapkan dulu.

Akan tetapi, sekarang di Ambon, Anda bisa dibunuh hanya karena Islam
atau Kristen tanpa tahu apa salahnya. Kondisi menyedihkan ini juga
terjadi di Poso dan Kalimantan. Jalan terpendek yang bisa diambil ya
jalan Pak Harto yang setahap demi setahap menjalankan otoriter.
Tetapi, apa kita mau itu.

Bagaimana meningkatkan atau memupuk kearifan?

Pertama kita harus sadar bahwa dalam setiap masalah ada beragam
alternatif dan pemecahan yang harus kita ambil. Tetapi jangan lupa
juga, makin berat masalah, makin terbatas jumlah alternatifnya. Dengan
demikian, kita juga menemukan dalam suatu masalah, tidak lagi pilihan
yang ada, tetapi dilema. Artinya, kita berhadapan pada masalah etik
yang murni. Etik kan tidak sama dengan moral. Etik berdasarkan teori.
Etik tergantung pada apa yang dianggap kewajiban dan kebajikan.

Dalam soal beras, kalau dihitung mungkin pemerintah benar. Tetapi, kok
oposisi cukup berat. Karena kita sudah kehilangan saling percaya.
Karena dengan impor beras, ada kemungkinan Anda bermain.
Ketidakpercayaan ini menjadi krisis yang krusial. Kita tak punya
kepercayaan pada pemimpin.

Pada masa lalu, Aidit pun dianggap pemimpin rakyat. Sekarang kita
menyempitkan pemimpin sebagai pemimpin kelompok tertentu dan bukan
pemimpin bangsa. Ini masalah berat, dari atas di tingkat elite sendiri
juga saling tidak percaya, ketika ke bawah juga masuk sektarian.

Bagaimana supaya krisis itu berakhir?

Ini repot. Karena dengan adanya otonomi daerah, orang yang terlibat
dalam proses pembuatan keputusan makin banyak jumlahnya. Itu memang
membutuhkan waktu. Demokrasi memberi kesempatan bagi orang untuk
menunjukkan segala hal, punya berbagai macam pemikiran, tetapi juga
membuka kesempatan untuk membicarakan segala hal. Repotnya, karena
mind set kita masih otoriter, yang pernah dikuasai pemikiran siapa
yang berkuasa itu pasti korup. Itu masalah kita.





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke