He he, Bu Laura. Pada saat saya mengetik posting ini pun di samping meja saya ada setumpuk drama Korea beserta macem-macem filem Jepang, Cina, dsb, hasil sewaan istri saya. Ini kan yang banyak dijiplak sinetron Indonesia itu. Anda belum pernah nonton, ya? Coba deh sekali, abisin satu episode. Ditanggung abis gitu ketagihan. He he he. manneke
laura <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Halo si_andi, Senangnya dapat teman diskusi yang ngeyel. Tambah semangat saya biarpun lagi flu nih. Entah perempuan mana yang bapak jadikan contoh ya. Karena saya sendiri secara naluriah mencari pria baik-baik lo. Semua, tak ulangke yo semua pria yang pernah dan masih dekat dengan saya selalu bertanya "Yang, mau makan dimana?". karena pria yang sekat dengan saya ini tahu saya susah makan. tergantung mood. Apa lantas saya menudingnya jadi pria yang tidak bisa mimpin? Saya lebih sukanya pria yang mau share ke saya kalau lagi ada masalah dikantor. Bukan yang hanya merengut saja sepanjang malam dan saya sibuk bertanya ada apa sih? Kalau dia berkerut mukanya dan ternyata menyimpan masalah di kantor kan saya bisa juga meberi dia masukan. Alih-alih kalau dia diam saja bisa jadi saya berpikir dia ngambeg kepada saya misalnya? Runyam malah. Majalah mana tuh yang anda baca? Itu mungkin tips "flirting" kali. Jadi inti artikelnya sbetulnya "mengendalikan tetapi tidak teralu ketahuan" dengan cara yang seductive-menggoda? PS: Drama korea 30 jilid Pak maneke??? Fiuhhhhhhhh, daya tahan bapak hebuattttttttt! Aku yang perempuan saja males nonton drama seperti itu. [Laura] ----- Original Message ---- From: si_andi To: [email protected] Sent: Friday, March 9, 2007 10:20:32 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RELATIVITAS GENDER Saya masih bisa ngeyel, nih. Point saya begini: Secara naluriah perempuan itu mencari pasangan yang bisa memimpin. Berhubung "kepemimpinan" itu sesuatu yang abstrak, maka disaring sajalah dari ciri-ciri yang tampak dari luar: tinggi, pede, gaul, kalau nge-date tidak sebentar-sebentar nanya, "Yang, mau makan dimana?". Pengalaman Mbak Laura bilang, cowok yang tinggi, pede, gaul, dan bermobil ceper itu belum tentu baik dan bertanggungjawab. Benar seratus persen. Buktinya saya tidak gaul tapi baik dan bertanggung jawab hehehe...Tapi itu logikanya Mbak Laura yang bicara, mungkin berdasarkan pengalaman. Tapi tetap saja cewek-cewek itu lebih suka kalau pasangannya bisa menanggung beban berat yang bernama mengambil keputusan dan mengambil resiko (dan itulah tugas pemimpin kan?). Bukti? Mengapa di majalah wanita selalu ada topik yang bunyinya begini: bagaimana memberi tanda-tanda kalau Anda (a) tertarik dengan si Dia (b) sudah siap dilamar, atau (c) mau romantic dinner malam ini? Artinya, si cewek cuma kebagian tugas memberi tanda-tanda, tindakan diserahkan ke lelakinya. Tapi tindakan kan beresiko ditolak atau dikomplain? Urusan cowoknya dong. Andi
