Pak Haniwar dan Rekans, 

Pak Haniwar benar. 

Sejarah Gereja Katolik (Agama Katolik) mengalami jatuh bangun dan
masa-masa kelam. Terutama sejak dimulainya jaman pejabat Gereja
Katolik berselingkuh dengan politik yang boleh dikata dimulai di
Konstantinopel. Sejak itu, agama katolik mulai dipakai oleh para
penguasa politik/raja untuk mencari kekuasaan, melegitimasi perang dan
melanggengkan kekuasaan. Dan sebaliknya pejabat agama katolik juga
berusaha mendekatkan/melekatkan diri dengan kekuasaan untuk cari aman.

Sepanjang sejarah kekelaman Agama Katolik, silih berganti, uskup
mengangkat raja, raja mengangkat uskup. Menjadi imam dan uskup
merupakan jabatan negara, berubah status menjadi bangsawan. Juga
pernah terjadi, hanya keluarga bangsawan yg bisa jadi uskup. Perang
salib yang pak Haniwar katakan itu salah satu wujud efek dari
perselingkuhan antara pejabat agama Katolik dengan politik kekuasaan tadi.

Dalam perselingkuhan ini memang banyak sekali ayat Kitab suci
dijadikan sebagai alat/pelegitimasi dan bahkan pemacu semangat perang
dan pemburu kekuasaan. Salah satu contoh nyatanya adalah Perang Salib
itu. Oleh para raja Salib menjadi symbol kekuasaan, penaklukan
bangsa-bangsa lain, bahkan pemacu semangat untuk membunuh orang
lain.Dan para pejabat Gereja Katolik memberkati peperangan itu. Nama
Allah dijual untuk mengumbar nafsu kekuasaan. Sejarah yang sungguh kelam.

Di sisi lain, para filsuf dan teolog Kristiani yang setia pada imannya
terus berjuang melawan perselingkuhan itu. Mereka menyadari bahwa hal
itu salah. Segenap daya upaya dikerahkan untuk melepaskan diri dari
keterkaitan tak sehat dengan kekuasaan itu. Sampai akhirnya pada tahun
1965 Paus  memutuskan untuk mengadakan Konsili atau sidang untuk
membahas posisi yang benar agama Katolik dalam dunia.  Konsili itu
diadakan di Vatikan. Maka konsili itu disebut Konsili Vatikan.Banyak
dokumen pembaharuan posisi dan pernanan serta pemurnian iman Katolik
dihasilkan oleh konsili itu.

Salah satu point pokok dari Konsili ini adalah pemisahan Gereja
Katolik dari politik praktis kekuasaan. Para Pejabat Gereja dilarang
terlibat secara praktis dalam politik kekuasaan, partai, dll. Batas
antara agama dan nagara diperjelas. Fungsi agama sebatas memberi
terang iman pada pejabat negara. Namun agama tidak terlibat lagi dalam
politik praktis kenergaraan. Agama tidak melayani kekuasaan, namun
agama melayani manusia, dan terutama manusia yang lemah, miskin,
tersingkirkan dan terlantar. Sebab itulah yang dulu dilakukan Yesus.
Demikian secara resmi perselingkuhan itu diakhiri.

Sejak itu Gereja Katolik kembali ke sumber imannya, memfokuskan diri
pada pelayanan iman umat dan perwujudan inti iman itu, yaitu kasih
sebagaimana yang telah diteladankan oleh Yesus. Kasih itu diwujudkan
dalam pelayanan konkrit seperti pelayanan sosial pendidikan dan
perhatian pada orang-orang miskin dan terlantar. 

Mengakui kekeliruan para pejabat agama Katolik yang berselingkuh
dengan kekuasaan di masa lampau, mewakili Gereja Katolik, Paus Yohanes
Paulus II menyampaikan permintaan maaf pada dunia. Permintaam maaf ini
sebenarnya lebih berarti ke dalam agama Katolik sendiri, sebagai
bentuk sikap tobat. Sikap tobat ini menjadi landasan untuk tidak
mengulangi kesalahan masa lampau dan menata hidup yang baru sesuai
dengan  inti imannya. 

Beberapa "PR" Agama Katolik
Seperti yang dikatakan pak Haniwar, antara lain masih menjadi diskusi
dalam agama Katolik mengenai imam wanita.Hal ini masih bersifat
terbuka, artinya ke depan tidak tertutup kemungkinan seorang wanita
ditahbiskan menjadi imam. Arah ke sana sudah dimulai, ketika pintu
studi teologi tidak lagi menjadi monopoli pria. Sekarang sudah banyak
teolog wanita dalam agama Katolik. 
"PR" lain yg teramat penting dan mendesak adalah bagaimana mewujudkan
iman sehingga bisa menjadi penerang hidup umatnya, sehingga kehadiran
umatnya bisa menjadi orang-orang yang senantiasa mewujudkan cinta
kasih, sehingga orang lain merasakan dikasihi, dicintai, dilindungi,
damai dalam hidupnya karena kehadiran umat Katolik. Dengan demikian
ajaran kasih tidak lagi sebatas khotbah dimimbar atau kebanggaan umat
katolik, melainkan menjadi wujud kahadiran hidup umat katolik sendiri.
PR yang sangat besar.... 

Salam
Mulyadi

--- In [email protected], Haniwar Syarif
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  
> tapi sesungguhnya ayat keras itui bukan..cuma itu lho.. jaman
inkuisisi.. 
> jaman perang salib... masihh banyak membawa semangat yang kaya Mbak
berasal 
> dr perjanjian lama... dimana justru disitulah bertemu  ...persamaan
 asal 
> muasal islam dan kristen..persamaan latar budaya .
> 
> Sekarang sisa ersamaan masih ada.. lihat larangan mempersembahkan
misa dan 
> larangan jadi imam oleh perempuan... :)
> Ini kalau merujuk kesataraan gender.
> 
> Saya menagakui , utamanya sejak sesudah masa perang salib.. setelah
masa 
> berkahirnya kekuasaan para kardinal di pemerintahan.. 
> agama  katolik/kristen .. lebih menekankan pada ummartnya soal kasih
sayang 
> ini... dan cukup berhasillah.
> 
> Yang saya ingin tekankan... pada dasarnya... kalau Kristen bilang.. itu 
> ajaran lama.. yang baru nggakbegitu lagi..., maka sebenarnya posisi
sama.. 
> bhw ajaran damai sejenis.. pipi kiri pipi kanan  juga .. bisa kita
temui 
> dalam islam, dalam bentuk contoh yang saya berikan..
> 
> 
> Saya sendiri.. lebih suka ... untuk mengutip perintah Al Qur an.. ttg 
> fastabiqul qhoirot... berlomba lomba lah berbuat kebajikan... bukan 
> berlomba lomba saling membunuh.. atau saling menjelek 
> jelekkan..atau   hallain yg bukan termausk kebajikan..
> 
> jadi sebenarnya ummat Islam disuruh berlombas berbuat kebajikan...
ulangi 
> kebajikan... dengan ummat agama lain... dan itu lebih positip...
> 
> Mari berlomba berbuat baik..
> 
> semoga lebih banyak toleransi dan  saling pengertian..
> 
> 
> Salam
> 
> Haniwar
>


Kirim email ke