Kepada Rekan2 terhormat, Minta ijin urun rembuk, sebetulnya kita semua harusnya merasa bahagia, karena dewasa ini dengan kemudahan untuk membeli motor, Alhamdulilah masyarakat kelas bawah dapat menikmati berkendaraan, dan mobilitas kerja mereka menjadi makin tinggi, tentunya gairah kerjapun akan meningkat., dilain fihak Pemerintah juga sudah mengatur lalu lintas dengan Undang2, maupun peraturan2, termasuk tanda2 dan marka2 di jalan , termasuk juga para petugas Hukum untuk menjaga ketertiban yang diamanahakan oleh U.U dan PP tersebut. Sebetulnya semua sudah ada dan sudah lengkap, tapi apa.yang terjadi?
Yang memprihatinkan adalah tinggal : 1. Disiplin pengguna jalan raya. 2. Law Enforcement/penindakan terhadap pelanggaran.lalu lintas. Sehingga apa yang kita alami setiap hari adalah tindakan para pengemudi motor yang menurut saya sudah dapat di kategorikan tingkat :BRUTAL di jalanan, tidak boleh ada celah yang nganggur pasti diselonongi, masa bodoh bikin penyok kendaraan orang lain, bahkan maki2 abis nabrak!, rambu2 jalan trabas terus, padahal sebetulnya disiplin menggunakan jalan rayakan terpulang kepada masing2 individu pengendara Motor sendiri, seharusnya mereka itu sadar, bahwa dengan setengah mati mereka bekerja dan mencicil motor tersebut, bahkan mungkin biaya rumah tangga, sekolah anak dikorbankan, bahkan utang kiri kanan, tetapi MEREKA LUPA bahwa dengan hanya dengan satu senggolan, satu kecelakaan saja, biaya pengobatan dan rumah sakit yang timbul jaman sekarang sudah jutaan Rupiah??Lalu bagaimana bayarnya kalo sudah Geger Otak, tulang kaki atau iga patah, nggak punya duit paling2 mampu berobat ke dukun, ya kalau sembuh kalau tambah parah...bagaimana hari depan mereka kalau cacat, maka semua impian nikmatnya memiliki motor buyar sudah.....padahal cicilan jalan terus...Belum lagi kalau nyenggol Mobil yang harganya Milyard, dan ketangkep, dituntut ganti rugi oleh pemiliknya?...wahh ongkos pintu penyok udah puluhan juta?Dari Bapak, Ibu sampek anak bisa2 tinggal pakek kolor...ludes. . Dilain fihak Law Enforcement bertindak hanya kalau lagi pekan pembersihan perintah atasan, tanpa ada penindakan yaa jangan harap peraturan dipatuhi, katanya Negara Hukum? Mengapa jadi begini? Baik TNI maupun Polri itu gajinyakan dari pemerintah, dan gajinya relatif kecil dengan tugas yang penting, sedangkan gaji sekretaris di kantor2 saja jauh lebih besar dari para petugas polisi di jalan yang kalau betul2 menjalankan tugasnya tiap hari bisa apek kena polusi asap dan panasnya matahari, demikian pula Pemerintahkan untuk membiayai Polri dapet duitnya sebagian besar dari Pajak? Sedangkan kata Dit.Jen.Pajak, di Indonesia baru terjaring 3 juta pembayar pajak, yang lainya NPWP aja nggak punya, padahal rumahnya mewah2 dan Mobilnya segudang ....alhasil terjadi lingkaran setan, gaji yang dibawah standard bagi para petugas Polisi, menyebabkan gairah kerja mereka jelas turun, bahkan tidak kita pungkiri jalan raya menjadi lahan mencari tambahan hidup mereka, sampai2 bukan jalanan yang dijaga dan dikawal tapi Harley Club yang dikawal buat tambahan, apalagi jumlah personil mereka per penduduk memang masih perlu penambahan yang significant? ya terus saja tidak ada jawaban..... Melihat kedua masalah diatas apa yaa yang bisa kita perbuat? Misalnya (ini hanya misalnya lho) marilah kita bersama membuat semacam selebaran untuk mendekati dan mengetok hati para pengemudi motor dan di bagikan kepada mereka dijalanan ,atau poster2, atau tayangan2 di Mass Media/TV yang berisi: Hati2 berkendaraan motor khususnya, karena sekali anda kesenggol dan mendapat kecelakaan biaya rumah sakit dan pengobatan anda berjuta-juta rupiah mahalnya, jangan sampai gara2 kecelakaan tersebut, dapur dirumah anda tidak ngepul , anak tidak dapat sekolah, atau dililit utang yang berkepanjagan,bahkan mungkinanda cacat dan tidak bisa bekerja lagi, sayangilah badan anda sebagai pemberian Allah yang patut kita syukuri dan kita jaga. Ingatkan anak2mu ( yang suka kebut2an)yang kau belikan motor, betapa susah payahnya anda membanting tulang bekerja untuk mencicil motor anaknya, yang kalau kau wahai anaku masuk rumah sakit, bukan saja mahal biayanya, cicilan motor pun jadi tak terbayar dan motor disita. Berhati2lah berkendaraan, karena ketelodaran anda dapat menghancurkan hari depan keluarga anda dan anda sendiri. Sedangkan masalah kedua sebetulnya anggauta TNI itu senasib dengan Polri, sayangnya dengan pemisahan kedua instansi ini tentunya saat ini terjadi jurang pemisah antara keduanya, sehingga mungkin pemikiran saya sulit untuk diterima para pimpinan kedua belah fihak, sedangkan Polri saat ini yang anggautanya jumlahnya masih terbatas, terus menerus mendapat tugas pengamanan ke seluruh Nusantara, sehingga kalau dihitung masih memerlukan ribuan tambahan personil lagi, dilain fihak TNI, yang karena aturan baru, hanya boleh bergerak kalau ada ancaman dari luar, menyebabkan banyak idle capacity personil TNI yang hanya standby Asrama2 mereka. Sedangkan untuk mengcover disiplin lalu lintas maupun keamanan di setiap sudut kota Jakarta ini setiap hari 24 jam tentunya diperlukan tambahan ribuan personil lagi, jelas Pemerintah nggak ada duitnya, kalau adapun udah dikuras korupsi, apalagi sudah terbukti , Gubenur DKI ternyata nggak bisa menertibkan jalan raya,sebagai kebutuhan yang mendasar masyarakat DKI untuk bekerja dan lancarnya arus ekonomi, yah mendingan jangan dipilih lagi aja, Misalnya (ini hanya misalnya lho) kita hampir setiap hari pada jam berangkat kerja 0600 s/d 0900 atau jam pulang kerja 1600 s/d 1800 di prapatan TB.Simatupang menuju Cilandak, komandan Marinir di Cilandak kadang2 (sayangnya nggak setiap hari) memperbantukan beberapa petugas provost Marinir untuk mengatur lalu lintas di prapatan tersebut, dan ternyata sangat membantu ketertiban prapatan tersebut juga dari kegiatan Angkot, dan Kopaja yang sama brutalnya ngetem di tempat tersebut. Bagi kita pengguna jasa jalan yang pulang pergi melalui Prapatan tersebut hal ini sangat menyejukan perjalanan kita. Padahal Tentara berapa banyak di Jakarta, kalau saja ada kerja sama antara kedua instansi tersebut, mungkin dapat membantu kelancaran lalu lintas khususnya paling sedikit disekitar dimana Asrama2 TNI berada. (Padahal Sutiyoso kan Jendral, atur dong, udah banjir nggak nyanggup, lalu lintas juga nggak nyanggup, sedihhh rasanya!) Sebagai catatan : di jl.Warung buncit saja, tahun lalu kendaraan saya maupun kadang naik taxy, sudah terlanggar motor 6 kali dan kaca spion pecah, tahun ini baru juga 2 bulan, karena makin sempitnya jalan dengan adanya bus way, sudah 4 kali tersenggol.......wong lagi diem saja ditubruk? Lalu bagaimana nanti kalau jumlah motor di Jakarta yang diprediksi sebentar lagi mencapai 5 juta motor? Masih ditambah angkot2 dan Kopaja cs....yang merasa jalanan itu adalah warisan nenek moyangnya dia, jadi suka2 gua dong! Diluar negeri, jarang kita melihat Polisi di jalan, en toch semuanya berjalan lancar dan disiplin, hal itu memang memerlukan kematangan para pengguna jalan, dengan rambu2 hukuman tiga kali melanggar peraturan, SIM dicabut seumur hidup, dan perusahaan asuransi tidak akan mengasuransikan kendaraanya seumur hidup/blacklist. Disini SIM dicabut, besok sudah punya yang baru....kalah tukang sulap?. Kadang2 kita memang tengelam dalam sedih dan sebelnya melihat keadaan, tetapi apa yaaa jalan keluarnya....mungkin, satu kepala ..punyai satu idea....1000 kepala...kan punya 1000 idea, masak nggak ada satupun idea yang positif bisa kita laksanakan? Siapa tahu idea2 ngomong kosong kita jadi masukan bagi calon Gubenur DKI yang akan datang...Amin.. Wassalam Erlangga.s -----Original Message----- From: jn21 [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, March 14, 2007 12:31 AM To: [email protected] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pengendara Motor, Pelanggar Nomor Wahid Rekan Luka_igna, Saya kok punya pendapat lain. Menurut saya, pelanggar terbesar aturan dan rambu2 lalu lintas ya Polantas sendiri. Saya sering melihat pembiaran yang dilakukan Polantas terhadap pengemudi sepeda motor, bajaj& angkutan umum. Padahal disisi lain, begitu ada mobil pribadi yang melanggar sedikit saja, dengan sigap dan cepat sang Polantas menindak. Tanpa berburuk sangka pun orang sudah tahu, kenapa hal itu dilakukan Polantas? Kalau penegak hukum yang notabene lebih paham masalah hukum dan karenanya mempermainkan hukum itu sendiri, tinggal tunggu waktu saja untuk memetik buah2nya, yaitu kekacauan, anarkhi, dan pembangkangan publik. Saya kira no.1&2 sudah dan sedang kita hadapi, tinggal lihat saja, kapan yang no.3 terjadi, walaupun saya sangat miris dan tidak mengharapkan itu terjadi. Karena itu, wahai para bapak Polisi, tegakkan aturan dan hukum tanpa diskriminasi. Tindak pelanggar tanpa melihat siapa pelanggarnya. tabik, jonas
