Saya RASA pengendara RODA 4 JUGA termasuk BRUTAL.., saya perhatikan (bahkan
banyak mobil2 pribadi) dibeberapa jalan pengendara RODA 4 ini tidak berada
dalam JALUR, kadang ada celah yang kira2 KOSONG dan muat lebarnya mobil di
EMBAT juga.. Jangan2 SIM-nya NEMBAK tuh (mungkin karena banyak uang kali
makanya pada NEMBAK), terkadang MAIN KLAKSON padahal belom LAMPU HIJAU,
kalau lagi HUJAN dan ada GENANGAN banyak2 pengguna MOBIL ini tidak peduli
dengan sekitarnya (karena bukannya melambat digenangan AIR malah tambah
kencang sehingga CIPRATAN airnya mengenai orang atau motor di SEKITARnya). 

Maaf saya berkata demikian, karena sepertinya dari gaya tulisanya p'Erlangga
ini meremehkan orang2 yang membeli MOTOR... harusnya bisa lebih halus bukan
denga kalimat2 begitu. Karena kalau kita cari siapa yang salah, MOTOR,
MOBIL, dll itu sih tergantung orangnya, mudah2an p'ERLANGGA bukan salah
satunya. Saya pengendara MOTOR, setiap hari kekantor menggunakan ini, saya
membeli motor karena COST penggunaan motor lebih EFISIEN dan EFEKTIF (dari
Segi ONGKOS dan WAKTU) dibanding kendaraan UMUM.  Untuk MOBIL belum
MAMPU-lah saya membeli, apalagi kalau mengendari MOBIL baru, Jakarta TAMBAH
SEMPIT AJA (sekarang masih bergaya beli mobil yang ukuran besar2).

 

SALAM. 

Pengendara MOTOR...

 

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Erlangga
Suryadarma
Sent: 14 Maret 2007 15:46
To: [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pengendara Motor, Pelanggar Nomor Wahid

 

Kepada Rekan2 terhormat,

Minta ijin urun rembuk, sebetulnya kita semua harusnya merasa bahagia,
karena dewasa ini dengan kemudahan untuk membeli motor, Alhamdulilah
masyarakat kelas bawah dapat menikmati berkendaraan, dan mobilitas kerja
mereka menjadi makin tinggi, tentunya gairah kerjapun akan meningkat.,
dilain fihak Pemerintah juga sudah mengatur lalu lintas dengan Undang2,
maupun peraturan2, termasuk tanda2 dan marka2 di jalan , termasuk juga
para petugas Hukum untuk menjaga ketertiban yang diamanahakan oleh U.U
dan PP tersebut. Sebetulnya semua sudah ada dan sudah lengkap, tapi
apa.yang terjadi?

Yang memprihatinkan adalah tinggal :

1. Disiplin pengguna jalan raya. 
2. Law Enforcement/penindakan terhadap pelanggaran.lalu lintas.

Sehingga apa yang kita alami setiap hari adalah tindakan para pengemudi
motor yang menurut saya sudah dapat di kategorikan tingkat :BRUTAL di
jalanan, tidak boleh ada celah yang nganggur pasti diselonongi, masa
bodoh bikin penyok kendaraan orang lain, bahkan maki2 abis nabrak!,
rambu2 jalan trabas terus, padahal sebetulnya disiplin menggunakan jalan
rayakan terpulang kepada masing2 individu pengendara Motor sendiri,
seharusnya mereka itu sadar, bahwa dengan setengah mati mereka bekerja
dan mencicil motor tersebut, bahkan mungkin biaya rumah tangga, sekolah
anak dikorbankan, bahkan utang kiri kanan, tetapi MEREKA LUPA bahwa
dengan hanya dengan satu senggolan, satu kecelakaan saja, biaya
pengobatan dan rumah sakit yang timbul jaman sekarang sudah jutaan
Rupiah??Lalu bagaimana bayarnya kalo sudah Geger Otak, tulang kaki atau
iga patah, nggak punya duit paling2 mampu berobat ke dukun, ya kalau
sembuh kalau tambah parah...bagaimana hari depan mereka kalau cacat,
maka semua impian nikmatnya memiliki motor buyar sudah.....padahal
cicilan jalan terus...Belum lagi kalau nyenggol Mobil yang harganya
Milyard, dan ketangkep, dituntut ganti rugi oleh pemiliknya?...wahh
ongkos pintu penyok udah puluhan juta?Dari Bapak, Ibu sampek anak bisa2
tinggal pakek kolor...ludes.

.

Dilain fihak Law Enforcement bertindak hanya kalau lagi pekan
pembersihan perintah atasan, tanpa ada penindakan yaa jangan harap
peraturan dipatuhi, katanya Negara Hukum? Mengapa jadi begini? Baik TNI
maupun Polri itu gajinyakan dari pemerintah, dan gajinya relatif kecil
dengan tugas yang penting, sedangkan gaji sekretaris di kantor2 saja
jauh lebih besar dari para petugas polisi di jalan yang kalau betul2
menjalankan tugasnya tiap hari bisa apek kena polusi asap dan panasnya
matahari, demikian pula Pemerintahkan untuk membiayai Polri dapet
duitnya sebagian besar dari Pajak? Sedangkan kata Dit.Jen.Pajak, di
Indonesia baru terjaring 3 juta pembayar pajak, yang lainya NPWP aja
nggak punya, padahal rumahnya mewah2 dan Mobilnya segudang ....alhasil
terjadi lingkaran setan, gaji yang dibawah standard bagi para petugas
Polisi, menyebabkan gairah kerja mereka jelas turun, bahkan tidak kita
pungkiri jalan raya menjadi lahan mencari tambahan hidup mereka, sampai2
bukan jalanan yang dijaga dan dikawal tapi Harley Club yang dikawal buat
tambahan, apalagi jumlah personil mereka per penduduk memang masih perlu
penambahan yang significant? ya terus saja tidak ada jawaban.....

Melihat kedua masalah diatas apa yaa yang bisa kita perbuat?

Misalnya (ini hanya misalnya lho) marilah kita bersama membuat semacam
selebaran untuk mendekati dan mengetok hati para pengemudi motor dan di
bagikan kepada mereka dijalanan ,atau poster2, atau tayangan2 di Mass
Media/TV yang berisi:

Hati2 berkendaraan motor khususnya, karena sekali anda kesenggol dan
mendapat kecelakaan biaya rumah sakit dan pengobatan anda berjuta-juta
rupiah mahalnya, jangan sampai gara2 kecelakaan tersebut, dapur dirumah
anda tidak ngepul , anak tidak dapat sekolah, atau dililit utang yang
berkepanjagan,bahkan mungkinanda cacat dan tidak bisa bekerja lagi,
sayangilah badan anda sebagai pemberian Allah yang patut kita syukuri
dan kita jaga. Ingatkan anak2mu ( yang suka kebut2an)yang kau belikan
motor, betapa susah payahnya anda membanting tulang bekerja untuk
mencicil motor anaknya, yang kalau kau wahai anaku masuk rumah sakit,
bukan saja mahal biayanya, cicilan motor pun jadi tak terbayar dan motor
disita. Berhati2lah berkendaraan, karena ketelodaran anda dapat
menghancurkan hari depan keluarga anda dan anda sendiri.

Sedangkan masalah kedua sebetulnya anggauta TNI itu senasib dengan
Polri, sayangnya dengan pemisahan kedua instansi ini tentunya saat ini
terjadi jurang pemisah antara keduanya, sehingga mungkin pemikiran saya
sulit untuk diterima para pimpinan kedua belah fihak, sedangkan Polri
saat ini yang anggautanya jumlahnya masih terbatas, terus menerus
mendapat tugas pengamanan ke seluruh Nusantara, sehingga kalau dihitung
masih memerlukan ribuan tambahan personil lagi, dilain fihak TNI, yang
karena aturan baru, hanya boleh bergerak kalau ada ancaman dari luar,
menyebabkan banyak idle capacity personil TNI yang hanya standby
Asrama2 mereka.

Sedangkan untuk mengcover disiplin lalu lintas maupun keamanan di setiap
sudut kota Jakarta ini setiap hari 24 jam tentunya diperlukan tambahan
ribuan personil lagi, jelas Pemerintah nggak ada duitnya, kalau adapun
udah dikuras korupsi, apalagi sudah terbukti , Gubenur DKI ternyata
nggak bisa menertibkan jalan raya,sebagai kebutuhan yang mendasar
masyarakat DKI untuk bekerja dan lancarnya arus ekonomi, yah mendingan
jangan dipilih lagi aja, 

Misalnya (ini hanya misalnya lho) kita hampir setiap hari pada jam
berangkat kerja 0600 s/d 0900 atau jam pulang kerja 1600 s/d 1800 di
prapatan TB.Simatupang menuju Cilandak, komandan Marinir di Cilandak
kadang2 (sayangnya nggak setiap hari) memperbantukan beberapa petugas
provost Marinir untuk mengatur lalu lintas di prapatan tersebut, dan
ternyata sangat membantu ketertiban prapatan tersebut juga dari kegiatan
Angkot, dan Kopaja yang sama brutalnya ngetem di tempat tersebut. Bagi
kita pengguna jasa jalan yang pulang pergi melalui Prapatan tersebut hal
ini sangat menyejukan perjalanan kita. Padahal Tentara berapa banyak di
Jakarta, kalau saja ada kerja sama antara kedua instansi tersebut,
mungkin dapat membantu kelancaran lalu lintas khususnya paling sedikit
disekitar dimana Asrama2 TNI berada. (Padahal Sutiyoso kan Jendral, atur
dong, udah banjir nggak nyanggup, lalu lintas juga nggak nyanggup,
sedihhh rasanya!)

Sebagai catatan : di jl.Warung buncit saja, tahun lalu kendaraan saya
maupun kadang naik taxy, sudah terlanggar motor 6 kali dan kaca spion
pecah, tahun ini baru juga 2 bulan, karena makin sempitnya jalan dengan
adanya bus way, sudah 4 kali tersenggol.......wong lagi diem saja
ditubruk?

Lalu bagaimana nanti kalau jumlah motor di Jakarta yang diprediksi
sebentar lagi mencapai 5 juta motor? Masih ditambah angkot2 dan Kopaja
cs....yang merasa jalanan itu adalah warisan nenek moyangnya dia, jadi
suka2 gua dong! 

Diluar negeri, jarang kita melihat Polisi di jalan, en toch semuanya
berjalan lancar dan disiplin, hal itu memang memerlukan kematangan para
pengguna jalan, dengan rambu2 hukuman tiga kali melanggar peraturan, SIM
dicabut seumur hidup, dan perusahaan asuransi tidak akan mengasuransikan
kendaraanya seumur hidup/blacklist. Disini SIM dicabut, besok sudah
punya yang baru....kalah tukang sulap?.

Kadang2 kita memang tengelam dalam sedih dan sebelnya melihat keadaan,
tetapi apa yaaa jalan keluarnya....mungkin, satu kepala ..punyai satu
idea....1000 kepala...kan punya 1000 idea, masak nggak ada satupun idea
yang positif bisa kita laksanakan?

Siapa tahu idea2 ngomong kosong kita jadi masukan bagi calon Gubenur DKI
yang akan datang...Amin..

Wassalam

Erlangga.s

Kirim email ke