Dear Bapak Kartono dan rekan-rekan milis, 
Kalau konsisten sebagaimana dikatakan Kant yang dikutip Pak Kartono, mesti juga 
konsisten bahwa Tuhan memang berada dalam diri Hitler atau Polpot. Namun 
masalahnya, manusia juga memiliki kebebasan untuk ambil keputusan secara 
otonom, bahkan keputusan yang berlawanan dengan hakekat sang Pencipta yakni 
kehidupan. Artinya manusia dapat menggunakan kebebasannya demi kepentingan 
kelestarian hidup manusia, namun juga dapat menggunakan kebebasannya untuk 
menghancurkan kehidupan manusia.  Justru karena dalam kebebasan, manusia berhak 
untuk menentukan pilihannya, maka siapapun, termasuk Tuhan pun , tidak mampu 
campur tangan dan intervensi terhadap keputusan manusia yang otonom dari 
dirinya.  Tuhan tetap hadir dalam diri orang yang "jahat sekalipun", namun 
kebebasan yang dipercayakan kepada manusia, ternyata "disalahgunakan" demi 
kebebasan itu sendiri. Saya lalu bertanya-tanya, "Mengapa Tuhan seolah-olah 
membiarkan "kejahatan" tetap berlangsung di muka bumi ini? Begitukah tinggi
 penghargaan Tuhan atas kebebasan manusia?

Pertanyaan itu sekurang-kurangnya mendapat jawaban dari  tulisan Pak Kartono 
yang menawarkan sebuah refleksi atas tindakan moral manusia, "kalau Tuhan ada 
di dalam manusia", mengapa orang tidak malu berbuat amoral: korupsi, 
manipulasi, dst yang menghancurkan hidup sesama dan juga dirinya?"

salam hangat, 
bslametlasmunadipr

----- Original Message ----
From: Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, May 6, 2007 10:53:51 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan di Luar, Tuhan di Dalam

Mohon jangan disimak tulisan saya itu dari soal ideal atau tidak. Saya
hanya mengajak para pembaca untuk merenung. Kant juga membahasnya dari
segi filosofi. Ia beranggapan Tuhan bukan di luar kita tetapi dalam
diri kita. Ia yang menentukan hukum moralitas teryinggi yang
seharusnya diikuti. Artinga manusia diharap akan berbuat baik karena
menyadari bahwa hukum moral tertinggi ditentukan oleh Tuhan yang ada
dalam diri kita. Tidak semua orang setuju dengan pandangan Kant,
seperti yang saya sajikan dalam tulisan itu. Hitler adalah salah satu
orang yang tidak setuju dengan pandangan Kant pada umumnya (termasuk
Categorical Imperative-nya) .
Pol Pot? Mungkin ia beranggapan bahwa ialah tuhan sehingga boleh
membunuh siapa saja yang dianggapnya tidak sejalan dengan pendapatnya.
Baginya "darah orang yang berbeda pendapat dengannya adalah halal".
KM

-

Kirim email ke