Pak Budi Yth., Jujur saja Pak, setelah membaca komentar Bpk, saya tertawa geli..Jadi, perdebatan kita selama ini hanya karena saya "menyudutkan" Pak Amien Rais seorang? Waduhh...Saya hanya mengomentari Pak Amien karena kebetulan hanya Pak Amien yg bersikap "mengaku dosa" spt itu!
Bagi saya, mengagumi "pengakuan dosa" Pak Amien sama saja dengan mengapresiasi kasus yg berpotensi sbg tindak pidana korupsi (meskipun masih dalam kerangka asas praduga tak bersalah)... Sikap apresiasi atas kasus yg berpotensi sbg tindak pidana korupsi, berarti sama saja dengan tidak menghormati proses hukum yg sedang berjalan (baca: penyelidikan & penyidikan lebih lanjut).... Tulisan Pak Budiarto Shambazy (Kompas 22/5)juga seperti itu. Pak Shambazy menyatakan, "suka atau tidak, Pak Amien Rais paling tidak telah jujur mengaku salah.." Waduhhh, apresiatif sekali yah? Pernyataan Ketua MPR, Pak Hidayat Nurwahid, juga setali tiga uang dgn Pak Shambazy! Pak Nurwahid berharap agar Pak Amien Rais tidak dipenjara sehubungan dgn "pengakuan dosanya" itu..ALAMAAAKKK!! Itu pernyataan seorang petinggi lembaga legislatif kita lohhh!! Bayangkan, dari pernyataan itu, terbersit sikap tidak hormatnya atas proses hukum yg sedang berjalan...Etiskah kata-kata itu keluar dari mulut seorang Ketua MPR?! APA KATA DUNIA???!!!! Salam Anti Orang Baik Mengaku SALAH & berniat Jujur lalu disalahkan... [Kali ini cukup panjang yah salam saya?] :-) Patrick Hutapea --- In [email protected], budi satria <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > wah hebat permainan katanya: > Pak Amien berani atas ketidakjujurannya, ia jujur atas ketidakjujurannya. > > Ya, beginialah, kalau tidak obyektif, terus dipikirin dan dicari alasan untuk menyudutkan orang yg tidak disukai. > Orang baik mengaku salah berniat jujur disalahin, sementara orang baik yg tidak mengaku jujur tidak dikomentarin, maaf tapi anda tampaknya sensi. > "....jagalah hati jangan kau kotori......." > > > salam berantas korupsi-tegakkan demokrasi > salam tidak salah pilih pemimpin > salam jujur
