Mba Rini.. thx for your input. sy memang bukan pakar pendidikan.. jadi, berpikir non-linear utk masalah pendidikan memang diluar kepakaran sy. sy hanya bisa sampaikan bahwa masalah pendidikan adalah masalah yg perlu diselesaikan pula. bukan demi mengurangi kemacetan semata, tapi manfaat sampingan nya terhadap kelancaran lalu lintas ada..
Memang kebijakan 3-in-1 pun bukan solusi paling optimal.. makanya dikembangkan sistem ERP, yg lebih bebas kebocoran karena tidak bisa di-joki-kan. Mbak.. kalau mau bikin lapangan kerja... ga usah tanggung-2 3in1... sekalian aja 6in1 biar makin banyak 'Joki' yg diperlukan. inilah jebakan intuisi dalam mengupayakan solusi transprotasi.. ga nyambung kan? Makanya.. jangan pula mendewakan intuisi. Proporsional lah. 3in1 adalah kebijakan transprotasi.. bukan kebijakan pengangguran.. jangan gunakan kebijkaan transportasi utk masalah pengangguran.. salah obat nantinya.. Apakah 3in1 efektif?? silahkan bandingkan saja lewat sudirman jam 8 pagi dan jam 14-15. gunakan metode observasi yg saya sampaikan sebelumnya.. btw, dalam ilmu lalu lintas.. efektifitas tidak dinilai secara biner.. variable kinerja lalu lintas adalah speed, dan/atau waktu tempuh. salam, -K- 2008/12/21 Rini <[email protected]> > > > Memang yang penting > dalam suatu rencana adalah implementasinya. Kegagalan implementasi itu bisa > karena berbagai hal, antara lain factor dari luar dokumen rencana (misalnya > uang) atau masalah dalam rencana itu sendiri. Banyak rencana yang akhirnya > tidak aplikatif karena mengabaikan factor yang sangat penting, yaitu faktor > sosial. > Elemen utama suatu kota adalah manusia. Untuk itu rencana kota harus > bertujuan menciptakan > kota yang manusiawi. > > � > > Dari sini kita bisa > kembali kepada focus diskusi kita: kenapa DKI harus mengatasi masalah > kemacetan > dengan solusi yang paling sederhana: mengorbankan anak sekolah? Betul, bhw > dalam suatu pembangunan pasti ada yang harus dikorbankan. Tapi tetap harus > dipikirkan > bagaimana agar efek yg timbul seminimal mungkin. Itulah gunanya pemerintah > harus berpikir keras, tidak hanya mengorbankan pihak yang lemah, yg relatif > tidak punya posisi tawar. > > � > > Jika kita berpikir > jika melaksanakan suatu langkah A maka hasilnya pasti B, itulah yg > dinamakan > pola pikir linier. Meskipun untuk sampai pada keputusan menjalankan langkah > A > itu telah menggunakan multiple agent modeling misalnya. Karena itu > pembuatan > rencana tidak cukup hanya dng menggunakan analisis kuantitatif saja > (meskipun > itu sudah merupakan multiple variant analysis). Yang lebih penting adalah > dengan memadukannya dengan analisis kualitatif. Inilah kelemahan pendidikan > ahli perencanaan tata ruang kita, tidak mengajarkan analisis kualitatif > secara > mendalam. Dan di sinilah juga pentingnya intuisi dan kepekaan para pembuat > rencana, sehingga pada akhirnya mereka tidak bisa mendewakan teori. > > � > > Saya tidak menafikan > bahwa DKI tlh menerapkan bbrp langkah mencoba mengatasi kemacetan. Tapi > saya > sudah pernah membahas 1 lagi kelemahan rencana adalah tidak bisa > mengantisipasi > perkembangan. Rencana selalu kalah cepat dari perkembangannya riilnya. > Misalnya, > apakah anda pikir kebijakan 3 in 1 memberikan hasil seperti yang > diharapkan? Kenyataannya > yang bertambah banyak adalah joki-joki yg keberadaannya juga turut > memberikan > andil dlm kemacetan menjelang jalan protokol (meskipun saya pribadi > berpikir > ada baiknya juga 3 in 1 yg memberikan lapangan pekerjaan bagi rakyat tdk > mampu). > > � > > Rayonisasi sekolah > memang sebaiknya dilakukan. Tapi sebelum itu harus ada standar pendidikan > yg > merata dulu. Secara teori memang bisa dihitung, utk 1 kecamatan minimal ada > 1 > sekolah, misalnya. Tapi tetap saja ada yg harus dipertimbangkan, misalnya > apakah > orang tua setuju di situ setuju dng kurikulum di sekolah di rayonnya? Atau > apakah > orang tua mampu membayar uang pangkal yg diminta sekolah itu? Atau apakah > anak > mampu melampaui passing grade minimal untuk dapat diterima di sekolah itu? > Atau > apakah anak yg lebih pintar dari anak lainnya harus bergabung dng mereka > yang > berkemampuan rata-rata? FYI, ini salah 1 contoh berpikir non-linear. > > � > > Btw, saya menulis > panjang lebar ini hanya untuk menanggapi posting harya, tp saya lebih > senang > kalau kita bisa kembali ke diskusi awal kita. > > � > > -rini-
