Harya, saya juga
bukan pakar pendidikan. Yang saya angkat hanya pertanyaan logis yg bisa
diajukan siapapun, tidak perlu pakar pendidikan. Anda tidak dapat
mempertimbangkan aspek lain di luar yang menjadi keahlian anda,
transportasi.
Itulah yang saya maksud pola pikir linear itu.

 Ooh maksud anda 'multi-disiplin'…  Ok Mba Rini.. kalau yg anda maksudkan
dengan 'pola pikir linear'

Mungkin pola pikir yg anda harapkan adalah multi-disiplin.. tapi ga apa
lah.. tidak substansial. Sori, sy salah memahami definisi anda megnenai
'pola pikir linear'.

Tentunya sy akan lebih mudah memahami anda apabila anda menggunakan
definisi-2 yg baku.

Iya.. sy juga yakin anda bukan pakar pendidikan.. sori sy memang tidak bisa
menjawab pertanyaan-2 Logis itu.. mengenai sistem penerimaan siswa sekolah
dsb.. apabila ada pakar pendidikan, mohon pencerahan.

Lagi-lagi anda tidak
menangkap maksud saya. Soal lapangan pekerjaan itu adalah pemikiran saya
lebih
sebagai pribadi yg concern thd masalah sosial, tanpa disertai pertimbangan2
lain. Makanya saya menuliskannya di dalam tanda kurung. Saya hanya mencoba
melihat sisi baik di antara ketidakefektifan kebijakan tersebut, yang hanya
bisa memindahkan kemacetan. Anak SD juga tahu kalau kebijakan 3 in 1 tidak
akan
bisa mengatasi pengangguran.

 Joki 3in1 bukan sisi baik.. kita pun tidak tahu persis apakah uang hasil
nge-joki dipakai utk hal-2 yg produktif.


Sebetulnya untuk
melihat keberhasilan program yang sudah dijalankan tidak susah, apakah
kemacetan berkurang saat ini? Tidak, karena semakin hari waktu tempuh dari
satu
titik ke titik lain semakin lama. Artinya, program yang sudah dijalankan
tidak
efisien. Kalau anda punya data yang menunjukkan kemacetan berkurang ya
monggo,
dibeberkan di sini.

 Mba Rini, yg sy usulkan ke anda adalah solusi pribadi… anda lakukan saja..
dan ukur utk pribadi anda sendiri. Memang betul, waktu tempuh rata-2
meningkat. Tapi ruas-2 tertentu tidak, dan pada jam-2 tertentu tidak.

Lagi-lagi anda salah
saat menganggap saya mendewakan intuisi. Kalau anda menangkap kalimat saya
sebelumnya, maksud saya adalah teori saja tidak cukup dalam membuat
perencanaan, tapi harus disertai intuisi dan kepekaan. Apakah ini berarti
saya
mendewakan intuisi? Coba resapi lagi kalimat saya. Dan jangan lupa saya
menuliskan itu sebagai counter atas kata-kata anda kepada Pak Manneke agar
beliau membaca literature transportasi dulu sebelum berkomentar.

 Ya.. betul, karena persoalannya adalah transportasi, maka tidak ada
salahnya memperkaya pandangan dengan literature.. Kalau ada yg cuma modal
intuisi.. silahkan.. tapi ga akan produktif.

Kalau saya juga
bilang analisis kualitatif penting dalam perencanaan, itu bukan berarti saya
mendewakan intuisi lo. Analisis kualitatif adalah analisis, bukan intuisi.

 Ok.. lantas bagaimana analisis kualitatif tsb dapat membantu menyelesaikan
masalah ini? Yg kita perlukan bukan hanya penjelasan.. tapi juga solusi.
Kalau anda punya solusi lain hasil analisis kualitatif anda yg lebih
efektif, silahkan beberkan. Mohon pencerahan bagaimana analisis kualitatif
dapat menelurkan kebijakan untuk menyelesaikan masalaah.



Kalau kita kembali ke
inti masalah: mengatasi kemacetan dengan cara memajukan jam masuk anak
sekolah,
maka ada beberapa pertanyaan. Pertama, apakah pemerintah DKI sudah
menerapkan kebijakan
yang terintegrasi untuk mengatasi kemacetan selain kebijakan ini, dan apakah
rencana distribusi pola aktivitas hanya 1 bagian kecil dari kebijakan itu?
Kita
sudah bahas panjang lebar untuk yang ini, jadi okelah, saya asumsikan memang
dki punya kebijakan yg terintegrasi, jadi distribusi pola aktivitas bukan
kebijakan parsial.
Dari situ berangkat
ke pertanyaan kedua, apakah memang distribusi pola aktivitas bisa diterapkan
di
Jakarta? Secara teori memang distribusi pola aktivitas merupakan salah satu
upaya memerangi kemacetan. Dari awal saya tidak membantah ini. Tapi
pertanyaannya,
bisakah konsep itu diterapkan di Jakarta? Kalau anda punya argument didukung
data, silakan beberkan.

 Bisa Mba Rini.. Jakarta tidak sendirian berupaya melawan kemacetan.  Dan
inilah gunanya simulasi dan uji coba.

Data lebih lengkapnya bisa rujuk ke liputan suara pembaruan. Sy sendiri
membaca salin-lunak hasil kajian konsultan, dan sy sampaikan bahwa memang
bisa diterapkan, namun kalau dikatakan mengurangi kemacetan sampai 16%..
terus terang sy nilai ini overestimate.



Jika kita asumsikan
bahwa teori itu bisa diterapkan di Jakarta, pertanyaan terakhir adalah:
kenapa
harus anak sekolah yg dimajukan jam masuknya? Ini yang tidak pernah anda
jawab.
Tapi akhirnya saya mendapatkan jawabannya dari acara jejak kasus di
indosiar.
Dalam acara itu wagub dki, prijanto, menjelaskan kenapa yang dimajukan
adalah
jam masuk anak sekolah, bukan pns atau pegawai swasta. Dia bilang kalau pns
itu
kantornya tersebar (memangnya sekolah tidak?) dan rumahnya jauh2, bahkan ada
dr
mereka yang berangkat sebelum subuh (dia tidak menjelaskan berapa banyak
yang
sudah harus berangkat sebelum subuh, dan itu subuhnya deket ke jam 4 atau
jam 5, dan apakah anak sekolah tidak ada yang
berangkat sepagi itu, dan jam berapa guru harus berangkat dari rumahnya yg
kemungkinan juga jauh agar bisa sampai di sekolah ½ jam sebelum jam masuk).
Pegawai
swasta sendiri diatur dengan penyebaran jam masuk menurut wilayah. Di sini
saya
tidak tahu apakah dia sudah membuat mapping pola pergerakan pegawai swasta.
Dari sini terlihat
betapa sempitnya pemikiran wagub dki. pada akhirnya memang terlihat bahwa yg
dikorbankan adalah mereka yang posisi tawarnya lemah. Apakah dia tahu, jam
berapa anak sekolah
harus berangkat dari rumah spy bisa sampai sekolah jam 7, apalagi jam 6.30?
sebagai
gambaran, anak teman saya tiap hari paling telat berangkat jam 5.30 spy bisa
sampai sekolah jam 7. Itu sekolah dan rumahnya masih di wilayah yang sama,
dan
diantar oleh sopir. Bagaimana yang sekolahnya lebih jauh dan harus naik
kendaraan umum?

 Bukan hanya sempit.. tapi juga menunjukkan betapa lemahnya kehumasan di
DKI. Mungkin juga karena pak WaGub malas utk merubah jam masuknya DKI
sendiri.. Ini jelas tidak akan mampu meraih simpati masyarakat. Di Jakarta,
PNS kan banyak macam.. PNS Departemen Pusat ya tergantung Mentri-nya
masing-2. DepHanKam& juga MabesAD di kawasan MoNas masuk jam 7 pagi sudah
jauuh sebelum ada kebijakan apapun dari DKI. Begitujuga, beberapa perusahaan
sudah menerapkan flexi-time.. tujuannya dari Departemen HanKam & perusahaan
swasta tentu bukan utk membantu DKI mengurangi kemacetan.. tapi
menyelamatkan karyawannya dari kemacetan.

Jam masuk dunia usaha pada umumnya merujuk pada jam transaksi perbankan dan
ini ujungnya adalah kebijakan BI. Perusahaan bidang lain (advertising
misalnya), mungkin malah kerja dari rumah, masuk 3 kali seminggu, jam
10-15.. dsb… Jam kerja wartawan juga tidak 'konvensional'.

Harusnya WaGub menjawab, bahwa yg lain bukan tidak dilakukan.. Dunia usaha
perlu di-edukasi; bagaimana caranya mengatur waktu masuk kerja. Bahkan
perusahaan-2 swasta asing yg sy ketahui melakukan itu untuk menghemat ruang
kerja yg dibutuhkan (work-station).

Jadi, pernyataan WaGub tidak hanya sempit.. tapi juga tidak akurat. Kalau
masih dalam kewenangannya, seharusnya jam kerja nya PNS-DKI juga turut
disesuaikan.

Mba Rini, mohon diperjelas kasus teman anak anda tersebut… apa benar
berangkat 5.30 dan baru tiba di sekolah 7.00 (waktu tempuh 90 menit?) dan
dalam wilayah yg sama? Yg anda maksud wilayah yg sama itu apa? Dalam 1
kecamatan yg sama? Atau sama-2 dalam wilayah Jabodetabek?

Mohon lebih spesifik.. kalau kata pak Manneke, jangan di-irit-irit
informasinya.. kalau kata saya: supaya gugatan anda lebih substansial dan
bertanggung jawab.



Jadi, harya, setelah
diskusi berputar-putar kemana-mana, anda masih tidak juga menjawab
pertanyaan
diskusi ini. Tapi tidak apa-apa, Karena sudah dijawab oleh prijanto
sendiri..

Mungkin pemahaman anda saja yg kurang baik; sy sampaikan bahwa untuk merubah
jam masuk sekolah memang butuh intervensi pemerintah daerah… sedangkan kalau
jam masuk perusahaan swasta tidak..

Dan, belum tentu anak sekolah dikorbankan.. karena kalau mereka berangkat
lebih pagi, bisa saving waktu tempuh..

Selanjutnya, seharusnya jam masuk PNS DKI juga disesuaikan. Perusahaan
swasta yg mau menerapkan perubahan jam masuk, juga tidak perlu tunggu
komando.

Salam,

-K-





rini


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan 
http://kompas.com/
3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota
4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]
5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke